![]() |
Oleh: Duski Samad
Pengasuhsurautuanku professor.series#27.
Judul di atas diangkat mencermati narasi di media, kritik tokoh, dan pandangan masyarakat sipil terhadap diplomasi Pemerintah RI di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Sebagai anggota masyarakat yang tak tahu persis tentang diplomasi tentu tak patut memberikan komentar.
Namun yang pasti kearifan adat Minangkabau mengingatkan tentang pentingnya kemampuan diplomasi yang kuat. Bila diplomat kalah dalam perundingan maka rakyat dan negara jadi korbannya.
Di tengah perubahan geopolitik dunia yang semakin keras, Indonesia kembali berada dalam persimpangan penting diplomasi. Berbagai keputusan strategis negara, baik dalam hubungan perdagangan global maupun keterlibatan dalam forum internasional, memunculkan diskursus publik yang cukup tajam. Sebagian masyarakat melihatnya sebagai langkah realistis dalam percaturan global, sementara sebagian lain mempertanyakan apakah arah itu masih tegak lurus dengan jati diri politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif.
Dalam situasi seperti ini, kearifan lokal Minangkabau seakan hadir memberi cermin moral melalui pepatah lama:
“Patah lidah kalah, patah padang mati.”
Pepatah ini sesungguhnya bukan sekadar ungkapan budaya, tetapi filosofi kepemimpinan yang sangat dalam tentang bagaimana menjaga keseimbangan antara kecerdasan dan kehormatan, antara kompromi dan prinsip, antara realitas politik dan marwah bangsa.
Dalam tradisi Minangkabau, lidah bukan hanya alat bicara, tetapi simbol kecerdasan, kebijaksanaan, dan kemampuan menjelaskan kebenaran. Orang yang kalah lidah bukan berarti kalah suara, tetapi kalah dalam argumentasi, kalah dalam meyakinkan orang lain tentang kebenaran yang diperjuangkannya.
Jika ini ditarik ke dalam konteks diplomasi negara, maka lidah itu adalah kemampuan negara menjelaskan kepada rakyatnya sendiri: mengapa suatu kebijakan diambil, apa manfaatnya, apa risikonya, dan bagaimana kepentingan nasional tetap dijaga.
Diplomasi yang kuat bukan hanya yang mampu meyakinkan negara lain, tetapi yang mampu menjaga kepercayaan rakyatnya sendiri. Karena sesungguhnya legitimasi terkuat dari kebijakan luar negeri bukan hanya pengakuan internasional, tetapi kepercayaan domestik.
Ketika rakyat merasa kebijakan strategis negara jauh dari ruang partisipasi publik, maka yang muncul bukan hanya kritik, tetapi kegelisahan kolektif. Di sinilah pentingnya komunikasi kenegaraan yang jujur, terbuka, dan argumentatif.
Dalam falsafah Minangkabau disebutkan:
“Bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakat.”
Artinya, keputusan besar harus lahir dari kekuatan musyawarah dan legitimasi moral. Negara modern memang tidak mungkin meminta referendum untuk setiap kebijakan luar negeri, tetapi negara bijak selalu membangun narasi kepentingan nasional yang bisa dipahami rakyatnya.
Karena ketika lidah diplomasi tidak mampu menjelaskan arah bangsa, maka secara filosofis bangsa itu telah mengalami patah lidah.
Namun pepatah Minangkabau itu tidak berhenti pada lidah. Ia berbicara lebih jauh tentang padang (pedang) yang melambangkan kehormatan dan keteguhan prinsip.
“Patah padang mati.”
Maknanya jelas: kehormatan tidak boleh dikompromikan. Dalam konteks bangsa, kehormatan itu adalah:
kedaulatan,
konsistensi prinsip,
kepercayaan diri nasional,
keberanian menjaga kepentingan bangsa.
Diplomasi modern memang membutuhkan fleksibilitas, tetapi fleksibilitas tidak boleh berubah menjadi ketergantungan. Kompromi tidak boleh berubah menjadi kehilangan arah. Kerja sama tidak boleh berubah menjadi subordinasi.
Indonesia sejak awal telah meletakkan fondasi yang sangat kuat melalui politik luar negeri bebas aktif. Sebuah konsep yang sangat visioner: tidak menjadi satelit kekuatan mana pun, tetapi tetap aktif membangun perdamaian dunia.
Namun dalam realitas global hari ini, godaan pragmatisme sangat besar. Tekanan ekonomi global, kepentingan investasi, dan dinamika kekuatan dunia seringkali menempatkan negara berkembang dalam posisi sulit.
Di sinilah ujian kepemimpinan muncul: apakah tetap berdiri sebagai bangsa yang memiliki arah, atau sekadar mengikuti arus global tanpa kompas ideologis.
Krisis terbesar diplomasi sebenarnya bukan tekanan luar negeri, tetapi hilangnya kepercayaan dalam negeri.
Sejarah menunjukkan bahwa negara besar bisa bertahan dari tekanan global jika rakyatnya percaya kepada arah kepemimpinan nasional. Tetapi negara bisa goyah jika kepercayaan publik melemah, meskipun secara ekonomi terlihat stabil.
Karena itu, diplomasi sejati tidak hanya berbicara tentang hubungan antarnegara, tetapi juga tentang hubungan antara negara dan rakyatnya sendiri.
Minangkabau sejak lama mengajarkan bahwa kekuasaan harus memiliki akar sosial:
“Penghulu barajo ka mufakat.”
Artinya legitimasi tertinggi bukan kekuasaan, tetapi kepercayaan kolektif.
Dalam konteks modern, ini berarti: negara harus memastikan bahwa setiap kebijakan strategis tetap berakar pada kepentingan rakyat, bukan hanya kepentingan jangka pendek atau tekanan situasional.
Pepatah Minangkabau itu akhirnya terasa seperti nasihat untuk Indonesia hari ini:
Jangan sampai diplomasi kehilangan kekuatan argumentasi sehingga rakyat tidak lagi memahami arah bangsa. Jangan sampai pragmatisme jangka pendek menggerus kehormatan jangka panjang.
Karena bangsa yang besar bukan bangsa yang selalu menang dalam negosiasi, tetapi bangsa yang tidak kehilangan prinsip dalam negosiasi.
Indonesia tidak kekurangan sejarah besar. Indonesia tidak kekurangan pengalaman global. Indonesia tidak kekurangan diplomat yang cakap.
Yang dibutuhkan hari ini adalah keteguhan arah dan kejernihan komunikasi.
Pada akhirnya, pelajaran besar dari pepatah Minangkabau itu sangat sederhana tetapi sangat dalam:
Jika lidah patah, bangsa kehilangan kepercayaan.
Jika marwah patah, bangsa kehilangan arah.
Maka diplomasi Indonesia ke depan harus tetap berdiri di atas tiga kekuatan utama: kepentingan nasional, kepercayaan rakyat, dan kehormatan bangsa.
Karena bagi bangsa yang merdeka: kedaulatan bukan hanya soal wilayah, tetapi juga soal keberanian menjaga prinsip.
Dan bagi bangsa yang bermartabat:
marwah bukan untuk dinegosiasikan, tetapi untuk dijaga. 11032026.

