Type Here to Get Search Results !

Menikmati Luka, Bayangan dan Serangga

oleh ReO Fiksiwan

„Orang akan menganggap karya Kafka sebagai penyakit kejiwaan dan frustrasi terhadap birokrasi modern. Penindasan massa.“ — Susan Sontag(1933-2004), Against Interpretation(1964).

„Hedayat memandang budaya, pandangan dunia, kepercayaan, monumen, dan lain-lain dengan sudut pandang skeptis dan kritis, sekaligus menjaga hubungannya dengan mereka dan menjadi bagian dari mereka.“ — Mehrdad Bidgoli, dosen sastra Inggris, universitas Malaysia, Hedayat, The Blind Owl and the City(2020) dalam The Palgrave Encyclopedia of Urban Literary Studies. 

Di dunia, kini dan entah, yang digerogoti oleh absurditas dan kesunyian, Franz Kafka dan Sadegh Hedayat tampaknya berdiri sebagai dua penyalin mimpi buruk yang paling jujur. 

Mereka tidak menulis untuk menyenangkan, melainkan untuk mengusik. 

Dalam Metamorphosis(die Verwandlung, 1915), Kafka mengubah Gregor Samsa menjadi serangga, bukan karena ia ingin menakut-nakuti, tetapi karena dunia sudah terlalu biasa untuk ditakuti. 

Mirip dunia yang ditakut-takuti, dari spindik, blok rekening tabungan publik , rampas HGU yang bertahun-tahun tak dipakai, perang tarif, virus baru, PHK masal, pengangguran, kemiskinan, zenofobia, dan banyak lagi teror-teror lainnya.

Di tengah kemaruk, ketakutan dan ancaman, ayo masuk kembali ke alam apresiasi, kreatif, reflektif dunia sastra dari dua sastrawan kaliber, Barat dan Timur.

Dunia imajinasi dalam The Blind Owl, Hedayat menulis hanya untuk bayangannya sendiri yang terpampang di dinding, 

„Aku hanya menulis untuk bayanganku yang terpantul di dinding di depan cahaya. Aku harus memperkenalkan diriku padanya.“

Keduanya, Kafka dan Hedayat, menolak kenyataan seperti seorang tamu tak diundang. 

Kafka menelanjangi rutinitas dan birokrasi dengan menjadikan tubuh manusia sebagai metafora penafian dan penghancuran identitas. 

Gregor, yang dulunya tulang punggung keluarga, menjadi makhluk menjijikkan yang bahkan tidak bisa berbicara. 

„Aku tak bisa membuatmu mengerti. Aku tak bisa membuat siapa pun mengerti apa yang terjadi dalam diriku. Aku bahkan tak bisa menjelaskannya pada diriku sendiri.“

Begitu gumam Gregor, dan kita pun ikut terjebak dalam labirin ketidakpahaman. Masuk ke labirin absurditas, repetisi dan rutinitas dunia, Sumur Tanpa Dasar(1989) dari Arifin C. Noer.

Hedayat, lebih murung dan lebih metafisik. Menulis, seolah-olah kematian, adalah satu-satunya kebenaran. 

 „Kita adalah anak-anak kematian, dan kematianlah yang menyelamatkan kita dari tipu daya kehidupan.“

Tokohnya bukan hanya kehilangan cinta. Tapi, kehilangan makna. 

Ia tidak mencari jawaban. Tapi, merayakan kehampaan. 

Dunia Blind Owl, dunia di mana cahaya pun tampak seperti luka, bayangan dan serangga momok yang sama.

Keduanya menulis dengan gaya yang menolak struktur dalam „Dunia, Teks, Sang Kritikus(1983;2012) dari Edward W. Said, pencetus ide orientalisme.

Parabel mereka bukan mau mengajari. Tapi, ajakan dan ungkapan untuk membingungkan. 

Satir mereka bukan untuk tertawa. Tapi, bikin gemeretak gigi. 

Absurd bukan sekadar gaya, melainkan kenyataan yang mereka akui lebih jujur daripada logika. 

Kafka dan Hedayat tidak menawarkan pelarian. Keduanya, dengan metafora serangga, bayangan dan luka, menghadirkan cermin: retak, gelap, dan mustahil dihindari.

Jika Gregor Samsa adalah tubuh yang gagal menjadi manusia, maka narator Blind Owl adalah jiwa yang gagal menjadi hidup. 

Mereka tidak bertemu dalam ruang atau waktu, tetapi dalam kehancuran yang sama. 

Namun absurditas mereka bukan lahir dari ruang hampa. Tapi, ruang menghapus kabut dan sekat antara yang privat dan yang publik.

Kafka lahir di Praha tahun 1883, dari keluarga Yahudi kelas menengah yang terjepit antara budaya Jerman dan Ceko dalam kerangkeng gettho.

Ia hidup dalam bayang-bayang ayahnya yang otoriter, Alfred Kafka, seperti tertuang dalam, Surat untuk Ayah(Brief an den Vater,1919).

Kafka bekerja di kantor asuransi sambil menulis di malam hari. Rutinitas ini sangat mengusiknya seperti tokoh Samsa dalam novelnya, Metamofosis.

Pada 3 Juni 1924 di Kierling, Austria, tepatnya di sebuah sanatorium tempat ia dirawat karena penyakit tuberkulosis yang dideritanya, Franz Kafkar wafat tepat di usia 40 tahun.

Hedayat, lahir di Teheran tahun 1903, berasal dari keluarga aristokrat Persia. 

Sebelum belajar ke Prancis, Sadegh Hedayat menulis novel The Blind Owl (Boof-e koor) pada tahun 1936 saat berada di Bombay, India, atas undangan seorang diplomat Iran bernama Sheen Partaw. Setahun kemudian, 1937, novel ini terbit.

Ia pernah mencoba bunuh diri mencebur diri ke Sungai Marne dan gagal. Kelak pada April 1951 di Paris, tepatnya di apartemennya di rue Championnet, Hedayat wafat bunuh diri.

Meski ada sepucuk pistol di meja, ia hanya menutup semua celah-celah apartemen dan membiarkan gas memenuhi ruang hingga mencekik nafasnya: sssupt!

Ia wafat bunuh diri di usia 48 tahun, dan kemudian dimakamkan di Pemakaman Père Lachaise, Paris.

Dalam Sastra dan Religiositas(1982), Romo Mangunwijaya, menggolongkan karya-karya Sadegh Hedayat sebagai sastra religiositas Islam.

Jika Gregor Samsa adalah tubuh yang gagal menjadi manusia, maka narator Blind Owl adalah jiwa yang gagal menjadi hidup. 

Mereka tidak bertemu dalam ruang atau waktu, tetapi dalam kehancuran yang sama. 

Dan mungkin, dalam absurditas itu, kita menemukan kejujuran yang paling menyakitkan.

#coversongs:

Opium & the Bent Old Man” adalah salah satu track dari album Soundtrack to The Blind Owl karya Xerxes The Dark (rilis 2021). 

Lagu ini terinspirasi dari novel klasik Iran The Blind Owl (1937) karya Sadegh Hedayat, yang dikenal dengan nuansa surrealis, kelam, dan penuh simbolisme tentang keterasingan, kematian, serta kehancuran batin.

#credit foto diambil dari Youtube untuk pembahasan kedua novel ini:

1/ https://youtu.be/H8yskCgU5ys?si=NFI9FSiRlBVsL45d

2/ https://youtu.be/4FS7PibPxVM?si=yIFaTzjdkcoatbum.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.