Type Here to Get Search Results !

SIMPUL BATIN: Menenangkan Jiwa di Jalan Ibadah

Oleh: Duski Samad

Penceramah pada Tabligh Akbar Isra’ Mi‘raj dan Reuni Akbar Jemaah Umrah Holiday Travel

Ada saat-saat ketika ibadah tidak lagi sekadar rangkaian gerak dan bacaan, melainkan perjalanan batin yang memulihkan. Isra’ Mi‘raj dan Umrah mengajarkan hal itu—bahwa Allah menuntun hamba-Nya bukan hanya dengan perintah, tetapi dengan jalan ketenangan. Di jalan itu, tiga simpul batin mengikat jiwa: masjid, shalat, dan komando batin.

Perjalanan Isra’ dimulai dari Masjidil Haram dan berakhir di Masjidil Aqsha. Umrah pun berangkat dari niat yang suci menuju Baitullah dan kembali dengan hati yang ditata. Masjid, di sini, bukan sekadar bangunan; ia adalah rumah pulang jiwa. Allah berfirman, “Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha…” (QS. al-Isrā’: 1). Dalam pandangan tasawuf, masjid adalah ruang kehadiran—tempat hati dilatih untuk hadir sepenuhnya. Abu Hamid al-Ghazali mengingatkan, masuklah ke masjid dengan adab, karena adab itulah yang memanggil ketenangan turun. Start dan finish ibadah bertemu di satu titik: qalb yang pulang.

Di puncak Mi‘raj, Nabi ﷺ tidak menerima banyak perintah—yang diterima adalah shalat. Ia menjadi poros. Umrah pun diisi dan ditutup dengan shalat; bahkan ada karunia waktu yang menghadirkan dua kali Jumat—bukan promosi lahiriah, melainkan peluang ruhani. Allah menegaskan, “Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Ṭāhā: 14). Shalat yang hidup mengangkat jiwa. Ibn Qayyim al-Jawziyya menulis, kegelisahan bersemi ketika hati terikat pada sebab; shalat memutus ikatan itu dan mengikatkan hati kepada Musabbib. Maka khusyuk bukan hiasan—ia obat.

Namun, ketenangan terdalam lahir ketika ibadah memasuki komando batin. Di sana, tasbih membuka pintu: Subḥānallāh—penyucian persepsi. Kita melepaskan sangkaan buruk, menyerahkan luka dan takut kepada Yang Mahasuci. Lalu datang kesadaran ‘abdihi—kehampaan ego. Isra’ menegaskan kehambaan sebelum keagungan; ketika ego runtuh, beban psikis ikut luruh. Hingga akhirnya jiwa tiba di Sidratul Muntahā—batas tuntutan, awal kepasrahan. Allah berfirman, “(Penglihatan Nabi) tidak berpaling dan tidak melampaui.” (QS. an-Najm: 17). Di titik ini, jiwa berhenti menuntut hasil dan mulai bersandar. Sakinah pun menetap.

Ibadah batiniyah tidak berdiri di luar syariat; ia menyempurnakannya. Prinsip-prinsip etika ibadah dan kemaslahatan yang ditegaskan para ulama—termasuk rambu niat, kejujuran, dan maslahat yang dirumuskan secara kelembagaan oleh Dewan Syariah Nasional MUI—menjaga agar jalan batin tetap lurus, aman, dan berdampak baik bagi jiwa serta masyarakat.

Maka, ketika langkah kita menuju masjid, biarkan hati ikut melangkah. Ketika berdiri shalat, biarkan jiwa naik. Ketika tasbih bergetar di bibir, biarkan prasangka luruh. Ketika kehambaan disadari, biarkan ego padam. Dan ketika tiba di Sidratul Muntahā, serahkan segalanya. Sebab Allah telah menjanjikan: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. ar-Ra‘d: 28).

Di sanalah Isra’ Mi‘raj dan Umrah menemukan maknanya—ketenangan batin yang meneguhkan hidup.

Kesimpulan

Isra’ Mi‘raj dan Umrah pada hakikatnya adalah perjalanan batin yang menuntun manusia dari kegelisahan menuju ketenangan. Keduanya menegaskan bahwa ibadah tidak berhenti pada gerak lahiriah, tetapi berpuncak pada kehadiran hati dan kepasrahan jiwa kepada Allah SWT.

Tiga simpul batin menjadi poros ketenangan tersebut. Pertama, masjid sebagai titik start dan finish menegaskan bahwa setiap perjalanan iman bermula dari niat yang suci dan berakhir pada hati yang pulang kepada Allah. Kedua, shalat sebagai poros Mi‘raj menunjukkan bahwa shalat yang hidup dan khusyuk adalah sarana utama naiknya jiwa, penyembuh kegelisahan, dan penata ulang orientasi hidup. Ketiga, komando batin—Subḥānallāh, ‘abdihi, dan Sidratul Muntahā—mengajarkan penyucian persepsi, kesadaran kehambaan, dan kepasrahan total sebagai kunci lahirnya sakinah.

Diperkuat oleh nash Al-Qur’an, Sunnah, pandangan tasawuf klasik, serta etika fatwa kontemporer, ibadah batiniyah terbukti menjadi jalan pemulihan ruhani yang aman, lurus, dan berdampak nyata. Ia menenangkan jiwa tanpa keluar dari koridor syariat, bahkan menyempurna kannya. Di tengah kelelahan moral, tekanan hidup, dan luka kolektif umat, pendekatan ini menghadirkan keteduhan iman yang membumi.

Rekomendasi

1. Penguatan Ibadah Batiniyah dalam Dakwah

Materi Isra’ Mi‘raj dan manasik umrah perlu secara sadar memasukkan dimensi batin, khusyuk, dan muhasabah, agar jamaah tidak hanya paham hukum, tetapi juga mengalami ketenangan.

2. Masjid sebagai Pusat Pemulihan Jiwa.

Masjid hendaknya difungsikan bukan hanya sebagai tempat ritual, tetapi juga ruang terapi ruhani—melalui dzikir terpandu, shalat khusyuk, dan kajian tasawuf yang membumi.

3. Revitalisasi Shalat sebagai Mi‘raj Harian

Para pembimbing ibadah dan dai dianjurkan menekankan kualitas shalat: pemahaman bacaan, ketenangan gerak, dan kehadiran hati sebagai bagian dari pendidikan iman.

4. Integrasi Etika Fatwa dan Tasawuf. Pendekatan batiniyah perlu terus dikawal oleh prinsip-prinsip syariat, niat, dan kemaslahatan, agar ibadah tetap lurus, aman, dan memberi dampak sosial yang positif.

5. Aplikasi untuk Pemulihan Pascabencana dan Kelelahan Moral. Model “tiga simpul batin” ini direkomendasikan sebagai kerangka healing spiritual bagi jamaah, penyintas bencana, dan masyarakat yang mengalami tekanan psikologis dan sosial.

Penutup

Dengan menghidupkan masjid, memaknai shalat, dan menata komando batin, Isra’ Mi‘raj dan Umrah menjelma menjadi jalan tenang menuju Allah—meneguhkan iman, menyejukkan jiwa, dan menumbuhkan daya tahan batin untuk menjalani kehidupan dengan lebih damai dan bermakna. Grandzuhri hotel 100126.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.