Type Here to Get Search Results !

SPIRITUALITAS UMRAH: Menyempurnakan Jiwa di Tengah Krisis Moral dan Mental

Oleh: Duski Samad 

Taushiyah pemberangkatan umrah PT. Ukhuwah Berkah Hasanah, Selasa, 27 Januari 2026.

Di tengah kemajuan material dan derasnya arus digital, manusia modern justru mengalami kekosongan makna. Depresi, kecemasan, kelelahan batin, dan krisis integritas moral muncul di ruang-ruang yang ironisnya paling “maju”. Ibadah pun kerap direduksi menjadi simbol—ramai di ritual, sepi di akhlak. Dalam konteks inilah spiritualitas umrah menemukan relevansi terapetiknya.

Landasan etik-spiritual itu terang dalam firman Allah: “Wa atimmul-ḥajja wal-‘umrata lillāh”—“Dan sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah” (QS. Al-Baqarah: 196) dalam Al-Qur'an. Kata atimmū (sempurnakan) menuntut ketuntasan: bukan sekadar berangkat, melainkan selesai hingga membuahkan perubahan jiwa dan perilaku.

Umrah sebagai Terapi Jiwa (Nash & Makna)

1. Ihram—Terapi Pengendalian Diri.

Nash: Larangan-larangan ihram mendidik pengendalian nafsu dan ego. Makna Konseling: Self-regulation. Jiwa belajar menunda dorongan, menata emosi, dan menerima batas—kunci menurunkan impulsivitas dan kecemasan.

2. Thawaf—Terapi Pusat Makna.

Nash: Mengelilingi Ka’bah memusatkan orientasi hidup pada tauhid.

Makna Konseling: Mindfulness & meaning-making. Fokus berulang menenangkan pikiran yang terpecah (fragmented self), menata ulang prioritas hidup.

3. Sa’i—Terapi Harap dan Ikhtiar.

Nash: Jejak Hajar antara Shafa–Marwa adalah ikhtiar yang disertai tawakal.

Makna Konseling: Hope-based counseling. Bergerak aktif sambil berharap pada Allah mereduksi keputusasaan dan learned helplessness.

4. Tahallul—Terapi Pembaruan Diri.

Nash: Melepaskan rambut sebagai simbol lahir baru.

Makna Konseling: Cognitive reframing. Mengganti narasi diri lama (bersalah, gagal, sinis) dengan komitmen baru yang sehat dan realistis.

Konseling Islami: Dari Ritual ke Akhlak

Spiritualitas umrah tidak berhenti pada emosi sesaat. Konseling Islami menekankan pasca-ritual sebagai ukuran ketuntasan:

Niat ikhlas (lillāh) → membersihkan motif dari pencitraan.

Muhasabah berkelanjutan → evaluasi harian perilaku dan emosi.

Tazkiyatun nafs → disiplin ibadah, adab sosial, dan empati.

Komitmen etis → kejujuran, amanah, dan kepedulian sebagai buah.

Penutup

Spiritualitas umrah adalah labor jiwa: ruang koreksi batin yang menyatukan iman, akal, dan perilaku. Di tengah krisis moral–mental, perintah “wa atimmul-ḥajja wal-‘umrata lillāh” mengajak manusia modern keluar dari hidup setengah-setengah. Ketika ibadah disempurnakan—dengan nash sebagai kompas dan konseling Islami sebagai metode—jiwa menemukan ketenangan, dan akhlak menemukan arah. ds

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.