![]() |
Oleh: Duski Samad
Kajian Subuh Mubarakah Masjid Nurul Awal Lapai, 17 Januari 2025
Ada empat perangkat kehidupan super canggih yang disediakan Allah bagi manusia untuk mengurus dirinya dan alam ciptaan sang khaliq. Fisik, perasaan, akal cerdas dan hati nurani yang mesti diurus dengan baik.
Mengurus hati bukan sekadar kewajiban agama, tetapi sebuah seni hidup. Ia menuntut kepekaan, kesadaran, dan kejujuran batin. Hati tidak cukup “dipaksa” dengan nasihat, tetapi perlu dirawat dengan hikmah. Al-Qur’an memberi dua ayat kunci yang menjadi poros seni mengelola hati: peringatan keras dan terapi lembut—keduanya hadir dalam Surat al-A‘rāf ayat 100 dan 201.
1. Ketika Hati Dikunci: Peringatan Seni yang Paling Keras
(QS. al-A‘rāf: 100) “…dan Kami kunci hati mereka, sehingga mereka tidak mendengar.”
Ayat ini tidak berbicara tentang telinga yang tuli, tetapi hati yang kehilangan daya tangkap kebenaran. Inilah fase paling berbahaya dalam perjalanan batin manusia:
Nasihat dianggap serangan
Kritik dipersepsi sebagai kebencian. Kebenaran terasa mengancam kepentingan.
Seni pertama mengurus hati adalah membaca tanda-tanda penguncian hati, di antaranya:
Merasa selalu benar
Sulit mengakui salah
Menormalisasi dosa dan kebohongan. Tidak tersentuh oleh ayat, musibah, atau nasihat
Penguncian hati bukan datang tiba-tiba. Ia adalah akumulasi dosa yang diulang, kezaliman yang dibela, dan nurani yang diabaikan. Pada titik ini, ilmu tidak lagi membimbing, kekuasaan tidak lagi menyejahterakan, dan agama tinggal simbol.
Pelajaran seni dari ayat 100: Jangan menunggu hati terkunci untuk mulai mengurusnya.
2. Sentuhan Setan dan Kesadaran Orang Bertakwa
(QS. al-A‘rāf: 201), “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, apabila mereka ditimpa bisikan setan, mereka segera ingat (kepada Allah), maka seketika itu mereka melihat (kebenaran).”
Ayat ini mengajarkan bahwa bisikan gelap tidak pernah nol—bahkan pada orang beriman. Bedanya bukan pada ada atau tidaknya godaan, tetapi pada kecepatan sadar dan kembali.
Inilah seni tingkat tinggi mengurus hati: Tidak merasa suci. Tidak menyangkal kelemahan.
Cepat berhenti saat salah
Segera kembali kepada Allah.
Kata kunci ayat ini adalah “fadzakkarū” (mereka segera ingat). Ingat di sini bukan sekadar lisan, tetapi kesadaran batin yang membangunkan bashirah—mata hati yang mampu melihat kebenaran dengan jujur.
Seni dari ayat 201: Bukan tidak jatuh, tetapi cepat bangkit.
3. Seni Keseimbangan: Takut dan Harap
QS. al-A‘rāf 100. menanam kan khauf (takut hati terkunci). QS. al-A‘rāf 201 menumbuhkan raja’ (harapan hati dipulihkan).
Mengurus hati bukan dengan ancaman saja, dan bukan pula dengan penghiburan semata. Seni spiritual Islam selalu seimbang: Takut agar tidak lalai. Harap agar tidak putus asa. Hati yang sehat hidup di antara dua sayap ini.
4. Praktik Seni Mengurus Hati (Amaliyah Ringkas)
a. Seni Mendeteksi Dini Setiap malam bertanya pada diri: Apa yang hari ini membuatku keras?
Siapa yang kusakiti dengan lisan atau sikap?
Apakah aku membela kebenaran atau egoku?
b. Seni Mengingat (Dzikir Bashirah). Astaghfirullah → membersihkan karat batin.
Hasbiyallāh → menenang kan kecemasan.Allahumma ya muqallibal qulūb tsabbit qalbī ‘alā dīnik.
c. Seni Menutup Luka
Sedekah untuk melembutkan hati.
Memaafkan untuk membebaskan diri
Diam yang sadar, bukan diam yang mendendam
5. Dari Hati ke Peradaban
Hati yang dikelola dengan baik melahirkan:
Pemimpin yang amanah
Ilmu yang jujur. Kebijakan yang berkeadilan.
Sebaliknya, hati yang terkunci melahirkan krisis berlapis: moral, sosial, hingga ekologis. Maka, pembenahan umat dan bangsa tidak mungkin berhasil tanpa seni mengurus hati.
Penutup
QS. al-A‘rāf ayat 100 mengingatkan kita agar tak bermain-main dengan dosa. QS. al-A‘rāf ayat 201 mengajarkan agar tak berlama-lama dalam kesalahan.
Di antara peringatan dan harapan itulah seni mengurus hati bekerja—lembut, jujur, dan terus-menerus.
Karena pada akhirnya, yang paling menentukan arah hidup bukan seberapa cerdas akal kita, tetapi seberapa terurus hati kita. DS.17012026

