![]() |
| Penulis dan rombongan di Salareh Aia, ketika mengantarkan bantuan ke Kecamatan Palembayan itu. |
Oleh: Duski Samad
Tugas mengantarkan zakat dan bantuan ke Nagari Salareh Air—daerah terparah terdampak galodo (banjir bandang) di Sumatera Barat—menghadirkan kesan yang sulit dilukiskan dengan kata. Sudah sebulan berlalu sejak bencana itu terjadi, namun jejak kehancurannya masih terasa nyata, menyayat batin siapa pun yang menyaksikan langsung.
Empat jorong terdampak parah: Sabarang Air, Simpang Air Tajun, Kampung Tanjung, dan Sawah Laweh. Di titik-titik inilah sadarok—seketika dan sesaat—air bah setinggi sekitar 20 meter, bercampur batu-batu raksasa dan kayu gelondongan, menghantam rumah, sawah, dan infrastruktur nagari tanpa ampun.
Sungai yang dahulu hanya dipenuhi batu-batu biasa, kini berubah menjadi aliran raksasa dengan bongkahan besar berserakan. Saat puncak banjir, ketinggian air diperkirakan mencapai 20 meter. Sawah yang selama ini subur dan menjadi tumpuan hidup masyarakat, kini berganti menjadi hamparan batu dan lumpur. Iklim sejuk dan bentang perbukitan yang dahulu menenangkan, seolah menyimpan duka mendalam.
Hulu air berasal dari Batang Aie Alahan Agang, aliran dari kawasan gunung dan danau yang berjarak sekitar 10 kilometer. Ketika daya rusak alam bertemu dengan kerentanan tata ruang dan daya dukung lingkungan, maka bencana berubah menjadi tragedi kemanusiaan.
Data sementara menyebutkan 105 orang telah ditemukan sebagai korban meninggal, dan lebih dari 100 orang lainnya belum ditemukan. Tujuh jembatan roboh, memutus akses dan memperpanjang penderitaan warga. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan nama, keluarga, dan masa depan yang terhenti.
Baldatun Ṭayyibatun yang Terluka
Al-Qur’an mengingatkan kita tentang sebuah negeri ideal—negeri yang baik, makmur, dan diberkahi:
“Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Dikatakan kepada mereka): ‘Makanlah olehmu dari rezeki Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu adalah) negeri yang baik (baldatun á¹ayyibatun) dan (Tuhanmu) Tuhan Yang Maha Pengampun.’”(QS. Saba’: 15)
Namun ayat berikutnya juga memberi peringatan keras ketika manusia berpaling dari amanah dan keseimbangan:“Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir besar (sail al-‘arim), dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) berbuah pahit, pohon atsl dan sedikit dari pohon sidr.”
(QS. Saba’: 16).
Ayat ini bukan sekadar kisah masa lalu. Ia adalah cermin peradaban. Ketika keserakahan, pengabaian lingkungan, dan ketidakadilan struktural dibiarkan, maka baldatun á¹ayyibatun bisa berubah menjadi kebun yang rusak—secara ekologis, sosial, dan spiritual.
Zakat, Solidaritas, dan Amanah Peradaban
Mengantarkan zakat dan bantuan ke Salareh Air bukan hanya soal distribusi logistik. Ia adalah pesan iman dan solidaritas: bahwa penderitaan tidak boleh dibiarkan sendiri, dan bencana harus dijawab dengan empati, keadilan, serta pembenahan serius ke depan.
Zakat menjadi penopang darurat, tetapi keadilan ekologis, tata ruang yang aman, dan kebijakan berbasis keselamatan rakyat adalah keharusan jangka panjang. Jika tidak, sejarah kaum Saba’ akan terus berulang dalam wajah dan nama yang berbeda.
Salareh Air hari ini adalah luka kita bersama. Dari sana, semoga lahir kesadaran baru: menjaga alam adalah bagian dari menjaga iman, dan menolong sesama adalah jalan menuju pemulihan baldatun á¹ayyibatun yang sejati.
Hancurnya MTI, Tsanawiyah Muhammadiyah, dan SMA adalah “Patah Tulang” Nagari.
Galodo tidak hanya merobohkan rumah dan jembatan—ia memutus urat nadi pendidikan. Ketika Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI), Tsanawiyah Muhammadiyah, dan SMA ikut hancur, maka yang runtuh bukan sekadar bangunan, tetapi sistem pembentukan manusia nagari: adab, ilmu, keterampilan, dan harapan mobilitas sosial.
Di nagari, sekolah-sekolah ini punya fungsi ganda: MTI: pusat transmisi ilmu agama, tradisi surau, karakter, dan disiplin sosial (membentengi akhlak saat krisis). Tsanawiyah Muhammadiyah: penguat literasi modern-bernilai, jaringan sosial-organisasi, dan budaya gotong royong. SMA: tangga terakhir sebelum kuliah/kerja—jalur utama memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
Ketika tiga simpul ini hancur, risikonya adalah lost generation: generasi yang “selamat tubuhnya”, tetapi tertinggal pendidikannya, menurun motivasinya, lalu masuk ke pekerjaan rentan.
Ekonomi Pascabencana: Sekolah Hancur = Pendapatan Rumah Tangga Ikut Jatuh
Pascagalodo, ekonomi nagari biasanya terpukul lewat 5 jalur sekaligus:
1) Aset produktif lenyap
Sawah berubah menjadi batu, lahan rusak, ternak hilang, alat kerja hanyut. Artinya: pendapatan primer turun, sementara biaya hidup naik.
2) Biaya pemulihan menggerus konsumsi
Rumah tangga mengalihkan uang untuk perbaikan rumah, transportasi, kesehatan, dan kebutuhan darurat. Akibatnya, belanja pendidikan (seragam, buku, ongkos) menjadi “korban pertama”.
3) Hilangnya akses = pasar lumpuh
Jembatan roboh memutus logistik: harga kebutuhan naik, hasil panen sulit keluar, pedagang kehilangan pembeli. Ini menciptakan inflasi lokal dan memperdalam kemiskinan.
4) Anak menjadi “tenaga kerja darurat”
Ketika orang tua kehilangan mata pencaharian, anak sering terdorong membantu ekonomi keluarga. Jika sekolah rusak dan jadwal belajar tak pasti, keputusan putus sekolah jadi lebih mudah.
5) Efek psikologi ekonomi
Trauma dan ketidakpastian menurunkan produktivitas, meningkatkan konflik rumah tangga, dan melemahkan daya juang. Ini mengurangi kemampuan masyarakat untuk bangkit cepat.
Intinya: pendidikan dan ekonomi saling mengunci. Bila sekolah tidak segera pulih, pemulihan ekonomi juga melambat—karena kualitas SDM dan disiplin sosial ikut melemah.
Pendidikan: Dampak Berlapis yang Sering Tidak Terlihat.
1) Learning loss (kehilangan capaian belajar)
Sebulan tanpa sekolah saja bisa membuat kemampuan literasi-numerasi turun. Jika berbulan-bulan, gap makin lebar—terutama bagi siswa kelas akhir (IX dan XII).
2) Putus sekolah meningkat
Risiko tertinggi:
keluarga kehilangan pendapatan,
akses transportasi putus, sekolah pindah jauh/menumpang, anak trauma atau malu karena kehilangan perlengkapan.
3) Krisis identitas dan karakter
Bagi MTI dan madrasah, kerusakan bukan cuma kurikulum—tapi habitus: kedisiplinan, adab, halaqah, suasana belajar, dan ikatan guru-santri. Ini sulit diganti.
4) Beban guru membesar
Guru bukan hanya mengajar: mereka mengurus data siswa, trauma healing, logistik kelas darurat, dan komunikasi dengan orang tua. Tanpa dukungan, kualitas pembelajaran akan menurun.
5) Migrasi pendidikan
Sebagian keluarga mungkin memindahkan anak ke sekolah lain. Ini bisa baik untuk individu, tetapi bagi nagari bisa berarti brain drain: anak-anak terbaik keluar, nagari kehilangan calon pemimpin masa depan.
Mengikat Semua Ini dengan “Baldatun Thayyibatun” dan Kebun yang Rusak
Kisah Saba’ menggambarkan negeri yang diberi dua kebun subur—lalu berubah menjadi kebun yang pahit ketika terjadi “sail al-‘arim”. Dalam konteks Salareh Air, “kebun yang rusak” itu nyata: sawah menjadi batu, akses runtuh, dan kini sekolah-sekolah roboh.
Pesannya tajam: baldatun thayyibatun bukan hanya soal alam yang indah, tetapi juga institusi yang menjaga keberlangsungan hidup—terutama pendidikan. Negeri baik adalah negeri yang mampu melindungi generasinya saat bencana.
Pemulihan Terpadu: Ekonomi–Pendidikan–Sosial dalam Satu Paket
A. Langkah cepat (0–3 bulan): “Sekolah Jangan Berhenti” Sekolah darurat terstandar (tenda/ruang publik/masjid) dengan jadwal tetap.
Paket perlengkapan belajar per siswa (tas, buku, seragam sederhana). Transportasi darurat untuk jalur yang putus (antar-jemput komunitas). Layanan dukungan psikososial berbasis guru, tokoh agama, dan kader nagari. Pendataan risiko putus sekolah: yatim/piatu, keluarga hilang rumah, keluarga kehilangan nafkah.
B. Pemulihan menengah (3–12 bulan): “Bangun Kembali dengan Aman” Rekonstruksi MTI, Tsanawiyah, SMA di lokasi aman (audit risiko, jarak aman dari alur banjir, desain tahan bencana). Program remedial massal (literasi, numerasi, mapel inti) untuk menutup learning loss. Beasiswa darurat + cash transfer pendidikan untuk keluarga terdampak agar anak tidak bekerja. Rekonstruksi ekonomi keluarga: bibit/alat tani, padat karya, UMKM sekolah (koperasi siswa/orang tua), perbaikan irigasi dan lahan.
C. Penguatan jangka panjang (1–5 tahun): “Nagari Tangguh, Generasi Tangguh”
Sekolah sebagai pusat kesiapsiagaan bencana (kurikulum lokal mitigasi, simulasi evakuasi). Sistem peringatan dini komunitas di hulu-hilir. Diversifikasi ekonomi nagari: pertanian adaptif, pengolahan hasil, wisata edukasi-budaya (setelah aman). Penguatan ekosistem wakaf–zakat pendidikan: bukan hanya bantuan konsumtif, tetapi dana abadi untuk operasional sekolah dan beasiswa.
Penutup:
Mengembalikan “Sekolah” Sama dengan Mengembalikan “Harapan”
Jika rumah dibangun kembali, tapi MTI, Tsanawiyah Muhammadiyah, dan SMA tidak segera pulih, maka nagari akan hidup dalam “normal baru” yang rapuh: miskin baru, ketimpangan baru, dan generasi tertinggal.
Maka pemulihan terbaik bukan hanya “membangun bangunan”, tetapi menyelamatkan jalur hidup: pendidikan sebagai jalan keluar dari trauma, kemiskinan, dan keterputusan masa depan.
Kalau Prof berkenan, saya bisa lanjutkan versi artikel opini media (900–1.200 kata) dengan lead lebih tajam, memasukkan 1–2 kisah lapangan (guru/siswa/orang tua), serta menutup dengan seruan kebijakan: paket pemulihan pendidikan–ekonomi untuk nagari terdampak galodo. Ahad, 04012025. 13.00 - 17.00

