![]() |
| Prof. Asril |
Padang, -- Akhir sebuah proses dalam pendidikan formal adalah bisa mencapai gelar profesor, setelah menempuh jenjang pendidikan S-3. Puncak gelar tertinggi akademisi itu, berhasil diperoleh Prof. Dr. Asril S.Kar.Hum, putra Sungai Pasak, Pariaman, yang kini menjadi dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang.
Asril yang kini sudah mencapai gelar profesor ini, akan dikukuhkan Rabu (8/4) besok, di Gedung Pertunjukan Hoeriyah Adam ISI Padang Panjang, yang ditandai dengan penyerahan SK Guru Besar dan penyampaian orasi Ilmiah.
Orasi Ilmiah yang akan disampaikan Asril berjudul "Disrupsi Teknologi Digital pada Pertunjukan Langsung (Live) ke Virtual", antara lain membahas pertunjukan seni sejatinya, merupakan pertemuan antara seniman dan penonton melalui karya seni.
Penonton memperoleh pengalaman, emosi, empati, interaksi, meruang bersama, berbagai transformasi realitas sosial/kultural ke realitas panggung/pertunjukan. Inti yang terpenting, bertemu dalam ruang yang sama—dalam ruangan (indoor) seperti gedung pertunjukan atau di luar ruangan (out door), seperti lapangan terbuka.
Menurut Asril, teknologi digital telah menjadi disrupsi bagi seni dan budaya dalam berbagai konsep pertunjukannya. Orang/penonton tidak lagi harus datang ke gedung-gedung pertunjukan, ke ruang-ruang yang disiapkan untuk pertunjukan agar bisa bertemu dengan para seniman melalui karya seni.
"Penonton dapat menyaksikan pertunjukan secara virtual dari mana saja mereka berada melalui smart phone, televisi, dan media digital lainnya, sambil duduk, tiduran, dalam kendaraan, sambil makan dan minum, ngobrol dengan kolega, dan sebagai," katanya.
"Waktu dan biaya untuk menghadiri pertunjukan menjadi lebih murah, tidak terhalang oleh jarak dan juga cuaca. Biaya produksi pertunjukan juga bisa lebih murah. Jika tidak ada waktu menonton secara live streaming, penonton dapat menyaksikan pertunjukan secara streaming," ungkapnya.
Asril yang juga anggota Keluarga Intelektual Piaman (KIP), yang akan dikukuhkan sebagai Guru Besar di ISI Padang Panjang, Rabu pagi besok ini, adalah bidang: “Pengkajian Seni Pertunjukan”. Diharapkan bisa mengembangkan keprofesionalan yang dimilikinya di perguruan tinggi ini.
Asril lahir di Sungai Pasak, Pariaman 20 Mei 1961 dari pasangan Sidi Muchtar dan Nurman. Ia memiliki dua orang anak (Drg. Syania Artha Rovynia dan dr. Zhafran Abartha Riyadhi), dan dua orang cucu.
Pendidikan Asril, di awali dari SD Sungai Pasak daerah kelahirannya, kemudian melanjutkan pendidikan ke PGAN 4 tahun Padusunan, Pariaman, dan setelah itu melanjutkan ke MAN Gunung Pangilun Padang tamat tahun 1981. Setelah itu melanjutkan ke ASKI Padang Panjang, Jurusan Karawitan (Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Padang Panjang pada tahun 1982.
Menyelesaikan Sarjana Muda pada 1986. Pada Februari 1987 diangkat jadi CPNS di ASKI, sebagai tenaga pengajar di Jurusan Karawitan. Hingga saat ini bertugas sebagai dosen PNS di ISI Padang Panjang.
Untuk program S-1, Asril melanjutkan perkuliahan 1989 hingga 1991 Jurusan Karawitan bidang penciptaan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar, dengan fokus penggarapan pada musik Minang—khususnya musik tradisi Pariaman.
Kemudian pada tahun 1999 hingga 2002, ia melanjutkan studi magister di Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana Universitas Gajah Mada Yogyakarta, dengan prediket cum laude. Penelitian tesisnya difokuskan pada pertunjukan gandang tasa dalam ritual Tabuik di Pariaman.
Setelah menamatkan studi magister, Asril lebih memfokuskan riset pada musik-musik Minangkabau dan pertunjukannya, sembari tetap melakukan praktik pada musik tersebut dan pengembangannya.
Asril melanjutkan studi doktoral di Program Studi Doktor Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada 2011-2016. Disertasi Penelitiannya lebih difokuskan pada Tabuik sebagai pertunjukan ritual masyarakat Pariaman.
Penelitian tentang Tabuik merupakan salah satu penelitian paling serius dan besar yang dilakukan oleh Asril. Selain itu, ia melakukan penelitian terhadap berbagai objek material yang tercakup dalam seni pertunjukan, pertunjukan ritual, dan pertunjukan budaya. Wilayah studi/kajian semakin luas hingga pada seni pertunjukan Melayu.
Hasil penelitiannya telah dipublikasikan di berbagai jurnal dan proceeding tingkat nasional dan internasional hingga bereputasi.
Selain itu, Asril juga sudah menulis sejumlah buku dalam bentuk tunggal, bersama, dan book chapter. Penelitian terbaru yang dilakukan tentang pertunjukan "bapereh gandang tasa", hidritas pada musik gamad, serta konsep utama pertunjukan pada masyarakat Pariaman.
Selamat dan sukses buat Asril, semoga ilmu yang diemban bisa untuk kemajuan diri pribadi dan kemajuan bangsa, mengembangkan keprofesionalan seni. (Laporan Asfar Tanjung)

