Type Here to Get Search Results !

Melihat Gaza dari Jerusalem Bersama Tiga Sejarawan

oleh ReO Fiksiwan

"Israel bukan sekadar sebuah bangsa, melainkan sebuah ide yang bertahan melampaui kerajaan, peradaban, dan zaman. Politik teologinya lahir dari keyakinan bahwa keberadaan Yahudi adalah bagian dari rencana sejarah yang lebih besar, di mana penderitaan bukanlah tanda kehancuran, melainkan justru kunci kelangsungan hidup." — Max I. Dimont(1912-1992), The Indestructible Jew(1973; Terjemahan 2010).

Keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) telah menimbulkan perdebatan sengit di dalam negeri. 

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa perdamaian hanya mungkin tercapai bila keamanan Israel dijamin, sebuah pernyataan yang segera dikritik oleh Ustadz Felix Siauw(41) dengan analogi tajam di IG-nya: “bagaimana mungkin perampok dan pembunuh di rumah kita dibiarkan dengan alasan keamanan bersama.”

Kritik ini mencerminkan keresahan publik terhadap arah diplomasi Indonesia yang dianggap lebih melayani kepentingan adidaya, terutama Trump dan Netanyahu, ketimbang memperjuangkan nasib Palestina. 

Reaksi keras pun muncul, bahkan MUI pusat menyerukan agar Indonesia keluar dari BoP karena dianggap mengabaikan prinsip politik luar negeri bebas aktif.

Dikutip https://www.ohchr.org/en/press-releases/2025/09/israel-seeks-permanent-control-gaza-jewish-majority-occupied-palestinian?utm_source=copilot.com mengulas:

Laporan terbaru Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB memperkuat kegelisahan tersebut. 

Israel dinilai berupaya menguasai Gaza secara permanen, menghancurkan infrastruktur sipil, memperluas zona penyangga hingga 75 persen wilayah Gaza, dan melakukan tindakan yang dikategorikan sebagai genosida. 

Navi Pillay, Ketua Komisi, menegaskan bahwa penyitaan tanah atas nama keamanan justru memperdalam penderitaan rakyat Palestina. 

Di Tepi Barat, kebijakan pencaplokan dan dukungan terhadap kekerasan pemukim Yahudi semakin menutup peluang lahirnya negara Palestina. 

Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa Gaza bukan sekadar wilayah konflik, melainkan bagian dari proyek kolonisasi yang sistematis.

Untuk memahami Gaza dalam konteks Jerusalem, tiga sejarawan kontemporer memberi perspektif berharga. 

Simon Sebag Montefiore(64), sejarawan, penulis, serta presenter televisi, dalam Jerusalem: The Biography(2011) menekankan bahwa Gaza, meski tidak menjadi pusat spiritual seperti Jerusalem, selalu terkait erat dengan dinamika politik kota suci itu. 

Gaza menjadi pintu gerbang perdagangan dan peperangan, wilayah yang menentukan keseimbangan kekuatan di sekitar Jerusalem. 

Demikian pula, Karen Armstrong(81), aktif menulis serta berbicara tentang agama, sejarah, dan isu lintas iman, dalam Jerusalem: One City, Three Faiths(2004) menyoroti bagaimana Jerusalem sebagai kota tiga iman selalu memancarkan pengaruh ke wilayah sekitarnya, termasuk Gaza. 

Bagi Armstrong, Gaza adalah bagian dari lanskap religius dan politis yang tak pernah lepas dari tarik-menarik antara Yahudi, Kristen, dan Islam. 

Terakhir, mendiang Lesley Hazleton(1945-2024), pernah aktif menulis Time, The Jerusalem Post, The New York Times, dalam Jerusalem: A Memoir of War and Peace, Passion and Politics(2022) menulis dengan nuansa personal, merekam Jerusalem sebagai pusat peradaban yang penuh paradoks. 

Gaza, dalam pandangan Hazleton, adalah cermin dari Jerusalem: wilayah yang terus-menerus menjadi korban ambisi kekuasaan, namun sekaligus simbol ketahanan rakyat yang tak mau hilang dari sejarah.

Refleksi dari ketiga sejarawan ini memperlihatkan bahwa Gaza tidak bisa dipisahkan dari Jerusalem. 

Apa yang terjadi di Gaza hari ini adalah gema panjang dari sejarah Jerusalem sebagai kota yang diperebutkan, diklaim, dan dijadikan simbol oleh berbagai kekuatan. 

Paska World Economic Forum di Davos Januari 2026 silam, isu Gaza kembali menjadi sorotan global, namun sering kali dibicarakan dalam kerangka kepentingan geopolitik adidaya, bukan dari perspektif penderitaan rakyat Palestina. 

Di sinilah tantangan bagi Indonesia: bagaimana tetap konsisten dengan politik luar negeri bebas aktif, tidak terjebak dalam permainan kekuatan besar, dan berani menyuarakan keadilan bagi Palestina. 

Seperti dikritik Dr. Dino Patti Djalal, Wamen Luar Negeri(2014-2019), Indonesia harus berhati-hati agar tidak kehilangan jati diri diplomasi yang selama ini menjadi kebanggaan: berdiri di atas prinsip, bukan tunduk pada tekanan.

Melihat Gaza dalam Jerusalem bersama tiga sejarawan berarti menyadari bahwa konflik ini bukan sekadar soal tanah, melainkan soal sejarah panjang perebutan makna dan kekuasaan. 

Gaza adalah bagian dari Jerusalem yang diperluas, sebuah ruang yang terus diperebutkan, dan kini menjadi simbol penderitaan sekaligus perlawanan. 

Indonesia, dengan sejarah diplomasi bebas aktif, seharusnya mampu membaca Gaza bukan dari kacamata adidaya, melainkan dari perspektif kemanusiaan dan keadilan. 

Dengan begitu, suara Indonesia tidak akan tenggelam dalam retorika geopolitik, melainkan berdiri tegak sebagai suara moral dunia.

#coversongs:

„Sound Of The Shofar” karya Kyle Lovett(32), aspiring actor dan mantan pemain rugby league profesional asal Australia, dirilis pada 6 Januari 2025 di bawah label KL Musik Group. 

Judulnya berarti “Suara Shofar,” yaitu terompet tanduk domba jantan yang digunakan dalam tradisi Yahudi sebagai panggilan rohani, tanda peringatan, dan simbol pertobatan.

#credit foto Gaza diambil dari berbagai postingan akun X dan diubah dalam bentuk kolase.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.