![]() |
Oleh: Duski Samad
Pengasuh surautuanku professor@series45. 20032026.
Membaca, menonton dan mencermati geopolitik Iran melawan Israel yang dibantu Amerika Serikat sejak penyerangan terhadap Republik Islam Iran, 28 Februari 2026.
Sebagai orang yang tak memahami secara mendalam tentang perang dan hubungan multilateral realitas ini benar-benar membingungkan dan mencemaskan.
Dialog pakar Timur Tengah, mantan Duta Besar, dan pihak-pihak yang paham tentang pertarungan politik di negara-negara Islam Timur Tengah sepertinya mengantarkan pikiran pada gambaran al Qur'an berkenaan watak orang Mekah, Madinah, Yahudi dan bangsa lainnya di jazirah Arab sejak lama.
Bila ditelisik pandangan kitab suci (Alqur'an) tentang karakter, moral dan sosial masyarakat di jazirah Arab tersebut akan ditemukan benih-benih konflik memang sudah lama tersemai atau berkecambah di daerah.
Analisis pemikir Islam menyebut diutusnya Rasul dan Nabi di kawasan itu adalah fakta historis beratnya medan peradaban di sekitar jazirah Arab tersebut.
Al-Qur’an adalah kitab petunjuk (hudā) yang tidak hanya berbicara tentang ibadah individual, tetapi juga memberikan pelajaran tentang watak peradaban manusia. Ketika Al-Qur’an menceritakan Bani Israil, kaum Quraisy di Mekah, masyarakat Madinah, dan suku-suku Arab Badui, sebenarnya yang dibahas bukanlah identitas etnis mereka, tetapi karakter moral dan sosial yang bisa muncul dalam setiap masyarakat.
Al-Qur’an tidak pernah mengajarkan rasisme. Yang dinilai bukan suku, tetapi ketakwaan: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Karena itu kisah-kisah dalam Al-Qur’an harus dibaca sebagai cermin karakter manusia sepanjang zaman, bukan sebagai stigma terhadap suatu bangsa.
1. Bani Israil: Ilmu tanpa ketaatan adalah kesombongan intelektual
Bani Israil adalah kaum yang paling sering disebut dalam Al-Qur’an. Mereka mendapatkan banyak nabi, kitab, dan mukjizat. Allah bahkan menyebut mereka pernah dilebihkan dari umat lain pada zamannya (QS. Al-Baqarah: 47).
Kritik Al-Qur’an terhadap sebagian mereka bukan karena identitasnya, tetapi karena sikapnya:
• Mengetahui kebenaran tetapi menolaknya (QS Al-Baqarah:146)
• Memutarbalikkan ajaran (QS An-Nisa:46)
• Cinta dunia berlebihan (QS Al-Baqarah:96)
• Melanggar perjanjian moral (QS Al-Maidah:13)
Tetapi Al-Qur’an tetap objektif“Di antara Ahli Kitab ada golongan yang lurus…”(QS Ali Imran:113)
Artinya Al-Qur’an mengajarkan prinsip keadilan: tidak semua sama.
Pelajaran besar dari kisah ini adalah ilmu tanpa akhlak dapat melahirkan kesombongan intelektual.
Ini peringatan bagi semua umat berpendidikan, termasuk akademisi, agar ilmu tidak melahirkan ego, tetapi melahirkan ketaatan.
2.Quraisy Mekah: Kekuasaan tanpa moral melahirkan penolakan kebenaran.
Kaum Quraisy menolak dakwah Nabi bukan karena tidak memahami ajaran Islam, tetapi karena faktor sosial:
• Takut kehilangan status elite
• Fanatisme tradisi nenek moyang
• Kepentingan ekonomi
• Kesombongan kekuasaan
Al-Qur’an menggambarkan sikap ini: “Sesungguhnya mereka berkata: kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.”(QS Al-Baqarah:170)
Ini menunjukkan penyakit sosial klasik ketika tradisi lebih diikuti daripada kebenaran. Namun sejarah juga menunjukkan sesuatu yang menarik. Setelah mereka masuk Islam, justru Quraisy menjadi pemimpin peradaban Islam.
Ini membuktikan bahwa
karakter manusia bisa berubah jika iman masuk ke dalam hati.
3.Penduduk Madinah: Pertarungan antara keikhlasan dan kemunafikan.
Madinah adalah model masyarakat plural pertama dalam Islam. Di sana ada:
• Muhajirin
• Anshar
• Yahudi
• Munafik
Kelompok Anshar dipuji karena solidaritasnya: “Mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri…” (QS Al-Hasyr:9)
Ini adalah model masyarakat ideal: empati sosial dan pengorbanan.
Namun di Madinah juga muncul kelompok munafik. Mereka secara lahir beragama tetapi secara batin menolak.
Ciri mereka:
• Bermuka dua
• Lemah komitmen
• Agama dijadikan alat kepentingan
• Takut kehilangan keuntungan dunia
(QS Al-Munafiqun)
Pelajaran pentingnya:
Bahaya terbesar bagi agama bukan orang luar, tetapi kemunafikan dari dalam.
4.Suku Arab Badui: Lingkungan keras membentuk karakter keras
Al-Qur’an menjelaskan bahwa sebagian Arab Badui memiliki karakter keras karena lingkungan hidup mereka: “Orang Arab Badui lebih keras kekafiran dan kemunafikannya…”
(QS At-Taubah:97)
Namun ayat berikutnya juga menyebut: Ada juga Badui yang beriman dan tulus.
Ini menunjukkan prinsip penting dalam Al-Qur’an:
Lingkungan mempengaruhi karakter, tetapi iman menentukan nilai manusia.
Ini sejalan dengan teori modern sosiologi bahwa lingkungan sosial membentuk kepribadian, tetapi pendidikan dan nilai spiritual dapat mengubahnya.
Kesimpulan Qur’ani: Empat penyakit peradaban manusia. Jika dirangkum, Al-Qur’an sebenarnya sedang menggambarkan empat penyakit sosial yang selalu muncul dalam sejarah manusia:
Tipologi Penyakitnya
Bani Israil Ilmu tanpa akhlak. Quraisy Kekuasaan tanpa moral. Munafik Agama tanpa kejujuran
Badui Karakter keras tanpa pendidikan
Dan solusi Al-Qur’an selalu sama:Iman. Ilmu. Akhlak.
Keadilan sosial
Relevansi untuk umat Islam hari ini.
Jika dibaca secara reflektif, sebenarnya Al-Qur’an sedang mengingatkan umat Islam:
Jangan sampai: Umat berilmu tetapi tidak bermoral. Umat beragama tetapi tidak jujur. Umat berkuasa tetapi tidak adil. Umat tradisional tetapi anti perubahan.
Karena penyakit umat terdahulu bisa muncul kembali dalam bentuk baru. Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan:
Kerusakan umat bukan karena kebodohan semata, tetapi karena rusaknya hati.
Pelajaran terbesar Al-Qur’an tentang manusia
Jika seluruh kisah di atas diringkas dalam satu pelajaran besar: Al-Qur’an tidak mengkritik siapa mereka, tetapi apa karakter mereka.
Dan pesan terdalamnya adalah: Setiap manusia bisa menjadi seperti umat terdahulu jika memiliki karakter yang sama.
Karena itu Al-Qur’an tidak membagi manusia berdasarkan: ras, bangsa,
suku. Tetapi berdasarkan:
iman, kejujuran dan akhlak.
Pelajaran terbesarnya adalah peradaban tidak hancur karena musuh dari luar, tetapi karena kerusakan karakter dari dalam. Dan karena itu, misi Islam yang sebenarnya bukan hanya membangun masyarakat religius, tetapi membangun: manusia berkarakter.
ANALISA KONFLIK
Konflik Israel versus Iran kini telah melampaui batas perang bayangan. Ia tidak lagi sekadar pertarungan intelijen, serangan siber, pembunuhan tokoh penting, atau perang proksi melalui kelompok-kelompok bersenjata di kawasan. Eskalasi terbaru telah masuk ke fase yang jauh lebih berbahaya: perang energi, perang jalur laut, dan perang masa depan tatanan geopolitik Timur Tengah.
Sejak perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari 2026, situasi kawasan Teluk berubah drastis. Serangan ke wilayah Iran tidak lagi hanya diarahkan kepada fasilitas militer dan infrastruktur strategis, tetapi telah menyentuh sektor energi yang menjadi jantung ekonomi kawasan. Serangan Israel ke ladang gas South Pars—salah satu sumber energi terpenting Iran—menjadi titik balik yang sangat berbahaya, karena untuk pertama kalinya konflik ini langsung menghantam sumber daya energi hulu yang sangat vital bagi stabilitas domestik Iran dan pasar energi global. South Pars sendiri sangat penting bagi Iran karena menyumbang sekitar 70–75% pasokan gas domestiknya.
Iran tidak tinggal diam. Balasan diarahkan ke sasaran-sasaran energi dan kepentingan yang terkait dengan sekutu Amerika di kawasan Teluk. Serangan balasan Iran ke kawasan energi Teluk, disertai gangguan terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz, telah memicu kepanikan pasar global. AP melaporkan bahwa harga minyak dunia melonjak tajam, dengan Brent sempat menembus di atas 110 dolar per barel dan bahkan sempat menyentuh 119 dolar, sementara arus pengiriman minyak dan gas di Hormuz ikut lumpuh.
Di sinilah kita memahami bahwa perang ini bukan semata perang antara dua negara, tetapi perang atas urat nadi ekonomi dunia. Selat Hormuz bukan jalur biasa. Sekitar 20% perdagangan minyak dan LNG dunia melintasi kawasan ini. Karena itu, ketika Iran mengganggu atau menutup akses bagi musuhnya, efeknya tidak hanya dirasakan Washington, Tel Aviv, atau Riyadh, tetapi juga Eropa, Asia, dan negara-negara berkembang yang bergantung pada stabilitas harga energi global.
Sejarah Panjang Permusuhan
Permusuhan Israel-Iran tidak lahir dalam sehari. Ia merupakan akumulasi dari sejarah panjang. Setelah Revolusi Islam Iran 1979, Teheran menempatkan Amerika Serikat sebagai simbol hegemoni global yang harus dilawan, dan Israel sebagai entitas yang dianggap menindas Palestina serta menjadi perpanjangan kepentingan Barat di Timur Tengah. Sejak itu, Iran membangun jaringan pengaruh regional melalui Lebanon, Suriah, Irak, Gaza, dan Yaman. Sebaliknya, Israel memandang Iran sebagai ancaman eksistensial, terutama karena program nuklir, rudal balistik, dan dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok anti-Israel.
Selama bertahun-tahun, kedua pihak lebih banyak bertempur secara tidak langsung. Namun konflik 2026 memperlihatkan perubahan mendasar. Kini yang menjadi sasaran bukan hanya panglima, laboratorium, atau gudang senjata, tetapi kilang, pelabuhan, fasilitas gas, jalur ekspor, dan pusat logistik energi. Artinya, perang telah bergerak dari perang keamanan menjadi perang penghancuran kapasitas hidup negara lawan.
Perbandingan Kekuatan Senjata
Jika dilihat dari sisi militer, Israel bersama Amerika Serikat masih unggul dalam tiga bidang utama: dominasi udara, teknologi intelijen, dan kemampuan serangan presisi jarak jauh. Serangan ke South Pars menunjukkan bahwa Israel mampu menembus target yang sangat sensitif dan strategis jauh di wilayah lawan. Reuters juga melaporkan bahwa Israel melihat momentum perang ini sebagai peluang untuk mengubah peta transportasi energi kawasan, bahkan mendorong gagasan jalur pipa baru menuju pelabuhan Mediterania Israel agar ketergantungan pada Hormuz berkurang.
Akan tetapi, keunggulan udara Israel-AS tidak otomatis berarti kemenangan cepat. Iran tetap memiliki kelebihan pada bentuk perang asimetris. Kekuatan Iran terletak pada rudal, drone, kapal cepat, ranjau laut, jaringan milisi regional, dan kemampuan menekan infrastruktur energi lawan. Dalam perang modern, kemampuan merusak ekonomi dan logistik seringkali sama pentingnya dengan kemampuan merebut wilayah. Iran mungkin tidak unggul di udara, tetapi ia mampu membuat lawan membayar biaya yang sangat mahal.
Karena itu, perang ini cenderung melahirkan kebuntuan strategis. Israel dan AS dapat memukul keras Iran dari udara, tetapi Iran dapat membalas dengan membuat kawasan Teluk tidak aman, harga minyak melonjak, asuransi kapal membengkak, dan jalur energi global terganggu.
Dampak Geopolitik dan Ekonomi
Konflik ini sudah menimbulkan beberapa akibat serius.
Pertama, krisis energi global. Ketika fasilitas gas dan minyak diserang, harga energi langsung melonjak. Negara-negara industri akan terpukul, inflasi bisa naik, biaya logistik meningkat, dan negara-negara miskin paling menderita karena harga pangan dan transportasi ikut terdorong naik.
Kedua, militerisasi Selat Hormuz. Jalur ini kemungkinan akan semakin dijaga oleh koalisi internasional. Jika benar demikian, maka Teluk akan memasuki era baru: bukan hanya kawasan perdagangan energi, tetapi kawasan pengawasan militer superketat.
Ketiga, terbelahnya negara-negara Teluk. Sebagian tetap memerlukan perlindungan Amerika Serikat, namun sebagian lain makin sadar bahwa menjadi terlalu dekat dengan salah satu kubu justru membuat mereka menjadi sasaran balasan. Itulah sebabnya beberapa negara Teluk kemungkinan akan semakin agresif mendorong gencatan senjata.
Keempat, munculnya dorongan de-dolarisasi energi. Dalam konteks ini, wacana Iran untuk mengurangi ketergantungan pada dolar dan memperkuat transaksi non-Barat harus dibaca sebagai bagian dari perang sistemik. Saya perlu jujur, untuk bagian penggantian pembayaran minyak secara resmi dengan mata uang tertentu, saya belum menemukan konfirmasi kuat dari sumber primer yang kredibel dalam penelusuran ini. Namun arah umumnya jelas: konflik ini memperkuat dorongan pembentukan blok perdagangan energi di luar dominasi dolar.
Masa Depan Perdamaian Kawasan Telu
Apakah perdamaian masih mungkin? Jawabannya: mungkin, tetapi tidak mudah.
Dalam jangka pendek, perdamaian tampak suram karena masing-masing pihak merasa belum mencapai tujuan strategisnya. Israel ingin melemahkan kemampuan militer, misil, dan energi Iran secara permanen. Iran ingin menunjukkan bahwa setiap serangan ke wilayahnya akan dibayar dengan mahal oleh seluruh kawasan. Negara-negara Teluk sendiri berada dalam posisi dilematis: mereka tidak ingin Iran menang, tetapi mereka juga tidak ingin tanah, pelabuhan, dan kilang mereka menjadi arena balas dendam berkepanjangan.
Kemungkinan terbesar ke depan bukanlah perdamaian hangat, melainkan gencatan senjata dingin. Dalam skenario ini, Iran tetap bertahan tetapi lebih tertekan; Israel tetap dominan tetapi tidak sepenuhnya aman; negara-negara Teluk akan memperkuat pertahanan energi dan maritim; sementara dunia dipaksa menerima bahwa Timur Tengah telah memasuki babak baru konflik berbiaya tinggi.
Jika konflik terus berlanjut, maka ada empat skenario lanjutan yang mungkin terjadi. Pertama, perang meluas menjadi perang infrastruktur energi total. Kedua, negara-negara besar memaksa koridor maritim internasional dibuka kembali dengan pengawalan militer. Ketiga, diplomasi darurat yang dimediasi negara-negara netral seperti Oman, Turki, atau aktor global lain kembali dihidupkan. Keempat, kawasan memasuki situasi “damai semu”: senjata besar berhenti, tetapi sabotase, serangan drone, dan tekanan ekonomi terus berjalan.
Penutup
Pada akhirnya, perang Israel versus Iran bukan lagi sekadar konflik dua negara. Ia telah berubah menjadi pertarungan tentang siapa yang menguasai keamanan energi, jalur laut, dan masa depan tatanan Timur Tengah. Dalam konflik semacam ini, tidak ada kemenangan yang benar-benar murah. Yang menang secara militer belum tentu menang secara politik. Yang bertahan secara politik belum tentu selamat secara ekonomi.
Dunia harus sadar: bila Teluk terus dibakar, maka yang terbakar bukan hanya kilang minyak, tetapi juga stabilitas ekonomi dunia, keamanan pangan global, dan harapan perdamaian kawasan.
Perdamaian yang adil tetap harus diperjuangkan. Sebab perang energi, bila dibiarkan terlalu lama, tidak hanya menghancurkan negara-negara yang bertikai, tetapi juga merobohkan sendi-sendi peradaban modern yang bergantung pada stabilitas laut, perdagangan, dan rasa saling menahan diri.DS.

