Type Here to Get Search Results !

SUNGAI PESONA DAN PETAKA: Safety Factor, Proyek dan Regulasi Base Profit

Oleh: Duski Samad

Tulisan ini dibuat dari pengalaman menyaksikan langsung petaka yang diderita masyarakat setelah sungai disamping rumah mereka begitu baik dan mempesona. Lalu dalam hitungan menit berubah menjadi menyeramkan dan menghilangkan nyawa, harta benda dan masa depan banyak orang. 

Pikiran sederhana penulis yang tidak banyak paham teknis pengendalian air dan daerah aliran sungai pernah disampaikan pada beberapa orang sahabat ahli teknik. Pertanyaan yang diajukan mengapa sungai yang dibuat di zaman Belanda tidak mengundang bahaya bagi warga sekitar? Seperti Banda Bakali. 

Dari diskusi ada tiga keyword yang penulis mengerti, safety factor, proyek dan regulasi negara yang berbasis profit serta abaikan sains. Perhatian terhadap keamanan dan daya tahan produk oleh penentu kebijakan di Indonesia tidak begitu penting. Biaya untuk satu kerja dijadikan 2 atau 3 kerja. Istilah proyek yang netral sering diartikan "ada uang non tekhnis". Regulasi berbasis profit misalnya biaya yang diajukan 10 milyar, lalu yang menang tender paling rendah. Bagaimana kualitas kerjanya?

Pasca banjir bandang di Sumatera menyisakan pertanyaan besar, mengapa sungai yang penuh pesona, sumber kehidupan dan keindahan, kini seolahnya menebar ancaman? 

Sungai di Batubusuk, Guo, Tabing Banda Gadang, Lubuk Minturun, Salareh Air dan puluhan sungai di Aceh, Sumut dan Sumbar membawa penderitaan bagi penduduk yang tinggal di tepinya. 

Pesona Sungai dalam Al-Qur’an digambarkan bukan sekadar bentang alam, tetapi tanda (āyah) tentang kehidupan, rahmat, keseimbangan, dan masa depan manusia. Ia hadir sebagai sumber hidup di dunia dan simbol kenikmatan abadi di akhirat.

Sungai sebagai Sumber Kehidupan. Air yang mengalir menegaskan prinsip dasar keberlangsungan makhluk: “…Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup.”

(QS. Al-Anbiyā’ [21]: 30)

Maknanya sungai adalah urat nadi ekologi—irigasi, pangan, kesehatan, dan stabilitas sosial. Merusaknya berarti mengganggu tatanan hidup.

Sungai adalah sebagai tanda kekuasaan Allah.

Aliran air mengikuti hukum-Nya—dari hujan, mata air, hingga muara: “Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menurunkan air dari langit, lalu mengalirkannya menjadi mata air di bumi…”

(QS. Az-Zumar [39]: 21)

Di sini sungai menjadi kelas terbuka tauhid keteraturan alam mengantar manusia pada kesadaran Ilahi.

Sungai sebagai gambaran Surga. Al-Qur’an berulang kali menggambarkan surga dengan sungai yang mengalir “…Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…”(QS. Al-Baqarah [2]: 25)

Rinciannya bukan hanya air:

Air yang tak berubah rasa

Susu yang lezat. Khamr yang nikmat tanpa mudarat.Madu yang murni

(QS. Muhammad [47]: 15)

Pesan batinnya keindahan sungai dunia adalah bayangan dari keindahan hakiki di akhirat.

Sungai dan amanah manusia (Khalifah).

Manusia dititipi bumi untuk dijaga, bukan dieksploitasi: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia…”

(QS. Ar-Rūm [30]: 41)

Banjir, kekeringan, dan pencemaran sungai seringkali lahir dari kelalaian etis—alih fungsi lahan, rakus sumber daya, kebijakan tanpa safety factor.

Sungai sebagai jalan tadabbur. Sungai mengajarkan kerendahan hati (air selalu mengalir ke tempat rendah). Kesabaran (mengikis batu tanpa tergesa). Keberlanjutan (memberi tanpa henti)

Ia mengalir, tetapi tidak kehilangan jati diri—sebuah pelajaran akhlak.

Sungai adalah ayat yang mengalir. Siapa yang merawatnya, ia sedang menjaga kehidupan.

Siapa yang merusaknya, ia sedang mengundang peringatan.

Menjaga sungai berarti ibadah ekologis: merawat rahmat Allah agar tetap mengalir bagi generasi kini dan nanti.

SUNGAI URAT NADI KEHIDUPAN 

Di negara maju dan yang sudah memiliki kesadaran ekologi baik mudah melihat faktanya bahwa sungai urat nadi kehidupan. 

Tak perlu jauh ke Eropah, cukup ke negeri jiran, terbang 60 menit dari BIM terus ke tengah kota Kuala Lumpur di kawasan kota Melayu, tak jauh dari menara kembar disana ada sungai yang membawa pesona bagi pelancong. Inggris dulu menata sungai menjadi pusat kehidupan warga Kuala Lumpur.

Sungai adalah urat nadi peradaban. Dari sanalah air mengalir, pangan tumbuh, energi bergerak, dan peradaban manusia menemukan ruang hidupnya. Namun sejarah juga mengajarkan satu hal yang sering diabaikan: sungai bukan hanya memberi, ia juga menagih kepatuhan. Ketika dikelola tanpa kehati-hatian, sungai berubah dari pesona menjadi petaka. Di titik inilah muncul ketegangan yang terus berulang: keselamatan (safety factor) berhadapan dengan kebijakan berbasis profit.

Secara ekologis, sungai adalah pengatur iklim mikro dan koridor keanekaragaman hayati. Secara ekonomi, ia menopang irigasi, perikanan, energi, dan pariwisata. Secara kultural dan spiritual, sungai adalah ruang sejarah—tempat ritus, pemukiman awal, dan simbol keberlanjutan hidup. Pesona inilah yang kerap menggoda investasi: permukiman, tambang, industri, dan pariwisata massal. Namun ketika pesona itu tidak berlapik ilmu dan etika kebijakan, sungai pelan-pelan berubah menjadi sumber ancaman.

Petaka sungai hadir dalam banyak wajah banjir bandang, longsor tebing, abrasi, sedimentasi, pencemaran, hingga konflik sosial dan kemiskinan pascabencana. Semua itu bukan sekadar fenomena alam. Ia meningkat tajam ketika daya dukung dilampaui dan peringatan ilmiah diabaikan. Sungai pada dasarnya hanya mengikuti hukum alam; manusialah yang sering melanggar hukum keselamatan.

Di sinilah makna safety factor menjadi krusial. Safety factor adalah margin aman dalam perencanaan—jarak sempadan sungai, daya tampung debit, stabilitas lereng, hingga perhitungan skenario ekstrem curah hujan. Masalah muncul ketika analisis risiko dipersempit demi percepatan proyek, kajian teknis ditawar oleh kepentingan jangka pendek, dan suara ahli dikalahkan oleh target ekonomi. Akibatnya, sungai yang tampak jinak berubah ganas saat musim ekstrem datang.

Kebijakan berbasis profit sering menawarkan jalan pintas yang tampak menguntungkan di awal: bangunan di bantaran sungai dilegalkan, AMDAL dilonggarkan, rehabilitasi hulu ditunda karena dianggap tidak produktif. Namun jalan pintas ini menyimpan biaya tersembunyi yang mahal: kerugian ekonomi besar, korban jiwa, trauma sosial, dan runtuhnya kepercayaan publik. Murah di depan, mahal di belakang.

Realitas ini tampak jelas pada banjir berulang di Sumatera. Pulau ini dianugerahi sungai-sungai alami dengan debit besar dan DAS luas. Namun hulu banyak yang rusak oleh deforestasi dan tambang, sempadan sungai dilanggar oleh permukiman dan usaha, normalisasi dilakukan secara parsial tanpa pemulihan ekosistem, dan kajian ekstrem sering diremehkan. Ketika hujan besar datang, sungai seolah “mengambil kembali ruangnya”. Banjir bandang dan longsor bukan anomali; ia adalah alarm kebijakan.

Bandingkan dengan Belanda, sebuah negeri yang justru berada di bawah permukaan laut. Sungai-sungainya banyak yang buatan, kanal-kanal dibangun dengan biaya sangat mahal, dan tanggul dirancang dengan safety factor tinggi. Ruang air dihormati; floodplain disediakan, manusia menyesuaikan diri dengan air, bukan memaksa air tunduk pada manusia. Di sana, keselamatan adalah doktrin negara, bukan variabel yang bisa ditawar. Investasi besar di depan dianggap jauh lebih murah dibanding biaya bencana di belakang. Sains dan tata kelola memimpin politik, bukan sebaliknya.

Perbandingan ini memperlihatkan kekeliruan mendasar kita. Di Sumatera, pendekatan cenderung reaktif—bergerak setelah banjir terjadi. Di Belanda, pendekatan preventif—mencegah sebelum air meluap. Di sini sempadan sering dilanggar, di sana sempadan dianggap sakral. Di sini hulu dieksploitasi, di sana dilindungi. Pelajaran pahitnya sederhana namun tegas: menghemat keselamatan adalah cara paling mahal untuk membangun.

Karena itu, jalan ke depan bukan menolak ekonomi, melainkan menata ulang prioritas. Safety factor harus menjadi prasyarat izin. Pengelolaan harus berbasis DAS dari hulu hingga hilir. Sempadan sungai mesti ditegakkan dengan relokasi yang berkeadilan. Normalisasi sungai harus disertai restorasi ekologis. Kajian ilmiah wajib transparan dan partisipatif. Insentif ekonomi harus diarahkan pada konservasi, bukan perusakan.

Pada akhirnya, sungai bukan sekadar aset ekonomi. Ia adalah amanah ekologis dan sosial. Ketika profit mengalahkan keselamatan, sungai mengingatkan kita dengan cara paling mahal: bencana. Namun ketika keselamatan dijadikan panglima kebijakan, sungai kembali menjadi pesona—menopang ekonomi tanpa mengorbankan nyawa.

Intinya jelas: keuntungan yang berkelanjutan hanya lahir dari keselamatan yang ditegakkan. DS. 18012026.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.