![]() |
| Layanan kesehatan untuk warga terdampak bencana, digelar Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) |
Oleh: Duski Samad
Pembina YP2TI Batang Kabung Padang
Alhamdulillah kunjungan dan bantuan pasca banjir banda 28 November 2025 yang meruntuhkan lokal belajar, aula, mushalla dan perpustakaan, terus mengalir ke Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah dan santrinya. Hari ini Rabu, 24 Desember 2025 tim NU Peduli melalui Lembaga Kesehatan (LKNU) di bawah pimpinan Gus Rudi memberikan layanan kesehatan bagi warga pesantren, santri dan masyarakat sekitarnya.
Hak kesehatan santri dan warga pesantren pasca bencana mendapat perhatian LK NU Nasional yang sejak lama sudah memiliki hubungan baik dengan Pesantren dan santri PPMTI Batang Kabung.
Kemanusiaan yang Hadir Sebelum Diminta.
Di tengah bencana, yang paling berharga bukanlah sekadar bantuan, melainkan kehadiran yang konsisten. Inilah yang ditunjukkan oleh Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Nasional dalam pendampingannya terhadap santri Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah Batang Kabung, Padang.
Bagi bangsa yang kerap diuji bencana, praktik kemanusiaan semacam ini adalah pelajaran publik yang penting.
Sejak 2023, LKNU tidak hadir sekali lalu pergi. Mereka membangun enam unit MCK untuk santri, dilanjutkan pada 2024 dengan 10 kamar mandi pondok putra dan satu unit asrama permanen berukuran 5 x 20 meter. Ketika banjir besar 28 November 2025 melanda dan pesantren terdampak langsung, LKNU kembali hadir membawa tim medis dan bantuan. Ini bukan respons reaktif, melainkan kepedulian berjenjang dan berkelanjutan.
Santri dan Hak atas Kesehatan
Santri sering diposisikan sebagai simbol kesalehan, tetapi lupa ditempatkan sebagai subjek hak dasar. Padahal, kesehatan santri dan kelayakan lingkungan pesantren adalah prasyarat pendidikan yang bermartabat. Tanpa sanitasi layak dan layanan kesehatan dasar, pesantren rentan menjadi titik krisis kesehatan kolektif.
Islam menempatkan kesehatan sebagai nikmat yang harus dijaga. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa kesehatan adalah anugerah yang kerap dilalaikan. Karena itu, membantu menjaga kesehatan santri bukan sekadar amal sosial, melainkan tanggung jawab moral dan keagamaan.
Al-Qur’an menegaskan:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Mā’idah: 2). Ayat ini menemukan maknanya yang paling konkret justru saat bencana. Ketika sebagian anak bangsa kehilangan rasa aman, menolong menjadi perintah, bukan pilihan.
Fikih Sosial
Dalam pandangan fikih, menolong korban bencana adalah fardhu kifayah, dan dapat berubah menjadi fardhu ‘ain bila kebutuhan mendesak dan tidak ada pihak lain yang mencukupi. Ulama juga membolehkan pemanfaatan zakat, infak, sedekah, dan wakaf untuk layanan kesehatan darurat, sanitasi, dan pemulihan pesantren—karena tujuannya menjaga jiwa (ḥifẓ al-nafs) dan martabat manusia.
Kaidah besar fikih menegaskan: kemudaratan harus dihilangkan. Sanitasi buruk dan ketiadaan layanan medis jelas merupakan kemudaratan nyata. Maka, membangun MCK dan menghadirkan layanan kesehatan adalah tindakan keagamaan yang sah sekaligus strategis.
Mengapa Ini Penting?
Dari sudut ilmu kesehatan masyarakat, air bersih, sanitasi, dan layanan medis adalah determinasi utama kesehatan. Di lingkungan padat seperti pesantren, intervensi preventif—seperti yang dilakukan LKNU—lebih efektif dan berbiaya rendah dibanding penanganan kuratif.
Secara sosiologis, kehadiran ormas keagamaan dalam bencana memperkuat modal sosial bangsa. Solidaritas yang terorganisir mencegah konflik, mempercepat pemulihan, dan menumbuhkan kepercayaan publik.
Santri pun belajar langsung bahwa Islam bukan hanya diajarkan, tetapi dipraktikkan.
Pelajaran bagi Negara dan Publik
Apa yang dilakukan LKNU menunjukkan bahwa masyarakat sipil berbasis nilai mampu bergerak cepat, tepat, dan bermartabat. Negara tetap memegang tanggung jawab utama, tetapi tidak boleh berjalan sendiri. Sinergi dengan ormas keagamaan adalah kebutuhan kebangsaan, bukan sekadar opsi kebijakan.
Di tengah krisis iklim dan bencana yang kian berulang, Indonesia membutuhkan model kemanusiaan yang berkelanjutan, bukan respons sesaat. LKNU memberi contoh bahwa kepedulian tidak harus menunggu sorotan, apalagi pujian.
Penutup
Membantu santri dan pesantren bukan hanya soal belas kasihan, tetapi investasi kemanusiaan dan peradaban. Kesehatan santri hari ini adalah ketahanan umat dan bangsa esok hari.
Di saat bencana, santri tidak boleh ditinggalkan.
Karena menjaga mereka berarti menjaga masa depan Indonesia.ds. 24122025.

