Type Here to Get Search Results !

PERBEDAAN METODE, KESATUAN KIBLAT: Ujian kedewasaan umat dan Peran Ulil Amri

Oleh: Duski Samad

Pengasuh surautuanku professor@series44.

Setiap menjelang Idul Fitri atau Idul Adha, ada satu fenomena yang hampir selalu berulang di Indonesia: perbedaan penentuan hari raya. Sebagian umat sudah bertakbir, sebagian lagi masih berpuasa. Sebagian sudah salat Id, sebagian lagi menunggu keesokan hari.

Namun jika direnungkan secara jernih, yang berbeda sebenarnya hanya tanggalnya. Bukan ibadahnya. Bukan takbirnya. Apalagi Tuhannya. "Yang berbeda itu hanya hari rayanya, bukan Islamnya."

Kiblatnya tetap Ka'bah. Al-Qur’annya tetap satu. Nabinya tetap Muhammad SAW. Tujuannya tetap ridha Allah SWT. Yang berbeda hanyalah cara memahami awal waktu.

Dua jalan membaca waktu

Perbedaan dalam menentukan awal bulan hijriah sesungguhnya merupakan perbedaan metodologi ijtihad yang sudah lama dikenal dalam tradisi keilmuan Islam.

Menggunakan rukyat, yaitu melihat hilal secara langsung dan dengan dibantu tekhnologi mutakhir. Sebuah pendekatan yang menekankan verifikasi faktual dan kehati-hatian dalam menetapkan waktu ibadah.

Menggunakan hisab, yaitu perhitungan astronomi yang memberikan kepastian ilmiah berdasarkan posisi bulan dan matahari, terakhir mengunakan Kalender Hijrah Global yang berlaku untuk seluruh dunia.

Dua pendekatan. Dua metode. Tetapi satu tujuan: ketepatan ibadah.

Ini bukan dua agama, melainkan dua cara membaca tanda-tanda waktu yang Allah ciptakan di langit.

Perbedaan sebagai kekayaan intelektual Islam

Dalam tradisi ushul fikih, perbedaan seperti ini disebut ikhtilaf ijtihad, yaitu perbedaan yang lahir dari proses berpikir ilmiah yang sah. Kaidah fikih menyebutkan: "Ijtihad tidak dibatalkan oleh ijtihad lainnya."

Artinya, selama perbedaan memiliki dasar metodologi yang kuat, maka perbedaan itu merupakan bagian dari dinamika intelektual Islam, bukan ancaman bagi persatuan umat.

Imam Syafi’i bahkan memberi teladan kedewasaan berpikir dengan mengatakan:

"Pendapatku benar tetapi mungkin salah, dan pendapat orang lain salah tetapi mungkin benar."

Inilah akhlak intelektual yang menjadi fondasi peradaban Islam besar di masa lalu.

Fikih bukan arena tawar-menawar

Dalam diskursus publik pernah muncul gagasan kompromi agar perbedaan ini dipertemukan secara matematis. Namun fikih bukan transaksi dagang yang bisa disepakati melalui jalan tengah tanpa dasar metodologis.

Metode ilmiah lahir dari dalil, tradisi keilmuan, dan kerangka berpikir yang tidak bisa begitu saja dicampur demi keseragaman administratif.

Namun demikian, ada nilai yang lebih tinggi dari keseragaman, yaitu persaudaraan.

Islam tidak pernah mewajibkan keseragaman metode, tetapi Islam sangat menekankan kesatuan hati.

Kekuatan tradisi pesantren dan kearifan kultural menjaga Islam tetap membumi. Kekuatan organisasi dan modernisasi menjaga Islam tetap maju.

Menjaga akar spiritual dan memperkuat memperkuat cabang intelektual. Memperkuat basis kultural umat dan memperkuat basis pendidikan dan kesehatan umat.

Keduanya sebenarnya adalah dua pilar besar yang menopang kekuatan Islam Indonesia.

Jika salah satunya melemah, umat justru kehilangan keseimbangan.

Ujian kedewasaan umat

Yang menjadi persoalan bukanlah adanya perbedaan.

Yang menjadi ujian adalah: bagaimana umat menyikapi perbedaan itu.

Jika perbedaan melahirkan ejekan, berarti kedewasaan kita masih kurang.

Jika perbedaan melahirkan kebencian, berarti pendidikan akhlak kita belum selesai.

Al-Qur’an mengingatkan:

"Berpeganglah kamu semuanya pada tali Allah dan jangan bercerai-berai."

(QS Ali Imran: 103)

Allah tidak memerintahkan kita seragam dalam metode. Allah memerintahkan kita bersatu dalam nilai.

Indonesia kuat karena moderasi

Jika dilihat dari sosiologi keagamaan, Indonesia justru menjadi contoh bagaimana perbedaan metodologi dapat hidup dalam harmoni.

Perbedaan bukan persaingan dalam konflik, tetapi mitra dalam membangun peradaban umat. Satu menjaga tradisi. Satu mendorong pembaruan.

Satu memperkuat spiritualitas. Satu memperkuat rasionalitas.

Dan justru dari keseimbangan itulah lahir wajah Islam Indonesia yang moderat, damai, dan berkemajuan. Yang paling berbahaya bukan beda hari, tetapi beda hati.

Perbedaan Idul Fitri tidak akan merusak umat.

Yang merusak umat adalah jika hati sudah saling menjauh.

Yang berbahaya bukan beda tanggal.

Yang berbahaya adalah hilangnya akhlak dalam menyikapi perbedaan.

Karena pada akhirnya, yang Allah nilai bukan organisasi yang kita ikuti, tetapi kebersihan hati kita.

Allah berfirman:"Kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih."(QS Asy-Syu'ara: 89).

Penting diperhatikan bahwa perbedaan ijtihadiyah menurut fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 2 tahun 2004 akhirnya diterapkan oleh ulil amri. MUI menegaskan pentingnya sidang istbat dan ulil amri menetapkan hasil sidang istbat untuk diikuti oleh umat. 

Penutup

Mungkin Id kita tidak selalu sama harinya.

Tetapi jangan sampai hati kita tidak lagi sama arahnya. Mungkin takbir kita berbeda malamnya.

Tetapi jangan sampai ukhuwah kita berbeda jalannya.

Karena pada akhirnya, bukan dua jalan yang saling meniadakan.

Keduanya seperti sepasang sandal:

berbeda bentuk, berbeda langkah, tetapi berjalan bersama menuju satu tujuan: ridha Allah SWT. DS. 19032026.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.