![]() |
oleh ReO Fiksiwan
“Islam harus tampil sebagai kekuatan revolusioner dalam pemikiran, bukan sekadar mempertahankan tradisi, tetapi berani melakukan pembaruan untuk menjawab tantangan zaman.” — Hasan Sho’ub dalam Islam dan Revolusi Pemikiran (1977)
Iran telah lama menjadi arena di mana agama dan politik bertemu untuk membentuk arah sejarah.
Menurut Hamid Dabashi(74), profesor Studi Iran dan Sastra Perbandingan di Columbia University, New York, dalam Theology of Discontent: The Ideological Foundation of the Islamic Revolution in Iran(1993) mengulas bahwa Revolusi Islam 1979 lahir dari proses panjang akumulasi ketidakpuasan teologis, yang berakar sejak Revolusi Konstitusional 1906.
Ketidakpuasan ini muncul dari benturan antara modernitas Barat dan tradisi Islam, lalu berkembang menjadi bahasa politik yang mampu mengartikulasikan penderitaan sosial sekaligus aspirasi otentisitas budaya.
Tokoh seperti Jalal Al-e Ahmad dan Ali Shariati menjadi simbol perlawanan intelektual yang menolak imitasi Barat dan menawarkan Islam sebagai kerangka pembebasan.
Dengan demikian, teologi revolusi bukanlah sekadar peristiwa religius, melainkan ekspresi politik dari pencarian otentisitas dan keadilan.
Lebih lanjut, Dabashi menulis bahwa semua ideologi adalah “terrible simplifiers”(penyederhana yang mengerikan), namun tetap diperlukan karena manusia memiliki kebutuhan berulang untuk menemukan makna di antara spektrum ideologi dan utopia.
Hal ini mencerminkan pandangannya bahwa teologi ketidakpuasan bukan sekadar dogma, melainkan sarana untuk menghubungkan pengalaman historis rakyat Iran dengan visi perubahan radikal.
Ia menekankan bahwa Revolusi Islam 1979 adalah hasil dari proses panjang pembentukan wacana ideologis, di mana Islam berfungsi sebagai bahasa perlawanan terhadap kolonialisme, sekularisme, dan dominasi Barat.
Hakikat teologi ketidakpuasan menurut Dabashi adalah bahwa ia menjadi “bahasa penderitaan” yang mampu menyatukan berbagai lapisan masyarakat Iran sejak menentang monarki Pahlavi.
Dengan demikian, kemenangan teologi revolusi Islam Iran dapat dipahami sebagai kemenangan teologi politik.
Kemenangan itu, di mana agama berfungsi bukan hanya sebagai keyakinan spiritual, tetapi sebagai kekuatan historis yang nyata sekaligus mengartikulasikan penderitaan yang mengekspresikan otentisitas budaya dan kedaulatan politik.
Ringkasnya, Dabashi hendak menandaskan bahwa ideologi Islam dalam teologi Revolusi Islam Iran adalah bentuk “teologi ketidakpuasan” yang mengubah ketidakpuasan sosial menjadi energi politik, dan kemenangan teologi revolusi Islam adalah bukti bahwa teologi politik mampu mengubah jalannya sejarah.
Dalam konteks kontemporer — ketika sedang gencar berperang melawan Iran — Donald Trump dengan agak frustrasi mendadak mengajukan gencatan senjata dua minggu dan menerima sepuluh syarat usulan Iran, bagi Iran tentunya, peristiwa ini dapat dibaca sebagai kemenangan teologi revolusi politik.
Juga, bukan hanya kemenangan diplomasi pragmatis, melainkan manifestasi dari posisi ideologis yang telah lama dibangun: bahwa Iran tegak dan teguh berdiri sebagai subjek politik mandiri yang menantang hegemoni global.
Gencatan senjata ini menunjukkan bahwa bahasa teologi politik yang lahir dari teologi revolusi Islam Iran masih relevan.
Bahkan mampu mengubah relasi kekuasaan internasional dan dengan menegaskan kembali otoritas Iran sebagai aktor yang tidak tunduk pada narasi Barat.
Dalam kerangka “teologi ketidakpuasan” Dabashi, hal ini menunjukkan bukti bahwa teologi ketidakpuasan tetap menjadi energi sosial yang efektif dalam mengartikulasikan perlawanan.
Dengan demikian, refleksi kemenangan teologi revolusi ini semakin kaya bila dibandingkan dengan pemikiran Dr. Hasan Sho'ub dalam Islam dan Revolusi Pemikiran: Dialog Kreatif Ketuhanan dan Kemanusiaan(Cetakan Pertama 1981).
Sho'ub, seorang pemikir Islam, menegaskan bahwa revolusi Islam bukan hanya peristiwa politik, tetapi juga revolusi epistemologis yang mengubah cara umat Islam memahami dunia dan diri mereka sendiri secara mutakhir.
Ia melihat teologi revolusi sebagai upaya membebaskan akal dari dominasi kolonial dan sekularisme, serta mengembalikan Islam sebagai sumber daya intelektual dan spiritual yang hidup.
Dengan demikian, kemenangan teologi revolusi Islam Iran dalam arena politik internasional dapat dipahami sebagai kelanjutan dari revolusi pemikiran yang menolak subordinasi dan menegaskan kedaulatan teologis.
Kemenangan teologi politik Iran, baik dalam revolusi maupun diplomasi, menunjukkan bahwa agama bukan sekadar dimensi privat, melainkan kekuatan publik yang mampu mengartikulasikan perlawanan, membentuk identitas kolektif, dan menegosiasikan posisi dalam tatanan global.
Dabashi dan Sho'ub sama-sama menegaskan bahwa teologi politik adalah bahasa perlawanan yang lahir dari sejarah penderitaan, namun sekaligus menjadi visi masa depan yang menuntut keadilan dan otentisitas.
Iran, dengan segala kompleksitasnya, telah membuktikan bahwa teologi revolusi politik dunia Islam bukan hanya wacana, melainkan realitas yang mampu mengubah jalannya sejarah.
Dan itu masih terbukti hari ini. Setelah gencatan senjata dan 10 syarat tuntutan Iran.
Après nous, le déluge”, ujar pepatah revolusi Perancis 1789.
#coversongs:
Lagu terkenalnya “Iran Iran” dari Reza Rooygari(1946–2026) adalah aktor, penyanyi, dan pelukis asal Iran, dirilis sekitar awal 1980-an, kemudian populer kembali dalam kompilasi peringatan Revolusi Islam(dirilis ulang tahun 2011).
Lagu ini adalah nyanyian revolusioner yang menekankan cinta tanah air dan pengorbanan rakyat Iran.
#credit foto diunggah dari kanal Youtube @TribunJateng Official Subscribe
Iran Klaim Menang Buntut Trump Umumkan gencatan senjata.

