Type Here to Get Search Results !

Masjid: For Rumah di Surga

Masjid Ummu Ahmad Zainal Binti Usman—sebuah masjid wakaf yang datang dari cinta, doa, dan iman, jauh dari Jeddah–Mekah, difasilitasi oleh WAMY Sumatera Barat diresmikan.

Oleh: Duski Samad

Pembina WAMY Sumatera Barat

Pagi ini, Selasa, 30 Desember 2025, langit Padang terasa teduh. Di Bungo Pasang, Koto Tangah, orang-orang berkumpul dengan wajah yang berseri. Bukan sekadar menyaksikan peresmian sebuah bangunan, melainkan menyambut lahirnya sebuah harapan. Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat meresmikan pemakaian Masjid Ummu Ahmad Zainal Binti Usman—sebuah masjid wakaf yang datang dari cinta, doa, dan iman, jauh dari Jeddah–Mekah, difasilitasi oleh WAMY Sumatera Barat. Dua orang syekh dari Jeddah hadir, seakan mengabarkan bahwa ukhuwah Islamiyah memang tak mengenal batas peta.

Masjid ini berdiri bukan hanya dari bata dan semen, tetapi dari niat yang lurus. Wakaf atas nama Ummu Ahmad Zainal adalah pengakuan sunyi bahwa harta terbaik ialah harta yang dipersembahkan untuk Allah dan umat. Rasulullah ï·º telah mengabarkan kabar gembira itu: siapa yang membangun masjid karena Allah, Allah bangunkan baginya rumah di surga. Janji itu sederhana, namun tak pernah sederhana untuk diwujudkan. Ia menuntut keikhlasan—dan keikhlasan itulah yang kini menjelma ruang sujud, ruang zikir, dan ruang belajar bagi masyarakat.

Masjid adalah amal jariah. Ia tidak mengenal kata selesai. Setiap takbir yang menggema, setiap ayat yang dibaca, setiap anak yang belajar mengeja huruf hijaiyah, setiap nasihat yang menenangkan hati—semuanya mengalirkan pahala. Bahkan ketika pelakunya telah kembali kepada Allah, aliran itu tetap berjalan. Inilah investasi yang tidak tergerus inflasi zaman; ia justru tumbuh bersama doa-doa yang dipanjatkan dari lantai masjid.

Namun masjid tidak diciptakan untuk sunyi. Ia tidak berhenti pada sajadah. Masjid adalah rumah dakwah—tempat nilai-nilai Islam yang damai dan mencerahkan disampaikan dengan hikmah. Ia adalah rumah pendidikan—tempat anak-anak dibentuk adabnya, remaja dikuatkan akhlaknya, dan orang dewasa disegarkan ilmunya. Ia adalah rumah persatuan—tempat perbedaan dilembutkan oleh musyawarah, tempat luka sosial dijahit oleh kepedulian.

Di Minangkabau, masjid dan surau telah lama menjadi jantung nagari. Di sanalah adat bertemu syarak, di sanalah nilai diturunkan dari generasi ke generasi. Ketika masjid hidup, masyarakat menemukan arah. Ketika masjid sepi, peradaban kehilangan penuntun. Karena itu, berdirinya Masjid Ummu Ahmad Zainal Binti Usman bukan hanya menambah jumlah masjid, tetapi menambah denyut peradaban.

Peresmian hari ini adalah awal, bukan puncak. Puncaknya adalah ketika masjid ini dimakmurkan—oleh shalat berjamaah yang istiqamah, oleh majelis ilmu yang rutin, oleh tawa anak-anak yang belajar Al-Qur’an, oleh tangan-tangan yang saling menolong. Di situlah wakaf menemukan maknanya yang paling utuh.

Masjid, pada akhirnya, adalah jembatan: dari dunia menuju akhirat. Ia mengajarkan bahwa rumah terbaik bukan yang paling megah di bumi, melainkan yang disiapkan di surga. Dan setiap orang yang ikut membangunnya—dengan harta, tenaga, pikiran, atau doa—sedang menata satu kamar di rumah abadi itu.

Masjid: for rumah di surga. Janji Allah yang didekati dengan amal, dirawat dengan ikhlas, dan dimuliakan dengan kemakmuran.ds.30122025

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.