![]() |
Oleh: Duski Samad
Pengasuh surautuanku professor#series35. 14032026.
Tradisi serba baru menghadapi Idulfitri telah mengubah alam pikiran dan perbincangan shaim, bagaimana mendapatkan rezki lebih untuk memenuhi keinginan lebaran.
Umat masih banyak yang berbeda dengan istilah jaminan rezki dari Allah. Ada yang sangat bersemangat menyebut rezki itu jatah yang sudah permanet, tidak diusahapun rezki akan datang menemui pemiliknya.
Ada bantahan tak kalah sengit rezki itu adalah hasil usaha. Ada ungkapan hasil tidak berbeda dengan usaha.
Pandangan ekstrim pasrah (jabariyah) lazimnya melekat pada orang kalah dalam hidup, mentalitas orang gagal dan mereka tidak bernasib baik. Pendapat yang sepenuhnya mendasarkan kerja keras dan usaha (qadariyah) sangat menentukan rezki. Itu biasanya mentalitas orang sukses dan jaya dalam hidupnya.
Dua corak pemikiran perlu diluruskan dengan membaca seksama pesan al Qur'an tentang rezki.
Salah satu ayat Al-Qur’an yang paling populer ketika membicarakan rezeki adalah firman Allah: artinya.."Tidak ada satu pun makhluk yang bergerak di bumi melainkan Allah menjamin rezekinya." (QS. Hud: 6)
Ayat ini sering menjadi sumber ketenangan batin. Ia memberi harapan bahwa Allah tidak pernah menelantarkan makhluk-Nya. Namun persoalan muncul ketika ayat ini dipahami secara parsial. Tidak sedikit yang menjadikannya sebagai pembenaran sikap pasrah tanpa usaha. Seolah-olah rezeki akan datang sendiri meskipun tanpa kerja keras, tanpa disiplin, tanpa kreativitas.
Padahal jika ayat ini dibaca secara utuh dan ditelaah melalui tafsir para ulama, justru ayat ini mengandung pesan besar tentang teologi gerak, bukan teologi diam.
Kata penting dalam ayat ini bukan hanya pada kata rizq (rezeki), tetapi pada kata dābbah, yaitu makhluk yang hidup dan bergerak.
Secara bahasa, dabbah berasal dari kata yang berarti berjalan, bergerak, dan beraktivitas. Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa dabbah adalah seluruh makhluk hidup yang beraktivitas di bumi. Artinya, kehidupan selalu identik dengan gerakan.
Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa dabbah adalah makhluk yang memiliki harakah al-hayah (gerak kehidupan). Ini mengandung makna bahwa rezeki Allah berjalan dalam sistem kehidupan yang aktif, bukan dalam keadaan stagnan.
Fakhruddin Ar-Razi bahkan menegaskan bahwa rezeki diberikan melalui asbab, yaitu sebab-sebab yang Allah ciptakan dalam kehidupan seperti usaha, kerja, dan interaksi sosial.
Artinya, Allah menjamin rezeki bukan dalam ruang hampa, tetapi dalam ekosistem usaha.
Karena itu Al-Qur’an juga memberikan perintah yang sangat jelas: Berjalanlah di penjuru bumi dan makanlah rezeki-Nya." (QS. Al-Mulk: 15)
Ayat ini tidak mengatakan: berharaplah, menunggulah, atau pasrahlah.
Tetapi: berjalanlah.
Inilah teologi kerja dalam Islam.
Al-Qur’an bahkan secara tegas menolak mentalitas fatalistik:
Manusia tidak memperoleh selain apa yang diusahakannya." (QS. An-Najm: 39)
Dan juga: artinya..Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat-ayat ini menegaskan bahwa perubahan hidup tidak lahir dari harapan semata, tetapi dari usaha yang nyata.
Islam bukan agama fatalisme. Islam adalah agama perjuangan.
Rasulullah SAW bahkan memberikan analogi yang sangat kuat tentang tawakal. Beliau bersabda:
"Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki seperti burung."
Namun Nabi melanjutkan:
"Burung pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang." (HR. Tirmidzi)
Perhatikan satu hal penting: burung tidak pernah menunggu makanan datang ke sarangnya.
Ia terbang. Ia mencari. Ia berusaha.
Artinya tawakal dalam Islam bukanlah pasrah tanpa usaha, tetapi usaha maksimal yang disertai kepercayaan penuh kepada Allah.
Di sinilah letak kesalahan psikologis sebagian umat Islam hari ini. Religiusitas sering tinggi, tetapi produktivitas rendah. Semangat ibadah kuat, tetapi semangat inovasi lemah. Pengajian ramai, tetapi budaya riset lemah. Doa banyak, tetapi disiplin kerja kurang.
Masalahnya bukan pada ajaran Islam, tetapi pada cara memahami Islam.
Sejarah justru menunjukkan bahwa generasi awal Islam adalah generasi pekerja keras. Nabi Muhammad SAW adalah pedagang global. Abdurrahman bin Auf adalah simbol entrepreneur Muslim. Utsman bin Affan adalah pengusaha sekaligus dermawan besar. Umar bin Khattab adalah administrator negara yang visioner.
Peradaban Islam klasik mencapai puncaknya karena budaya ilmu, kerja keras, perdagangan, dan inovasi. Bukan karena mentalitas pasrah.
Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menegaskan bahwa peradaban maju karena kekuatan ilmu, solidaritas sosial, dan etos kerja. Sebaliknya, kemunduran dimulai ketika masyarakat terjebak dalam kemewahan, kemalasan, dan ketergantungan.
Islam sendiri sangat menekankan profesionalisme kerja. Rasulullah bersabda:
"Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang jika bekerja, ia menyempurnakannya." (HR. Baihaqi)
Dalam perspektif Islam: amal bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga kerja produktif.
Jihad bukan hanya pertempuran, tetapi juga kesungguhan dalam berkarya. Ihsan bukan hanya spiritualitas, tetapi kualitas kerja terbaik.
Jika konsep ini dipahami dengan benar, umat Islam seharusnya menjadi umat yang paling disiplin, paling produktif, dan paling maju.
Ayat QS Hud:6 sebenarnya mengajarkan satu hukum kehidupan: rezeki tersedia, tetapi harus dijemput.
Laut penuh ikan, tetapi nelayan harus melaut.
Tanah subur, tetapi petani harus menanam.
Ilmu terbuka, tetapi pelajar harus belajar.
Tidak ada rezeki yang datang kepada orang yang berhenti bergerak.
Pelajaran besar bagi kebangkitan umat hari ini adalah bahwa kemajuan bangsa tidak ditentukan oleh kekayaan alam semata, tetapi oleh mentalitas kerja. Jepang menjadi maju bukan karena sumber daya alamnya, tetapi karena disiplin dan etos kerja. Sebaliknya, banyak negeri yang kaya sumber daya justru tertinggal karena miskin produktivitas.
Ini bukan masalah takdir. Ini masalah mentalitas.
Jika ayat ini dipahami dengan benar, maka ia sebenarnya adalah ayat peradaban. Allah menjamin rezeki, tetapi manusia wajib bergerak.
Allah menyediakan peluang, tetapi manusia wajib berusaha.
Allah membuka jalan, tetapi manusia wajib melangkah.
Karena hukum kehidupan selalu sama: Yang diam akan tertinggal.
Yang bergerak akan sampai.
Dan mungkin pelajaran paling jujur dari ayat ini adalah: Allah tidak pernah menelantarkan makhluk-Nya, tetapi sering kali manusia sendiri yang menelantarkan potensi besar yang telah Allah titipkan dalam dirinya.ds.

