Type Here to Get Search Results !

In This Economy: Sulitnya Bertahan dengan Satu Gaji

Oleh: Ririe Aiko

Penulis

‎Setelah hari raya berlalu, seperti biasa saya selalu menyempatkan diri untuk kumpul halal bihalal bersama teman-teman lama. Awalnya obrolan kami masih terasa ringan, soal mudik, keluarga, suasana Lebaran di rumah, sampai keluhan klasik tentang liburan yang rasanya terlalu singkat. Namun seperti kebanyakan pertemuan, obrolan yang sesungguhnya justru baru dimulai ketika tawa mulai mereda dan basa-basi mulai kehilangan kata.

‎Malam itu, tanpa sadar obrolan kami mengerucut pada satu hal yang belakangan ini rasanya begitu relate dengan kondisi banyak orang: susahnya bertahan hidup in this economy.

‎Istilah in this economy belakangan ini memang cukup sering muncul di media sosial. Biasanya dipakai ketika harga kebutuhan pokok naik, biaya hidup makin terasa tidak masuk akal, atau saat sesuatu yang dulu tampak biasa kini perlahan berubah menjadi barang mewah.

‎Namun, di meja obrolan kami malam itu, istilah itu terasa jauh dari sekadar kalimat yang sedang viral. Ini adalah gambaran paling nyata dari kondisi yang sedang kami semua alami. Keresahan dan kesulitan bertahan dalam kondisi ekonomi yang semakin sulit. 

‎Keresahan itu tidak hanya datang dari mereka yang hidup dalam kondisi ekonomi paling rentan. Tentu, kita tahu bahwa kelompok masyarakat miskin adalah pihak yang paling dulu dan paling dekat merasakan dampak dari ekonomi yang tidak sehat. Namun dalam situasi hari ini, kegelisahan itu tak lagi hanya milik mereka yang berada di lapisan bawah. Mereka yang berada di barisan kelas menengah pun mulai ikut goyah.

‎Kami yang selama ini merasa “masih aman” ternyata hidup di situasi yang sangat tipis. Tipis sekali. Sedikit salah kelola keuangan, sedikit ada kebutuhan mendadak, sedikit kesehatan terganggu, sedikit pemasukan berkurang, bisa langsung jatuh miskin. Rasanya seperti hidup di atas lantai yang terlihat kokoh, padahal di bawahnya retak pelan-pelan.

‎Dari situlah obrolan kami berkembang ke satu fakta yang cukup menampar: realitas tuntutan hidup di negeri ini yang terasa semakin berat. Di antara kami, tidak ada satu pun yang hanya punya satu pekerjaan. Kami dituntut untuk menguasai berbagai keterampilan tambahan agar bisa menjalani dua, tiga, bahkan empat side job demi bertahan hidup.

‎Awalnya kami menertawakan itu. Tapi makin dipikir, makin terasa ironis.

‎Ada yang pagi sampai malam kerja kantoran, lalu sepulangnya masih jualan makanan secara online. Ada yang sudah lelah menghadapi target kantor, tapi tetap harus bikin konten demi pemasukan tambahan. Ada juga yang mengambil banyak pekerjaan serabutan, mulai dari freelance kecil-kecilan, admin, afiliasi, sampai jadi buzzer random. Semua pekerjaan diambil demi tambahan recehan yang tak seberapa. 

‎Kalau dilihat dari luar, mungkin kami tampak seperti generasi yang “hebat”. Generasi yang multitasking, kreatif, tahan banting, dan pandai mencari peluang. Tapi kalau mau jujur, sebagian besar dari semua itu bukan karena kami luar biasa. Kami melakukannya karena satu gaji saja tidak cukup. Dan itu jelas bukan persoalan kecil. Ini adalah persoalan besar tentang ketidaklayakan sistem pengupahan yang masih jauh dari seimbang dengan beban hidup masyarakat hari ini.

‎Selama ini kita terlalu sering meromantisasi kerja sampingan. Seolah-olah punya side hustle adalah tanda ambisi, passion, atau gaya hidup produktif. Padahal untuk banyak orang hari ini, kerja sampingan bukan lagi soal aktualisasi diri. Itu adalah cara paling realistis untuk bertahan.

‎Karena realitasnya sederhana: gaji utama hanya cukup untuk hidup seperlunya, bukan hidup dengan nyaman.

‎Kalau hanya hidup sendiri, mungkin semuanya masih bisa diatasi. Tapi kenyataannya, banyak Gen Z dan milenial hari ini hidup sebagai generasi sandwich, terjepit di antara tanggung jawab kepada orang tua dan kebutuhan untuk keluarga Inti.  Apalagi ketika pengeluaran datang bersamaan tanpa persiapan, situasi itu bisa dengan mudah membuat generasi ini miskin mendadak.

‎Kelas menengah hari ini hidup dalam ilusi stabilitas. Dari luar tampak baik-baik saja, tapi di dalamnya penuh hitung-hitungan. Banyak yang terlihat mapan, padahal sebenarnya sedang berdiri di atas kondisi finansial yang rapuh. Mau tidak mau, kita dipaksa terus memutar otak untuk mencari peluang tambahan, meski sering kali kesehatan mental ikut dipertaruhkan.

‎Ironisnya, situasi hidup seperti ini justru sering dinormalisasi. Sebagai rakyat kecil, kita selalu diminta bersyukur saat punya pekerjaan, seolah itu sudah cukup, seolah tak pantas lagi mempertanyakan apakah pekerjaan itu benar-benar memberi kita hidup yang layak atau tidak.

‎Kita dibiasakan menganggap bekerja 10 sampai 12 jam sehari sebagai hal yang wajar. Pulang kerja lalu lanjut kerja lagi dianggap biasa. Tidak punya waktu istirahat seolah menjadi bagian dari tanggung jawab. Bahkan ketika lembur tidak dibayar pun, banyak yang masih menganggapnya sebagai bentuk loyalitas.

‎Padahal kalau mau jujur, ada yang keliru dari cara kita memaknai pengabdian dan kerja keras di negeri ini. Ambil contoh profesi guru. Mereka dituntut punya dedikasi tinggi, loyal terhadap pekerjaannya, bahkan sering diminta ikhlas dalam kondisi yang serba terbatas. Namun di saat yang sama, kesejahteraan mereka justru kerap jauh dari kata layak. Ironisnya, pejabat publik yang seharusnya bekerja untuk melayani rakyat justru menikmati gaji dan fasilitas paling besar di negeri ini.

‎Padahal, kalau dipikir baik-baik, ini absurd. Tapi beginilah cara banyak dari kita bertahan hidup di negeri ini: menormalisasi banyak hal yang sebenarnya tidak normal.

‎Lama-lama, yang tidak sehat dianggap biasa. Yang tidak layak dianggap wajar. Dan yang seharusnya dipertanyakan justru harus diterima sebagai nasib.

‎Mungkin itu sebabnya, di akhir obrolan malam itu, tak ada satu pun dari kami yang benar-benar punya jawaban. Yang tersisa hanya tawa kecil yang terasa satir, lalu jeda yang cukup panjang untuk menyadari bahwa hidup memang sedang tidak baik-baik saja, dan kami adalah bagian dari orang-orang yang terperangkap dalam sistem yang membuat kami terus diminta bersyukur, diam, dan menerima semuanya seolah itulah satu-satunya cara untuk bertahan hidup di negeri ini.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.