Type Here to Get Search Results !

Lebaran Puisi Esai ke-5

Festival Puisi Esai ASEAN ke-5 berlangsung seperti pesta keluarga besar yang sudah saling kenal tabiatnya: ramai, riuh, penuh tawa, dan tentu saja—kenyang. Banyak ketawa, banyak makan, banyak jalan-jalan. Puisi esai jadi alasan resmi, sisanya bonus sosial: gosip, selfie, dan perut buncit yang pulang lebih dulu daripada kepala.

Yang paling banyak tentu bukan hanya tawa, tapi juga makalah. Hampir dua lusin pemakalah dari Malaysia, Brunei, dan Indonesia naik turun mimbar seperti pelari estafet intelektual. Thailand dan Singapura absen—entah tersesat di bandara atau sibuk berdamai dengan algoritma—tapi itu tak mengurangi aura “antarbangsa”. Orang Indonesia sih santai saja menyebutnya: internasional. Kata yang kadang lebih besar dari kenyataannya, tapi selalu terdengar gagah.

Semua pemakalah—nyaris 20 orang—berbicara tentang puisi esai dengan embel-embel AI. Ada yang optimistis seperti sales teknologi, ada yang waswas seperti penyair kehilangan pena, ada juga yang filosofis sambil sesekali menatap langit-langit aula, seolah AI bersembunyi di sana. Pendapat beragam, kadang tumpang tindih, kadang berputar-putar, tapi satu hal jelas: puisi esai masih bikin orang kepo dan mau ribut secara intelektual.

Panggung makin hidup ketika Datuk Jasni Matlani muncul dengan ide sederhana tapi mematikan: setiap selesai satu baris pantun, audiens wajib meneriakkan “onsoi!”. Mirip “cakep!” versi Malaysia. Bayangkan puisi dibacakan bukan dengan hening sakral ala pertapaan, tapi seperti pertandingan bulu tangkis: pukul—teriak, pukul—teriak. Aula mendadak berubah jadi stadion sastra.

Sekitar 200 audiens—kebanyakan mahasiswa Institut Pendidikan Guru Kampus Kent, Tuaran, Sabah—ikut larut. Setiap pantun disambut “onsoi” yang menggema, memantul ke dinding Dewan Serbaguna, lalu jatuh ke lantai bersama sisa-sisa keseriusan akademik. Sastra, rupanya, bisa juga joget tanpa kehilangan martabat.

Di sela makalah, mahasiswa memainkan Gending. Nadanya Jawa. Langgamnya Yogya. Telinga orang Indonesia langsung merasa pulang kampung. Kita ini memang serumpun: musiknya mirip, iramanya sekeluarga, hanya nama daerahnya yang beda stiker. Bahkan sebelum bicara politik atau sejarah, gamelan sudah lebih dulu menyatukan.

Makanan pun begitu. Rasanya seperti berasal dari dapur yang sama, cuma panci dan logatnya beda. Kosakata kita serumpun, warna kulit nyaris tak bisa ditebak paspornya. Busana para puan mengingatkan saya pada pakaian mendiang ibu saya. Yang membedakan hanya cara tertawa: mereka banyak tertawa, tapi rapi. Tidak ada tawa meledak-ledak seperti bapak-bapak Jakarta yang sedang merasa paling benar di warung kopi.

Festival ini layak digelar setiap tahun. Bahkan idealnya, kita datang setiap tahun tanpa perlu undangan resmi—seperti pulang lebaran. Karena di sini, sastra bukan cuma dibaca dan diperdebatkan, tapi dirayakan. Dengan tawa, pantun, “onsoi”, dan perut yang pulang lebih bahagia daripada kepala. (Jonminofri Nazir dari Tuaran, Sabah)

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.