![]() |
Oleh : Ririe Aiko
Awal tahun 2026 datang tanpa ritual lama.
Kali ini, saya tidak lagi menuliskan harapan di secarik kertas. Tidak ada daftar target, tidak ada barisan resolusi yang dulu saya susun rapi sebagai penanda ambisi dan pencapaian hidup. Padahal, selama bertahun-tahun, menulis harapan adalah kebiasaan yang nyaris sakral, cara halus sekaligus keras untuk memaksa diri bergerak lebih jauh, lebih tinggi, dan lebih cepat.
Namun, ritual itu berhenti di awal 2026.
Bukan karena saya kehabisan mimpi. Bukan pula karena hidup kehilangan arah. Tidak ada peristiwa besar yang menjadi pemicunya. Perubahan ini lahir dari refleksi yang sunyi. Saya mulai menyadari bahwa target besar yang terus dikejar tanpa ruang bernapas, perlahan menjelma ambisi yang menekan, bukan lagi penunjuk jalan.
Harapan yang terlalu tinggi, ketika tak terpenuhi, rasanya seperti terlempar dari gedung tinggi. Jatuhnya bukan sekali atau dua kali, melainkan berulang. Di antara harapan dan pencapaian, terbentang jarak yang semakin terasa mustahil dijangkau. Di sanalah saya memilih berhenti sejenak, bukan untuk menyerah, melainkan untuk mengubah cara memandang hidup.
Saya masih memiliki mimpi. Saya tetap menyimpan target. Tetapi kali ini, saya menempuh jalan yang berbeda. Saya tidak lagi menjadikan pencapaian besar sebagai satu-satunya tolak ukur nilai diri. Saya mulai belajar menghargai proses, sekecil apa pun langkahnya, sebagai bentuk apresiasi terhadap diri sendiri. Sebab tidak semua nilai harus dibuktikan lewat piala, jabatan, atau deretan angka.
Disadari atau tidak, kita sering terlalu keras pada diri sendiri. Kita menekan diri dengan perbandingan yang melelahkan, dengan pertanyaan yang terus berulang: “Mengapa setiap tahun berlalu, aku masih berada di posisi yang sama?”
Pertanyaan itu membuat kita merasa gagal, hanya karena standar yang kita tetapkan terlalu tinggi dan kerap menyiksa diri.
Padahal dunia tidak selalu bekerja sesuai rencana. Kadang kita harus menerima kegagalan. Kadang pula menyadari bahwa kebahagiaan hanyalah jeda singkat di antara masalah berikutnya. Hidup memang tidak selalu adil, dan tidak semua kerja keras berbuah sesuai harapan. Menerima kenyataan itu bukan tanda menyerah, melainkan bentuk kedewasaan.
Ketika sampai pada pemahaman tersebut, kita akan belajar satu hal penting: mencintai diri sendiri adalah syarat utama untuk bisa tetap bertahan dan bahagia.
Mulailah dari yang paling sederhana. Rayakan bahwa sepanjang 2025 kita diberi kesehatan. Rayakan bahwa kita masih bisa menyisihkan uang untuk menikmati jajanan enak, meski dengan gaji yang sangat terbatas. Rayakan obrolan dan tawa receh bersama teman-teman, meski hanya bisa kumpul di warung pecel lele pinggir jalan. Rayakan upaya kita menerapkan pola hidup sehat, meski nyatanya timbangan belum juga bersahabat. Rayakan hal-hal kecil sebagai penghargaan atas upaya yang sering luput kita akui.
Rayakan juga semua hal kecil yang membuat kita tetap berdiri kuat hingga hari ini.
Jika kita tidak meraih hal besar di tahun lalu, bukan berarti kita adalah pecundang. Kita tetap hebat, bahkan sangat hebat, karena mampu bertahan tanpa panggung, tanpa sorotan, dan tanpa tepuk tangan. Kita adalah mereka yang tetap hidup meski babak belur.
Maka, rayakan awal 2026 dengan penuh rasa syukur dan bahagia, meski nyatanya tahun lalu tak membawa pencapaian apa-apa. Karena penghargaan tidak selalu berbentuk piala. Kadang, cukup dengan mengakui bahwa diri kita berharga, hidup sudah menjadi jauh lebih bermakna.

