![]() |
PTG (POST TRAUMATIC GROWT):
Oleh: Duski Samad
taushiyah surautuankuprofessor#series31.
huntarapadang13032026
Ada satu kenyataan hidup yang sering tidak kita sadari: manusia tidak diukur dari seberapa sering ia tersenyum, tetapi dari bagaimana ia berdiri kembali setelah menangis.
Bencana selalu meninggalkan dua hal sekaligus: luka dan pelajaran. Luka terlihat pada rumah yang roboh, harta yang hilang, dan kehidupan yang berubah. Tetapi pelajaran sering tersembunyi dalam jiwa: kesabaran yang tumbuh, kekuatan yang muncul, dan kesadaran baru tentang arti hidup.
Dalam psikologi modern, fenomena ini disebut Post Traumatic Growth, yaitu pertumbuhan yang justru lahir setelah seseorang mengalami trauma besar.
Konsep ini dikembangkan oleh para psikolog seperti Richard Tedeschi dan Lawrence Calhoun yang menemukan bahwa tidak semua trauma melahirkan kehancuran. Sebagian justru melahirkan manusia yang lebih matang secara mental, lebih kuat secara spiritual, dan lebih dalam memahami makna kehidupan.
Menariknya, apa yang ditemukan psikologi modern ini sebenarnya telah diajarkan Al-Qur’an sejak lama, salah satunya melalui Surat Ad-Dhuha. Surat ini bukan sekadar penghibur Nabi Muhammad SAW, tetapi juga merupakan panduan pemulihan jiwa bagi siapa saja yang sedang mengalami keterpurukan hidup.
Surat ini turun ketika Nabi mengalami masa yang sangat berat. Wahyu sempat terhenti. Tekanan sosial meningkat. Ejekan datang dari berbagai arah. Bahkan muncul tuduhan bahwa Allah telah meninggalkan beliau.
Dalam situasi psikologis seperti itu, Allah justru menurunkan ayat yang bukan berisi perintah berat, tetapi kata-kata penguat jiwa:"Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu."(QS Ad-Dhuha: 3)
Ayat ini sebenarnya adalah terapi psikologis yang sangat dalam. Karena dalam setiap trauma, ketakutan terbesar manusia bukan hanya kehilangan, tetapi perasaan ditinggalkan.
Korban bencana sering mengalami ini. Mereka tidak hanya kehilangan rumah, tetapi juga rasa aman. Tidak hanya kehilangan harta, tetapi juga rasa kepastian. Bahkan kadang muncul pertanyaan eksistensial:
Mengapa ini terjadi kepada kami?
Surat Ad-Dhuha menjawab dengan lembut:
Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Musibah bukan tanda kebencian Tuhan. Musibah sering justru tanda bahwa manusia sedang dipersiapkan menjadi lebih kuat.
Psikologi modern menyebutnya resilience building, pembentukan ketahanan mental. Al-Qur’an menyebutnya sebagai proses pematangan jiwa melalui ujian.
Allah kemudian mengingatkan Nabi tentang perjalanan hidupnya: "Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim lalu Dia melindungimu."
Ini metode terapi yang sangat dikenal dalam psikologi modern sebagai strength recall, yaitu mengingat kembali bagaimana seseorang pernah berhasil melewati masa sulit sebelumnya.
Ketika manusia mengingat bahwa ia pernah selamat dari badai kehidupan, ia akan sadar bahwa dirinya tidak selemah yang ia bayangkan.
Begitu pula korban bencana. Jika mereka diajak melihat perjalanan hidup mereka, mereka akan menemukan satu fakta penting: mereka sudah melewati banyak kesulitan sebelumnya. Dan setiap kesulitan itu ternyata tidak menghancurkan mereka.
Di sinilah Post Traumatic Growth mulai terjadi. Trauma tidak lagi dilihat sebagai akhir, tetapi sebagai titik balik.
Orang yang mengalami PTG biasanya mengalami lima perubahan besar.
Pertama, mereka menjadi lebih kuat secara mental. Mereka sadar bahwa mereka mampu bertahan lebih dari yang mereka kira.
Kedua, mereka menjadi lebih menghargai hubungan sosial. Solidaritas yang muncul saat bencana sering justru memperkuat rasa kemanusiaan.
Ketiga, mereka menemukan makna hidup baru. Banyak orang setelah bencana justru menemukan tujuan hidup yang lebih jelas.
Keempat, mereka menjadi lebih dekat kepada Tuhan. Dalam situasi kehilangan, manusia biasanya kembali mencari makna spiritual.
Kelima, mereka menjadi lebih menghargai hal-hal sederhana dalam hidup.
Semua ini sebenarnya sudah dirangkum dalam penutup Surat Ad-Dhuha ketika Allah memerintahkan:"Adapun terhadap nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah."
Ini bukan sekadar perintah bersyukur. Ini adalah terapi psikologis yang hari ini dikenal sebagai gratitude therapy, yaitu melatih jiwa untuk tetap melihat nikmat yang masih ada, bukan hanya kehilangan yang terjadi.
Dalam konteks penyintas bencana, pendekatan ini sangat penting. Mereka tidak cukup hanya dibantu dengan logistik. Mereka juga membutuhkan penguatan makna hidup.
Karena manusia bisa bertahan tanpa kenyamanan, tetapi sulit bertahan tanpa harapan.
Di sinilah peran agama, tokoh masyarakat, dan pemerintah menjadi sangat penting. Pemulihan bencana tidak boleh hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan jiwa.
Rumah bisa dibangun dengan dana.
Tetapi harapan dibangun dengan perhatian.
Trauma bisa dipulihkan dengan waktu.
Tetapi kekuatan lahir dari makna.
Dan mungkin inilah pesan terdalam dari konsep Post Traumatic Growth dalam Islam: bahwa tidak semua yang retak itu rusak. Kadang sesuatu harus retak agar cahaya bisa masuk.
Bencana memang bisa merobohkan bangunan, tetapi ia juga bisa membangun kesadaran. Ia bisa menghancurkan rutinitas, tetapi juga bisa membangkitkan solidaritas. Ia bisa membawa kesedihan, tetapi juga bisa melahirkan kebijaksanaan.
Karena itu, penyintas bencana sebenarnya bukan hanya orang yang selamat dari musibah. Mereka adalah orang-orang yang sedang berada dalam proses menjadi lebih kuat.
Dan mungkin inilah kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan makna Ad-Dhuha dalam perspektif Post Traumatic Growth:
Musibah tidak selalu datang untuk menghancurkan hidup kita.
Kadang ia datang untuk membentuk versi terbaik diri kita.
Karena dalam rahasia kehidupan ada satu hukum yang sering tidak kita sadari:
Allah tidak selalu menyelamatkan kita dari kesulitan, tetapi Allah selalu memberi kesempatan kepada kita untuk tumbuh melalui kesulitan.ds.13032026

