![]() |
Karya: Teuku Husaini
Di panggung-panggung kayu yang mereka dirikan dari keringat rakyat yang kelaparan,
mereka berteriak tentang keadilan sambil tangannya menandatangani kontrak pengkhianatan,
bibirnya fasih melafalkan ayat-ayat suci tentang amanah di depan kamera wartawan,
tapi di ruang-ruang gelap ber-AC yang dinginnya mengalahkan nurani,
mereka bagi-bagi kursi kekuasaan seperti membagi rampasan perang tanpa sisa untuk yang berperang.
Mereka datang ke gubuk-gubuk reyot saat musim memilih tiba, memeluk anak petani dengan baju yang sengaja dikucelkan kemarin sore,
berjanji membangun sekolah di atas tanah yang besoknya mereka jual pada pemodal berdasi dari kota,
lalu pulang naik mobil mewah yang cicilannya dibayar dari pajak janda-janda yang dipaksa diam,
sementara papan tulis di desa itu masih menunggu kapur, dan perut guru honorer masih menunggu janji.
Wahai kau yang wajahnya dua, satu untuk rakyat dan satu untuk penguasa,
berapa lama lagi topengmu sanggup menahan retak dari air mata ibu-ibu yang anaknya putus sekolah,
berapa banyak lagi khutbahmu tentang moral yang harus kami dengar sambil kami lihat anakmu kuliah di luar negeri dari uang yang kau sebut “hibah”,
kalau benar surgamu ada di ujung lidahmu, kenapa neraka justru kau bangun di setiap desa yang kau kunjungi?
Aku muak melihatmu bersujud di sajadah yang kau gelar di atas penderitaan,
muak mendengar namamu disebut pahlawan oleh corong-corong yang kau beli dengan perut mereka sendiri,
sebab munafik bukan hanya mereka yang shalat lalu mencuri,
tapi juga mereka yang menangis di podium lalu tertawa di ruang rapat anggaran.
Maka biarlah puisi ini jadi cermin, bukan untukmu bercermin merapikan dasi,
tapi agar rakyat tahu: wajah yang paling berbahaya adalah wajah yang paling pandai berjanji.

