Type Here to Get Search Results !

Ajaran Ki Hajar Dewantara yang Luhur Kini Sering Kali Hanya Menjadi Slogan

Oleh; Akaha Taufan Aminudin 

Ulasan dan perenungan dari Dr. Slamet Hendro Kusumo merupakan sebuah autokritik tajam sekaligus alarm kebudayaan bagi kita semua. Tulisan Renungan 8 @ *ADAB YANG DILUPAKAN* memotret realitas pahit di mana "adab"—yang seharusnya menjadi panglima dalam kehidupan berbangsa—justru sedang mengalami peminggiran yang sistematis.

Berikut adalah apresiasi dan poin-poin krusial yang bisa kita petik dari dialektika pemikiran tersebut:

1. Kekerasan sebagai Komoditas dan "Lahan Kerja"

Poin yang sangat mencolok dari tulisan Dr. Slamet Henkus adalah pergeseran kekerasan dari sekadar letupan emosi menjadi sesuatu yang terstruktur dan diproduksi.

Kritik Pendidikan: Benar adanya kutipan Frank Zappa yang disinggung; ketika sekolah hanya mencetak "ketaatan" mekanis tanpa "akal sehat", maka senioritas dan kekerasan (seperti kasus IPDN yang disebut) dianggap sebagai disiplin.

Kekerasan Simbolik: Dr. Slamet Henkus jeli melihat bahwa kekerasan kini tidak selalu berdarah, tetapi hadir lewat regulasi yang oligarkis dan algoritma teknologi yang anarkis.

2. Sindrom "Gajah Ngidak Rapah"

Istilah Jawa ini sangat relevan untuk menggambarkan krisis keteladanan. Ketika pembuat aturan (elit politik dan cendekiawan) menjadi pihak pertama yang melangkahi aturan tersebut, maka hancurlah fondasi moral masyarakat.

Distorsi Nilai: Ajaran Ki Hajar Dewantara yang luhur kini sering kali hanya menjadi slogan di dinding sekolah tanpa dihayati ruhnya oleh para penentu kebijakan yang lebih berkiblat pada metode Barat atau kepentingan politik praktis.

3. Dialektika Sejarah: "Homo Homini Lupus"

Tanggapan dari Romo Didik Soemintardjo memperkaya perspektif ini dengan kacamata sejarah. Bahwa perebutan kekuasaan sejak zaman Tumapel hingga Mataram memang akrab dengan darah (tumbal-menumbal).

Perbedaan Zaman: Namun, yang dikhawatirkan Dr. Slamet Henkus adalah pada era modern ini, kekerasan tersebut kehilangan sisi "tragedinya" dan berubah menjadi tontonan yang menghibur (normalisasi kekerasan melalui medsos dan game).

4. Adab sebagai Barometer Kemanusiaan

Dr. Slamet Henkus menegaskan bahwa adab bukan sekadar sopan santun, melainkan keselarasan dengan semesta.

Sanksi Sosial: Di saat hukum formal tumpul (aktor kekerasan sering aman), sanksi sosial seharusnya menjadi benteng terakhir. Namun, jika masyarakatnya sendiri sudah apatis karena "budaya kekerasan", maka adab benar-benar di ambang kepunahan.

Kesimpulan & Refleksi

Tulisan ini mengajak kita untuk kembali ke Akal Sehat. Kehilangan adab adalah kehilangan kemanusiaan itu sendiri. Jika kita terus membiarkan politisasi pendidikan dan normalisasi kekerasan, kita hanya akan menjadi bangsa "pengekor" yang kehilangan identitas di bawah garis khatulistiwa.

"Adab mendahului Ilmu. Tanpa adab, ilmu hanya akan menjadi senjata untuk saling memangsa."

Terima kasih atas bagaian pemikiran yang sangat bernas ini. Tulisan seperti inilah yang dibutuhkan untuk memicu "kesadaran kolektif" sebagaimana yang disinggung dalam diskusi tersebut.

Salam Literasi

Sabtu 24 Januari 2026

Akaha Taufan Aminudin 

*Sisir Gemilang Kampung Baru Literasi SIKAB Himpunan Penulis Pengarang Penyair Nusantara HP3N KOTA BATU, Komunitas Puisi Esai Jawa Timur (KPJ), Kreator Era AI (KEAI) SATUPENA JAWA TIMUR*

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.