![]() |
Oleh: Duski Samad
Khutbah Masjid Nurul Ilmi UNAND, 23 01 2026
Di tengah pertumbuhan ekonomi, kemajuan teknologi, dan banjir pencapaian individual, satu pertanyaan mendasar layak diajukan apakah manusia modern benar-benar naik dalam kualitas hidupnya, atau hanya berpindah dari satu tangga kenyamanan ke tangga kenyamanan lain tanpa makna?
Dalam perspektif nilai, hidup manusia dapat dibaca sebagai tangga bertingkat survival, secure, success, dan significant. Problem kita hari ini bukan kekurangan orang yang bertahan hidup atau bahkan sukses, melainkan kelangkaan hidup yang bermakna.
Survival dan Secure: Kewajiban Dasar, Bukan Tujuan Akhir
Islam menempatkan bertahan hidup dan rasa aman sebagai fondasi. Menjaga jiwa (ḥifẓ al-nafs) adalah tujuan pokok syariat. Al-Qur’an menegaskan larangan mencelakakan diri (QS. Al-Baqarah: 195) dan menjadikan rasa aman sebagai nikmat besar (QS. Quraisy: 4).
Namun, menjadikan survival dan security sebagai tujuan final justru menurunkan martabat manusia ke level minimal. Di sinilah banyak kebijakan publik dan orientasi hidup berhenti: cukup makan, aman, selesai. Padahal, Islam tidak mendidik umatnya untuk sekadar selamat, tetapi bermartabat.
Success: Nikmat yang Paling Berat Ujiannya
Keberhasilan—harta, jabatan, reputasi—adalah nikmat yang sah. Tetapi Al-Qur’an secara tegas menyebut kemewahan sebagai potensi kelalaian (QS. At-Takatsur: 1–2). Nabi ﷺ pun mengingatkan bahwa umat beliau tidak diuji dengan kemiskinan semata, melainkan dengan kelapangan dunia.
Di sinilah realitas sosial berbicara. Data ketimpangan menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak otomatis berbanding lurus dengan keadilan sosial. Di Indonesia, rasio gini yang fluktuatif, konsentrasi aset pada kelompok kecil, dan gaya hidup konsumtif kelas menengah menunjukkan satu gejala: sukses individual sering berjalan tanpa kontribusi sosial yang sepadan.
Fatwa dan kaidah ulama mengingatkan:
“Al-ni‘mah idzā lam tusytakar inqalabat niqmah” (Nikmat yang tidak disyukuri akan berubah menjadi bencana).
Syukur dalam Islam bukan sekadar ucapan, melainkan fungsi sosial nikmat.
Significant: Puncak Hidup Menurut Syariat dan Akal Sehat
Tangga tertinggi adalah significant—hidup yang berdampak. Nabi ﷺ merumuskan standar kemuliaan manusia bukan pada apa yang dimiliki, tetapi apa yang diberi:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (HR. Ahmad)
Inilah maqām ihsān sosial: ketika harta menjadi sedekah produktif, ilmu menjadi penerang publik, jabatan menjadi pelindung, dan usia menjadi warisan nilai.
Dalam kerangka maqāṣid al-syarī‘ah, kebermaknaan hidup terletak pada perluasan maslahat (jalb al-maṣāliḥ) dan pencegahan kerusakan (dar’ al-mafāsid). Fatwa-fatwa zakat, wakaf produktif, dan filantropi Islam modern menegaskan bahwa kebaikan personal harus bertransformasi menjadi kemaslahatan kolektif.
Realitas Indonesia: Banyak yang Sukses, Sedikit yang Signifikan
Kita menyaksikan paradoks: Gedung megah tumbuh, tapi solidaritas menipis. Prestasi meningkat, tapi kepercayaan publik menurun.
Kekayaan bertambah, tapi kegelisahan sosial meluas.
Ini bukan krisis ekonomi semata, melainkan krisis orientasi hidup. Ketika sukses berhenti pada konsumsi, dan tidak naik menjadi kontribusi, masyarakat kehilangan jangkar moralnya.
Menggeser Orientasi, Menyelamatkan Masa Depan
Survival adalah kewajiban,
Secure adalah kebutuhan,
Success adalah nikmat,
tetapi Significant adalah tujuan peradaban.
Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar dan kaya. Yang kita butuhkan adalah manusia bermakna—yang menjadikan hidupnya jalan bagi kehidupan orang lain.
Di situlah agama bertemu akal sehat, dan iman menemukan relevansinya dalam sejarah.
KESIMPULAN
Narasi Tangga Hidup Tertinggi menegaskan bahwa kenaikan kualitas hidup tidak selalu berarti kenaikan makna hidup. Manusia modern boleh jadi telah melampaui fase survival dan secure, bahkan mencapai success, tetapi masih tertahan di tangga kenyamanan yang dangkal apabila hidupnya belum memberi dampak bagi orang lain.
Islam dengan tegas menempatkan bertahan hidup dan rasa aman sebagai fondasi, bukan tujuan akhir. Keberhasilan material diakui sebagai nikmat yang sah, namun justru menjadi ujian paling berat ketika tidak diiringi dengan syukur yang berfungsi sosial. Di sinilah banyak individu dan bahkan bangsa tergelincir: sukses berhenti pada konsumsi, bukan kontribusi.
Puncak kualitas hidup menurut syariat dan akal sehat adalah significant—hidup yang bermakna, berdampak, dan melahirkan maslahat. Pada titik inilah iman menemukan relevansinya dalam sejarah, dan manusia menjalankan perannya sebagai khalifah: menghadirkan kebaikan, keadilan, dan harapan bagi sesama.
PENUTUP
Hidup ini bukan sekadar soal panjang usia, tetapi tinggi makna.
Bukan sekadar apa yang kita kumpulkan, tetapi apa yang kita tinggalkan.
Jika hari ini kita masih berjuang untuk hidup, itu mulia. Jika kita telah hidup aman dan cukup, itu nikmat. Jika kita telah berhasil dan dihormati, itu karunia.
Namun, jangan berhenti di sana.
Naikkan hidup kita ke tangga yang lebih tinggi:
jadikan rezeki sebagai jalan berbagi,
jadikan ilmu sebagai cahaya umat,
jadikan jabatan sebagai perlindungan,
dan jadikan usia sebagai warisan nilai.
Karena kelak, di hadapan Allah,
kita tidak hanya ditanya apa yang kita miliki,
tetapi siapa yang dihidupkan oleh kehadiran kita.
Semoga Allah tidak menjadikan kita
sekadar orang yang selamat,
tetapi orang yang bermanfaat.
“Ya Allah, angkatlah hidup kami dari sekadar cukup,
menjadi hidup yang bermakna;
dan akhiri usia kami dengan husnul khatimah.”
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn. Ds. 22012026.

