Type Here to Get Search Results !

Pergeseran Tribalisme (di) Eropa

oleh ReO Fiksiwan

„Globalisasi menyiratkan sikap kooperatif, terbuka, dan inklusif, sementara tribalisasi mencerminkan cara berpikir yang lebih tertutup, berorientasi pada identitas, dan berbasis tradisi. Tantangannya adalah menemukan keseimbangan yang sehat antara dorongan-dorongan ini, yang merupakan esensi dari pluralisme.“ — Lee W. Huebner(86), Globalism,

Tribalism, and the Quest for Pluralism(2023).

Akun X milik Avery Daye baru-baru ini menggunggah kegelisahan yang memicu perdebatan luas: “Eropa sedang ditaklukkan.” 

Ia merujuk pada data yang menimbulkan kontroversi—hanya 10% anak-anak di Brussels berasal dari Belgia, warga Inggris menjadi minoritas di London, nama Mohammad menjadi nama bayi paling populer di Inggris, Swedia memiliki 65 zona terlarang, dan terdapat 900 area yang disebut tidak terkendali di seluruh Eropa. 

Meski klaim-klaim ini masih perlu ditelusuri lebih jauh dan diperiksa secara kritis, terutama terkait akurasi data dan potensi bias xenofobi, suara senyap Daye mengindikasikan kebangkitan ulang political tribe. 

Fenomena ini pernah diamati oleh Ami Chua(63) dalam Political Tribes: The Fate of Nations(2018), bahwa nasib bangsa sering ditentukan oleh dinamika identitas kelompok yang mendominasi politik.

Lebih jauh ke akarnya, insting kelompok berdasarkan ras sebagai isu primitif telah dikaji lewat perspektif totemisme dari Claude Lévi-Strauss. 

Dalam Totemisme(1971;2020), ia menunjukkan bagaimana manusia sejak awal peradaban membangun simbol-simbol identitas untuk membedakan “kami” dan “mereka.” 

Dalam konteks modern, simbol itu bergeser dari hewan totem menjadi ras, agama, atau bahkan bahasa dan bentuk bangsa. 

Berikut dalam refleksi kritis Douglas Murray(46), penulis, jurnalis, serta associate editor di majalah The Spectator, tentang perubahan demografi, identitas, dan kebijakan migrasi di Eropa dalam The Strange Death of Europe: Immigration, Identity, Islam(2019) menegaskan:

„Eropa sedang melakukan bunuh diri. Atau, setidaknya para pemimpinnya telah memutuskan demikian. Apakah rakyat akan ikut serta, tentu saja menjadi persoalan lain.” 

Migrasi massal besar-besaran ke Eropa sejak krisis pengungsi 2015, menurut Murray, telah mengubah wajah kota-kota besar dan menimbulkan ketegangan sosial.

Sementara itu, sebelumnya Alvin Toffler dalam Powershift(1991) telah memprediksi bahwa pengetahuan, kemakmuran, dan kekerasan akan menjadi tiga pilar utama perebutan kekuasaan di penghujung abad ke-21 yang bakal dihadapi umat manusia.

Kini, dimensi tribalisme—yakni perubahan demografi, migrasi, dan percampuran genetik antarbangsa—menjadi faktor baru yang menentukan arah geopolitik global. 

Pergeseran tribalisme ini tidak hanya mengubah wajah kota-kota Eropa, tetapi juga memunculkan pertanyaan mendasar: bagaimana bangsa mempertahankan identitas di tengah arus migrasi masif dan globalisasi yang semakin intens?

Nasib bangsa, sebagaimana ditunjukkan oleh Chua, Lévi-Strauss, Murray, Toffler, dan Huebner bukan sekadar ditentukan oleh kekuatan ekonomi atau militer, bahkan sains dan teknologi, tetapi juga oleh kodrat dan kemampuan mengelola identitas. 

Jika politik energi menjadi arena perebutan sumber daya, maka pergeseran tribalisme di Eropa adalah arena perebutan makna kebangsaan dalam arti globalisme kultural. 

Eropa, dengan segala kegelisahan demografisnya, sedang menghadapi ujian besar: apakah mampu menjadikan keberagaman sebagai kekuatan, atau justru terjebak dalam konflik identitas yang kontraproduktif.

Indonesia pun dapat bercermin dari dinamika ini. Dinamika yang secara historis dan alami sejak ribuan tahun — dari kelompok-kelompok tribal — bisa berinteraksi secara harmoni dan kultural. 

Dengan keragaman etnis, agama, dan budaya, bangsa ini memiliki potensi besar untuk menjadikan ekologi budaya sebagai fondasi politik yang inklusif. 

Namun, tanpa tata kelola identitas yang kreatif dan pergeseran tribalisme di mana pun bisa menjadi ancaman bagi persatuan dan kepelbagaian dalam harmoni. 

Pada akhirnya, pergeseran tribalisme adalah bagian dari nasib bangsa. Ia menuntut kebijakan yang tidak hanya mengatur distribusi energi atau ekonomi, tetapi juga mengelola identitas, simbol, dan solidaritas.

Bahkan World Economic Forum Davos 2026 mungkin hanya membicarakan energi dan ekonomi global. 

Akan tetapi di balik itu, ada pertarungan senyap tentang siapa yang berhak mendefinisikan masa depan bangsa di tengah arus perubahan pesat demografi dunia. 

Merujuk pada Lee W. Huebner dalam Globalism, Tribalism, and the Quest for Pluralism(2023) menegaskan bahwa pluralisme adalah jalan tengah yang harus ditempuh.

Karena, tanpa pengakuan atas identitas kelompok, globalisme akan gagal. Tanpa keterbukaan terhadap dunia, tribalisme akan menutup diri. 

Inilah tantangan besar yang kini dihadapi Eropa, dan yang suatu saat akan menjadi ujian bagi bangsa-bangsa lain.

#coversongs:

Lagu "We Are The World“ oleh USA for Africa dirilis pada 7 Maret 1985. Ditulis oleh Michael Jackson dan Lionel Richie, diproduseri oleh Quincy Jones. 

Dimaknai sebagai seruan untuk persatuan, kepedulian, dan tanggung jawab global untuk membantu korban kelaparan di Afrika, khususnya Ethiopia ketika itu.

#credit foto diambil dari akun X Ragil Semar dan diubah dalam sketsa oleh AI.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.