![]() |
oleh ReO Fiksiwan
Gerbang Kabut dan Peta Rahasia
„Di sebuah desa kecil bernama Lumora, yang tersembunyi di kaki gunung berkabut, hiduplah tiga bersaudara yang terkenal karena keberanian,
kecerdasan, dan jiwa petualang mereka. Mira, sang kakak tertua berusia 15 tahun, memiliki kebijaksanaan jauh di atas usianya dan selalu
berpikir sebelum bertindak. Arya, adik lelaki berusia 12 tahun, adalah sook pemberani yang tidak pernah takut menghadapi tantangan. Sementara Nara,
yang baru berusia 8 tahun, memiliki jiwa yang lembut, penuh rasa ingin tahu, meskipun pemalu.“ — Rissa Churria, Kimpulan Cerita Anak Fantasi;?Tiga Penjaga Rahasia Lumora(2025).
Kesusastraan untuk anak-anak sejak awal erat kaitannya dengan tradisi lisan, cerita dongeng yang dituturkan orang tua turun-temurun.
Dari kisah-kisah sederhana yang diwariskan secara oral, sastra anak kemudian beralih ke bentuk tertulis dalam buku cerita, cerpen, maupun prosa.
Perkembangannya semakin pesat dengan hadirnya buku cetakan, buku bergambar, komik, dan kartun yang memperkaya pengalaman membaca anak-anak.
Tradisi ini menunjukkan bahwa sastra anak selalu menjadi medium penting dalam membentuk imajinasi, nilai, dan identitas generasi muda.
Jelang menunaikan solat Jumat, saya menerima paket kumpulan cerita anak fantasi berjudul Tiga Penjaga Rahasia Lumora(2025) karya Rissa Churria, penulis kreatif yang kini bermukim di Bekasi, Jawa Barat. Setelah jumatan, saya segera membaca kumpulan cerita tersebut.
Tema dan stilistikanya cukup memikat, terdiri dari dua puluh cerita mini yang menghidupkan kembali kultur cerita anak dari tradisi lisan, terutama kisah petualangan seram.
Meski tidak sekomplit cara J.K. Rowling membangun dunia Harry Potter, tokoh-tokoh fantasi Rissa cukup berhasil merangsang adrenalin anak-anak, sekaligus melatih selera membaca agar semakin melejit.
Karya ini memperlihatkan bahwa fantasi tetap menjadi pintu masuk yang efektif untuk menumbuhkan minat baca anak-anak.
Dalam khazanah sastra anak Jerman, istilah Kinder-Jungenliteratur merujuk pada tradisi panjang yang dimulai dari karya klasik Grimm bersaudara, Hans Christian Andersen, hingga yang lebih modern seperti Eric Kästner dengan Emil und die Detektive atau Momo karya Michael Ende.
Kutip teks awal cerita Momo(1973) dari Michael Ende(1929-1995):
„Pada suatu ketika di sebuah kota besar, di sebuah negeri yang mungkin adalah negerimu sendiri, mungkin juga negeri lain. Di pinggiran kota itu, di mana rumah-rumah semakin kecil dan miskin, terdapat sebuah reruntuhan amfiteater tua dari masa yang telah lama berlalu."
Tradisi ini menekankan bahwa sastra anak bukan sekadar hiburan, melainkan juga sarana pendidikan moral, sosial, dan budaya dalam membentuk wawasan ekosistem sastrawi mereka.
Kritik terhadap karya Rissa dapat ditempatkan dalam kerangka ini, di mana fantasi anak-anak Indonesia berinteraksi dengan tradisi global sastra anak.
Dikutip cara Churria membangun fantasi anak(Penguasa Angin):
„Setelah berhasil mendapatkan Kutab Peta Garta Karun di gunung Vulkarq, Arya, Nara dan Mira, kembali menyusuri jalan mereka, mempersiapkan diri untuk tantangan berikutnya. Peta kuno yang mereka temukan di dalam kitab itu menunjukkan lokasi berikutnya yang harus mereka kunjungi: Sarang Angin.
Namun, petunjuk yang tertulis dalam kitab itu sangat membingungkan. Terdapat kalimat yang berbunyi:
"Hanya mereka yang memahami makna terdalam
angin yang akan menemukan
sarangnya. Di sanalah kebenaran terungkap, dan rahasia yang tersembunyi akan terungkap tapa bentuk."
Emer O’Sullivan(70(, profesor sastra Inggris di Leuphana Universität Lüneburg, Jerman, kini masih aktif menulis serta meneliti bidang Kinder- und Jugendliteratur bisa diacu mengapresiasi karya sastra anak, kadang diringkas teenlit(teen literature) maupun chiclit(chinsren literature).
Dalam bukunya Kinder- und Jugendliteratur im interkulturellen Kontext(2017), ia menekankan pentingnya membaca sastra anak sebagai fenomena lintas budaya, termasuk perkembangan Jungenliteratur di negara-negara Asia.
Menurut O’Sullivan, Jungenliteratur dewasa ini adalah arena penting untuk memahami bagaimana generasi muda bernegosiasi dengan identitas, tradisi, dan modernitas.
Karya-karya tersebut tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium pendidikan budaya dan politik.
Dengan perspektif interkultural, O’Sullivan mengajak pembaca untuk melihat sastra anak dan remaja sebagai jembatan antarbudaya sekaligus sebagai kritik terhadap dominasi narasi Barat dalam pasar global.
O’Sullivan menyoroti bahwa Jungenliteratur di Asia masih dipengaruhi oleh norma tradisional tentang maskulinitas, tetapi mulai bergeser dengan munculnya tokoh laki-laki yang lebih plural, sensitif, dan reflektif.
Tema sosial kontemporer seperti migrasi, urbanisasi, tekanan akademik, serta konflik antara tradisi dan modernitas semakin banyak diangkat, menjadikan sastra remaja sebagai ruang refleksi atas perubahan sosial yang dialami generasi muda.
Ia juga menekankan interkulturalitas, di mana karya-karya Asia semakin masuk ke pasar global melalui terjemahan dan adaptasi media, seperti novel remaja Jepang dan Korea yang diadaptasi ke manga, anime, atau drama televisi.
Namun, O’Sullivan mengingatkan adanya risiko homogenisasi, di mana Jungenliteratur Asia sering disesuaikan dengan selera pasar Barat.
Karena itu, ia menekankan perlunya mempertahankan kekhasan lokal agar sastra anak tetap menjadi cermin budaya masing-masing.
Dengan demikian, kritik terhadap karya fantasi Rissa Churria dapat dipahami dalam kerangka interkultural O’Sullivan.
Tiga Penjaga Rahasia Lumora bukan hanya bagian dari tradisi sastra anak Indonesia, tetapi juga bagian dari dinamika global Kinder-Jungenliteratur.
Ia memperlihatkan bagaimana cerita anak lokal dapat bernegosiasi dengan tradisi global, sekaligus membuka ruang refleksi atas identitas, budaya, dan modernitas yang dihadapi generasi muda di Asia.
#coversongs:
Anneke Grönloh adalah penyanyi pop legendaris asal Belanda yang lahir pada 7 Juni 1942 di Tondano, Sulawesi Utara (Hindia Belanda) dan wafat pada 14 September 2018 di Prancis pada usia 76 tahun.
Ia dikenal sebagai salah satu penyanyi Belanda paling populer pada era 1960-an, dengan karier panjang yang juga merefleksikan akar budayanya di Indonesia.
Lagu ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga sebuah seruan moral agar masyarakat lebih peduli terhadap mereka yang tidak memiliki keluarga dan kasih sayang.
#credit foto Mursyid Lahiya, salah satu penggemar bacaan anak sembari ngopi.

