![]() |
Pagi itu, seperti biasa, Omjay—Dr. Wijaya Kusumah—sudah duduk di depan laptopnya. Secangkir kopi hangat menemani, sementara jari-jarinya mulai menari di atas keyboard. Jadwalnya hari itu padat: mengajar, membimbing guru, menulis artikel, hingga menghadiri undangan webinar. Sekilas, hidupnya tampak produktif, penuh prestasi, dan menginspirasi banyak orang.
Namun, di balik semua kesibukan itu, ada satu hal yang terus ia jaga dengan penuh kesadaran: niat.
Awal yang Lurus
Omjay sering mengenang masa awal ia menulis. Dulu, ia menulis bukan untuk terkenal, bukan untuk viral, apalagi untuk mendapatkan penghargaan. Ia menulis karena ingin berbagi. Ia ingin ilmunya bermanfaat, ingin pengalamannya menjadi pelajaran bagi orang lain.
Saat itu, tulisannya sederhana. Pembacanya pun tidak banyak. Bahkan, sering kali tidak ada komentar sama sekali. Tapi hatinya justru terasa ringan. Ia tidak terbebani ekspektasi. Ia hanya fokus pada satu hal: menulis karena Allah.
Namun waktu berjalan. Tulisan-tulisannya mulai dikenal. Banyak yang membagikan. Namanya sering disebut. Undangan datang dari berbagai tempat. Ia mulai merasakan manisnya apresiasi.
Di sinilah ujian sebenarnya dimulai.
Saat Niat Mulai Bergeser
Suatu hari, Omjay menyadari ada yang berbeda dalam dirinya. Ia mulai merasa kecewa ketika tulisannya sepi pembaca. Ia mulai bertanya-tanya, “Kenapa artikel ini tidak viral?” atau “Mengapa tulisan saya tidak banyak dikomentari?”
Padahal dulu, ia tidak pernah memikirkan itu.
Ia juga mulai lebih lama memilih judul—bukan hanya agar menarik, tapi agar banyak diklik. Ia mulai mengejar angka: jumlah pembaca, jumlah like, jumlah share.
Hingga suatu malam, ia berhenti sejenak.
Ia menatap layar laptopnya yang masih terbuka. Artikel yang ia tulis belum selesai. Tapi bukan itu yang membuatnya gelisah. Hatinya terasa penuh, seolah ada sesuatu yang perlu diluruskan.
Dalam diam, ia bertanya pada dirinya sendiri:
“Saya menulis ini untuk siapa?”
Pertanyaan sederhana itu seperti mengetuk keras pintu hatinya.
Momen Refleksi yang Mengubah
Malam itu menjadi titik balik bagi Omjay. Ia teringat sabda Rasulullah ï·º: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”
Kalimat itu begitu dalam. Ia menyadari, betapa mudahnya niat berubah tanpa disadari. Kesibukan, pencapaian, dan apresiasi manusia bisa perlahan menggeser tujuan awal yang lurus.
Omjay pun mengambil wudhu. Ia shalat dua rakaat. Dalam sujudnya, ia memohon agar hatinya kembali diluruskan. Ia tidak ingin semua yang telah ia lakukan menjadi sia-sia hanya karena niat yang keliru.
Sejak saat itu, ia mulai membiasakan satu hal sederhana namun bermakna besar: mengecek niat sebelum memulai aktivitas.
Sebelum menulis, ia bertanya dalam hati: “Apakah ini untuk berbagi manfaat atau sekadar mencari pengakuan?”
Sebelum mengajar, ia bertanya: “Apakah ini untuk mendidik dengan ikhlas atau hanya menjalankan kewajiban?”
Sebelum menerima undangan, ia bertanya: “Apakah ini jalan untuk kebaikan atau hanya mengejar popularitas?”
Menjaga Niat di Tengah Kesibukan
Sebagai seorang guru, penulis, dan narasumber, kesibukan Omjay tidak pernah berkurang. Bahkan semakin hari, semakin banyak tanggung jawab yang ia emban. Tapi kini, ia memiliki kompas yang selalu ia pegang: niat yang lurus.
Ia sadar, menjaga niat bukan pekerjaan sekali jadi. Ia adalah proses seumur hidup. Hati manusia mudah berubah. Hari ini ikhlas, besok bisa saja tergelincir.
Karena itu, Omjay tidak pernah merasa aman. Ia terus belajar merendahkan diri. Ia tidak lagi terlalu larut dalam pujian, dan tidak terlalu hancur oleh kritik.
Ia mulai menikmati proses, bukan hanya hasil. Ia merasa lebih tenang, karena yang ia cari bukan lagi penilaian manusia, melainkan ridha Allah.
Pelajaran untuk Kita Semua
Kisah Omjay adalah cermin bagi kita. Di era yang serba cepat ini, kita sering sibuk mengejar banyak hal: target, pencapaian, pengakuan, bahkan popularitas. Tanpa disadari, kita lupa bertanya:
“Ini semua untuk siapa?”
Padahal, nilai sebuah amal tidak hanya dilihat dari besar atau kecilnya, tetapi dari niat yang melatarbelakanginya.
Mengajar bisa menjadi ibadah, jika niatnya karena Allah.
Menulis bisa menjadi ladang pahala, jika tujuannya untuk berbagi manfaat.
Bahkan pekerjaan sederhana pun bisa bernilai besar, jika dilakukan dengan niat yang benar.
Sebaliknya, amal yang tampak besar bisa menjadi kosong jika niatnya hanya untuk dunia.
Menutup dengan Renungan
Di tengah kesibukan yang tak pernah berhenti, mari kita belajar dari Omjay. Luangkan waktu sejenak setiap hari untuk mengecek hati kita.
Tidak perlu lama. Cukup beberapa detik untuk bertanya: “Apakah yang saya lakukan ini sudah karena Allah?”
Karena pada akhirnya, bukan banyaknya aktivitas yang akan menyelamatkan kita, tetapi keikhlasan di dalamnya.
Saat niat terjaga, lelah terasa ringan. Saat niat lurus, langkah terasa bermakna. Dan saat niat benar, setiap amal—sekecil apa pun—akan bernilai besar di hadapan-Nya.
Tetaplah sibuk, tapi jangan lupa menjaga niat.
Sebab di sanalah letak keberkahan hidup yang sesungguhnya.
Barakallah fiikum.
Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger indonesia
Blog https:///wijayalabs.com

