Type Here to Get Search Results !

In Memoriam I Wayan Suyadnya, Banjir di Bali dan Kisah Seekor Ikan yang Menolak Mati

Oleh Denny JA

Dari dua orang sahabat, saya mendapat kabar Koordinator Satupena Bali, NTB, NTT, hari ini, 20 Maret 2026, telah berpulang karena penyakit jantung.

“Kok tak terdengar sakitnya,” saya tanya kepada Agung Gede Rai Bawantara. Agung pertama kali memperkenalkan Suyadnya kepada saya, ketika mencari calon koordinator penulis Satupena di Bali.

“Teman-teman di Bali hanya meng-share berita sakitnya di WAG Satupena Bali saja. Suyadnya,” ujar Agung, “sangat mengidolakan Bung Denny JA.”

Jika ke Bali, saya sempatkan berjumpa dengan Suyadnya. Ia datang ditemani Agung Bawantara.

Mengenang Suyadnya, saya publikasi kembali pengantar yang saya buat untuk bukunya, tahun lalu: Banjir Pagerwesi.

-000-

Ikan itu ditemukan pada hari keenam. Lumpur banjir mulai mengering, dan rumah masih seperti luka yang menganga.

Seekor gabus kecil, hitam, legam, nyaris tak bersuara, meloncat dari gumpalan tanah yang retak.

Enam hari ia terperangkap.

Enam hari tanpa air.

Enam hari tanpa makanan.

Enam hari tanpa cahaya.

Namun ia hidup.

Anak-anak bersorak. Penulisnya tertegun. Dan saya, ketika membaca kisah itu, merasakan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar keajaiban kecil.

Betapa sebuah makhluk yang tak kita perhitungkan, justru menyimpan pelajaran terbesar.

Ikan itu mestinya sudah mati.

Jika ia masih hidup, ia hidup untuk menjadi tanda.

Di tengah wilayah yang tenggelam, kehidupan kecil yang berserah kepada alam justru menolak mati.

Ikan itu adalah Bali.

Pulau ini berkali-kali disakiti. Banjir datang seperti amarah yang berulang. Sungai kehilangan jernihnya. Tanah kehilangan daya serapnya. Dan manusia perlahan kehilangan ingatan pada akar spiritualnya.

Namun Bali masih hidup.

Seperti gabus kecil itu, ia bertahan dengan tubuh yang luka, dengan alam yang menjerit, dengan keseimbangan yang kian rapuh.

Ikan yang menolak mati itu adalah pesan yang sederhana namun sunyi: hidup selalu mencari jalannya sendiri untuk bertahan.

Harapan, betapapun kecil, selalu mampu melompat dari lumpur.

-000-

Buku Banjir Pagerwesi membentangkan cermin yang tak nyaman. Bali yang dipuja sebagai surga dunia, perlahan runtuh dari dalam.

Hutan resapan Tukad Ayung kini tinggal sekitar 3 persen. Angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah sisa napas dari sebuah ekosistem.

Sungai yang dulu jernih kini membawa sampah. Hutan berubah menjadi vila. Gunung digali. Mangrove dipetak-petak dan disertifikatk.

Semua berlangsung pelan, tetapi pasti. Secara spiritual, Bali hidup dalam paradoks. Upacara semakin ramai, tetapi makna semakin tipis.

Tri Hita Karana terpajang di dinding hotel, tetapi tidak lagi mengalir dalam tindakan.

Tat Twam Asi dilafalkan, tetapi alam yang disebut “engkau” justru dilukai.

Secara ekonomi, Bali memikul beban dunia. Pariwisata meningkat, anggaran daerah tumbuh, tetapi tanah menyusut dari tangan warga. Budaya tergerus. Orang Bali perlahan menjadi tamu di tanahnya sendiri.

Dalam buku ini, semua itu tidak hanya diceritakan, tetapi ditunjukkan. Dengan data, dengan laporan, dengan keberanian seorang jurnalis yang mencintai tanahnya.

Intisarinya sederhana, namun mengguncang: Bali dipuji sebagai surga, tetapi diperlakukan sebagai pasar.

Alamnya disembah dalam ritual, tetapi dijarah dalam kebijakan.

-000-

Bali bukan satu-satunya.

Venesia, Italia, memberi kita bayangan masa depan yang mungkin.

Kota itu tenggelam perlahan. Air laut naik, tanah turun, wisatawan datang tanpa henti. Piazza San Marco berulang kali terendam. Penduduknya pergi satu per satu.

Yang tersisa adalah keindahan yang rapuh.

Penyebabnya tidak asing. Wisata massal. Hilangnya ruang resapan. Pembangunan yang melampaui daya dukung.

Bali berdiri di persimpangan yang sama.

Jika Venesia adalah peringatan, maka Bali adalah pertanyaan: apakah kita akan belajar, atau menunggu sampai semuanya terlambat.

-000-

Mengapa buku ini penting.

Pertama, ia menyatukan ekologi dan spiritualitas dalam satu napas.

Banjir tidak hanya dibaca sebagai peristiwa alam, tetapi sebagai pesan. Air menjadi bahasa. Pohon menjadi penanda. Bencana menjadi cermin.

Ini cara pandang yang jarang, namun justru paling kita butuhkan.

Kedua, ia mengembalikan Bali ke akarnya.

Tri Hita Karana bukan slogan. Tat Twam Asi bukan hiasan kata. Keduanya adalah cara hidup.

Jika alam adalah tubuh Bali, maka melukainya adalah melukai diri sendiri.

Ketiga, ia mengingatkan bahwa Bali adalah satu kesatuan yang tak bisa dipecah oleh batas administrasi.

Sungai tidak mengenal kabupaten. Air tidak berhenti di garis peta. Tanpa tata kelola yang menyeluruh, pulau ini akan terus ditarik oleh kepentingan-kepentingan kecil yang saling bertabrakan.

Buku ini bukan sekadar kesaksian atas bencana.

Ia adalah peringatan yang ditulis dengan cinta.

-000-

Kembali pada ikan gabus kecil itu.

Ia tidak memiliki kuasa. Tidak memiliki suara. Tidak memiliki agenda. Ia hanya memiliki satu hal: kesetiaan pada hukum alam.

Dan itu cukup untuk membuatnya bertahan. Bali pun bisa demikian.

Jika ia kembali mengingat, kembali menghormati air dan tanah, kembali menempatkan alam bukan sebagai objek, tetapi sebagai bagian dari dirinya, maka Bali akan menolak mati.

Bukan karena ia kuat, tetapi karena ia sadar. Sebab yang membuat sebuah pulau bertahan bukan kemewahan, bukan angka pertumbuhan, bukan gemerlap pariwisata.

Yang membuatnya bertahan adalah kesadaran. Kesetiaan pada akar. Dan cinta yang tidak putus kepada bumi tempat ia dilahirkan.

Tanpa itu, semua keindahan hanya akan menjadi kenangan yang tertunda.

Semoga buku ini menjadi cahaya kecil di tengah gelapnya ketidakpedulian.

Semoga ia menjadi panggilan untuk kembali eling, kembali ingat, bahwa hidup bukan hanya untuk diisi, tetapi untuk dijaga.

Dan semoga Bali, seperti gabus kecil itu, terus memilih untuk hidup.

Bukan hanya hari ini. Tetapi juga ketika kita semua sudah tiada.***

Jakarta, 20 Maret 2026

Referensi

 1. Amitav Ghosh, The Great Derangement: Climate Change and the Unthinkable, University of Chicago Press, 2016.

 2. Bill McKibben, The End of Nature, Random House, 1989.

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, politik demokrasi, sejarah, bisnis dan marketing, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/p/14X6oZS9s9r/?mibextid=wwXIfr

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.