Type Here to Get Search Results !

Mengenang Pasangan Menyanyi Duet

oleh ReO Fiksiwan

“Kenangan, mimpi, dan renungan bukanlah catatan peristiwa, melainkan kisah sebuah jiwa.” — Carl Gustav Jung(1875-1961), Memories, Dreams, Reflections(1962).

Luwuk 1975.

Di kota ini, masa remaja SMA saya dijalani dengan penuh kenangan: asmara monyet, membentuk vokal group, ikut lomba nyanyi single maupun duet hingga pulang ke Manado dengan empat kali patah hati.

Pertama, kasih tak sampai dengan inisial MD. Sudah terasa mengapung cintanya, lantas jatuh berkeping. Karena, tak satu katapun bisa keluar untuk mengucapkan isi hati. 

Padahal, malam itu, di ruang tamu rumahnya di kompleks pasar tua, tinggal kami berdua dengan sayup-sayup ombak di belakangnya.

Kedua, ini relasi cinta dengan modus pakai mak comblang alias perantara(mendiang BP) — catat karna tak “pede” — Inisialnya MH. 

Setelah bolos mata pelajaran hitung dagang, Pak Guru Lasompo — dijemput RS King milik BP — di kantin sebelah sekolah yang penuh pohon lamtoro kamu bersua.

Cinta bersama MH — jika ingin kalian bayangkan wajahnya menyerupai artis Hongkong populer saat itu: Chen Chen(77?) — hanya berbilang jam. 

Setelah malam sebelumnya, kami pacaran dari rumahnya menuju kompleks SD dekat gereja dan kompleks Lembaga Pemasyarakatan, esoknya ia melihat saya di atas mobil kanvas milik putri Bupati. Inisial YS.

Meski YS, jadi pacar saya yang didekler di rumah teman, inisial AU, ini juga mak comblang dadakan, usia cinta itu cukup semalam. Karna paginya, YS diboyong Papanya ke Surabaya.

Terakhir, paling tragis. Inisial DS. Putri sulung Kepala PT. Pelni di Luwuk, yang liburan dari Jakarta.

Kisah cinta kami, mirip tragedi di film Titanic, antara Jack(Leonardo De Caprio) dan Rose(Kate Winslett), meski hanya semalam.

Di atas kapal Leko yang masih berlabuh, drama cinta semalam itu, hanya bisa dikenang lewat lagu Vaya Condios dan I dont like to Sleep Alone. Lagu kesayangan DS, kini ia sudah wafat empat tahun silam di Jakarta.

Dan hari ini, 18 April 2026, dari WAG Alumni Smandu Luwuk Angkatan 1975-1980, terhentak kabar, karib masa SMA itu, berpulang. 

Dengan penuh sedih dan kenangan tragis cinta saya yang diumbar sebelumnya, obituari ini ditulis dengan rasa kehilangan yang mendalam, mengenang Eva Mang, teman duet saya di pasar malam Kota Air Luwuk.

Persahabatan kami berawal dari masa SMA, persis seperti kisah remaja dalam novel Gita Cinta dari SMA karya Eddy D. Iskandar, penuh dengan canda, tawa, dan mimpi yang sederhana para remaja. 

Eva adalah putri seorang pejabat Kabupaten Banggai, sosok yang ramah, hangat, dan selalu membawa semangat di setiap pertemuan. Kakaknya, Della Mang.

Ketika ayah saya memboyong keluarga ke Luwuk pada tahun 1972 untuk mengurus perusahaan pelayaran PT. Gapsu(Gabungan Pelayaran Sulawesi Utara), saya menjadi siswa pindahan — dari SMA Negeri 2, Jl, Siswa Manado — ke SMA Negeri No.222 Luwuk. 

Di sanalah saya bertemu Eva, sekelas di jurusan IPS, dan sejak itu kami sering menghabiskan akhir pekan bersama di pasar malam. 

Kami menonton pertunjukan pelawak Ember Bocor dari Makassar, menyaksikan film di bioskop Nusantara, dan menikmati dentuman musik dari Polres Band maupun The Eds. 

Semua itu menjadi latar persahabatan yang tak tergantikan, selain prolog sejarah cinta tak sepenuhnya monyet tentunya.

Kenangan paling indah adalah ketika kami berdua memberanikan diri ikut lomba menyanyi duet sekitar tahun 1975. 

Saat itu duet Muchsin dan Titik Sandhora sedang populer, dan kami memilih membawakan lagu hits mereka “Hatiku Hatimu” yang versi Inggrisnya dikenal sebagai “Somewhere Between.” 

Meski tak meraih juara, pengalaman itu menjadi momen berharga yang meneguhkan ikatan kami. 

Saya sendiri sempat meraih juara dua lomba solo dengan lagu Koes Plus, Cinta Mulia. 

Sementara, Eva tetap tersenyum bangga, seolah kemenangan saya adalah kemenangan kami berdua.

Kini, ketika Eva telah tiada, kenangan itu kembali hadir dengan getir. 

Pasar malam, bioskop Nusantara, dan panggung kecil di Kota Air Luwuk seakan menjadi saksi bisu atas persahabatan kami. 

Eva bukan hanya teman duet, tetapi juga sahabat yang mengajarkan arti kebersamaan, keberanian, dan ketulusan. 

Obituari ini adalah doa sekaligus penghormatan, agar suara indahnya tetap bergema di hati mereka yang pernah mengenalnya. 

Dalam ingatan saya, Eva Mang akan selalu menjadi gadis SMA yang tersenyum di bawah lampu pasar malam, menyanyikan “Hatiku Hatimu” dengan penuh cinta.

Dan terutama, kecuali mendiang DS alias Evi, MD,MH dan YS, moga kalian sehat bahagia selalu bersama anak-anak dan keluarga.

#coverlagu:

Lagu “Hatimu Hatiku” yang dibawakan pasangan Titiek Sandhora(73) dan Muchsin Alatas(82) dirilis ulang dalam kompilasi Ultimate Collection sekitar tahun 2002–2005 oleh label Bravo Records/DPM.

#credit foto diunggahkan dari laman facebook, almarhumah Eva Mang. Insyaallah husnul khotimah. Alfatiha🤲🏼🥲

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.