![]() |
oleh ReO Fiksiwan
“Berdasarkan prinsip apa, ketika kita melihat kemajuan yang terus berlanjut, kita justru mengharapkan kemunduran di masa depan?” — Matt Ridley(67), The Rational Optimist: How Prosperity Evolves(2010).
Django Reinhardt(2910-1953) adalah simbol ketabahan. Gitaris jazz asal Belgia-Prancis ini kehilangan dua jari kirinya akibat kebakaran, namun dengan tiga jari yang tersisa ia melahirkan genre musik jazz gipsy yang melegenda di seluruh Eropa.
Kisah tragis sekaligus inspiratif ini diabadikan dalam buku Range: Why Generalists Triumph in a Specialized World(2019; 2020) oleh David Epstein, seorang jurnalis kawakan berusia 45 tahun yang menekankan bahwa manusia dengan pengalaman luas mampu menemukan jalan keluar dari segala bentuk keterbatasan.
Lewat buku ini, Epstein, mantan jurnalis investigasi di ProPublica dan pernah menjadi penulis senior di Sports Illustrated yang fokus pada isu sains dalam olahraga, menekankan bahwa generalist(orang dengan pengalaman luas di berbagai bidang) sering lebih unggul dibanding spesialis dalam menghadapi masalah kompleks dunia modern.
Reinhardt membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah keunikan yang memberi warna baru bagi dunia musik. Ia bermain gitar dengan tiga jari aktif dan menciptakan teknik unik dengan gaya gypsy jazz.
Refleksi ini menemukan relevansinya pada sosok Ka Dja’a, Ir. Djafar Alkatiri, MM., MPdI, seorang politisi yang menapaki jalan panjang dari legislator kota, provinsi, hingga senator DPR RI periode 2014–2019.
Alumni Fakultas Pertanian Unsrat yang kemudian mendalami filsafat pendidikan Islam di IAIN Makassar, bahkan melanjutkan promosi doktoral dalam bidang Pendidikan Islam Tasawuf dan S2 manajemen di Jakarta, adalah figur yang perjalanan hidupnya penuh liku.
Setelah tidak terpilih kembali sebagai senator, ia beralih ke dunia korporasi dan pada awal 2024 diangkat sebagai Komisaris Independen Bank SulutGo melalui RUPS yang sempat menimbulkan kontroversi. Namun, takdir Allah selalu menyimpan ujian.
Di tengah kesibukan menghadiri HUT Gubernur Sulawesi Utara ke-62, Mayjen (Purn.) Yulius Selvanus SE, Djafar diterpa musibah stroke akibat komplikasi gula darah dan kolesterol tinggi.
Lebih dari dua bulan ia menjalani perawatan intensif di RSUP TNI Gatot Subroto Jakarta, berjuang dengan cedera neurotis pada tangan dan kaki kirinya.
Hari ulang tahun Djafar Alkatiri, hari ini 3 Januari 2026 atau 57 tahun silam(1969) menjadi momentum refleksi, bukan sekadar perayaan.
Djafar dalam pernikahan pertamanya dengan Firda Thawil MAG, dikaruniai seorang putra dan dua putri yang telah memberi mereka cucu.
Seperti Django Reinhardt yang menjadikan keterbatasan sebagai kekuatan, demikian pula seorang pemimpin yang diuji oleh sakit dan keterbatasan fisik dapat menemukan makna baru dalam perjalanan hidupnya.
Di sinilah pula, relevansi karya Imam al-Ghazali(1058-1111), Nasihat al-Mulk(1105), yang ditulis setelah beliau mengundurkan diri di tengah popularitasnya sebagai Kadi — di sini sekelas Ketua MA — dari jabatan Rektor Universitas Nazimiyah di Persia(kini Iran).
Kitab itu berisi nasihat spiritual bagi para pemimpin di semua level — ditulis jauh sebelum Niccolo Machiavelli(1469-1527) pada abad-15 melahirkan IL Principe(Sang Penguasa) di Florence Italy — menekankan bahwa kekuasaan adalah amanah, keadilan adalah fondasi, dan setiap takdir adalah bagian dari kasih sayang Allah Yang Mahapemurah.
Al-Ghazali mengingatkan bahwa seorang pemimpin sejati bukan hanya diukur dari jabatan yang pernah diemban, melainkan dari kesediaannya menerima ujian dengan sabar, menjaga akhlak, dan tetap menebar maslahat bagi umat.
Djafar Alkatiri, putra sulung pendiri Perguruan Silat Ababil, Ami Ontong, sapaan akrab Ka Dja’a, kini berdiri di persimpangan antara pengalaman politik, dunia korporasi, dan ujian kesehatan.
Seperti nasihat al-Ghazali, setiap pemimpin harus menyadari bahwa jabatan hanyalah titipan, sementara yang abadi adalah amal dan keadilan yang ditinggalkan.
Ulang tahun kali ini menjadi kesempatan untuk merenungkan perjalanan panjangnya, dari ruang legislatif hingga ruang perawatan rumah sakit, dari podium politik hingga kursi komisaris.
Semua adalah bagian dari takdir yang mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kerendahan hati, kesabaran, dan kesediaan untuk terus belajar, bahkan dari keterbatasan.
#coversongs:
Django Reinhardt(1910-1953), jazzer asal Belgia-Perancis, merilis versi ikonik lagu All of Me pada tahun 1934 bersama Quintette du Hot Club de France.
Lagu ini bermakna tentang cinta yang total dan pengorbanan, di mana seseorang menyerahkan seluruh dirinya kepada orang yang dicintai.
Reinhardt dengan gaya gypsy jazz memberi nuansa hangat dan melodi yang penuh improvisasi, menjadikan lagu ini salah satu standar jazz paling abadi.
#credit foto:
Diubah dengan bantuan AI jadi sketsa dari foto asli ketika Djafar Alkatiri(57) sedang memeriksa dokumen korporasi BSG di rumahnya, 2 Januari 2026.

