![]() |
Oleh: Duski Samad
Waktu tidak pernah menunggu. Ia berjalan senyap, konsisten, dan adil. Yang sering lalai justru manusianya—merasa masih panjang umur, seakan esok selalu tersedia. Padahal satu hal pasti: manusia akan berhenti pada satu titik bernama wafat. Kesadaran inilah yang semestinya menghidupkan audit diri—bukan sekadar ritual akhir tahun, tetapi keberanian moral untuk bercermin
Di Minangkabau, orang tua-tua dahulu tidak mengenal istilah “evaluasi diri”, tetapi mereka mewariskan pituah yang maknanya jauh lebih dalam. _Alam takambang jadi guru_ , kata mereka. Alam dan waktu mengajari bahwa hidup yang tak ditata akan berakhir kusut, dan yang kusut akan menyulitkan diri sendiri.
Audit diri sejatinya dimulai dari masa lalu. Bukan untuk menyesali, apalagi meratapi, tetapi _meluruskan yang bengkok dan menghentikan yang salah_ . Islam mengajarkan taubat sebagai pintu harapan, sementara adat Minangkabau menegaskan: _nan bengkok diluruskan, nan kusuik disalasaikan_. Kesalahan yang disadari tetapi dibiarkan akan berubah menjadi karakter. Dosa kecil yang dimaklumi akan tumbuh menjadi kebiasaan. Di titik ini, audit diri menuntut kejujuran—kepada Allah dan kepada nurani sendiri.
Namun hidup tidak boleh terjebak pada masa lalu. Hari ini adalah nikmat, dan nikmat tidak cukup diucapkan, ia mesti dikerjakan. Syukur sejati adalah kerja yang bernilai. Dalam adat dikatakan, _hidup baraka, mati basandi_—hidup harus meninggalkan manfaat, bukan sekadar jejak. Orang Minang sejak lama memahami bahwa manusia hidup tidak sendiri: _bak aua jo tabiang, sanda manyanda ka nan elok_ . Audit diri hari ini berarti bertanya dengan jujur: apakah kehadiran kita menjadi sandaran, atau justru beban?
Masa kini menuntut tanggung jawab. Bekerja dengan jujur, menjaga lisan dan sikap, memelihara hubungan keluarga, serta merawat nagari dan alam. Syukur yang pasif melahirkan kelalaian; syukur yang aktif melahirkan ketahanan—baik iman, sosial, maupun mental.
Lalu bagaimana dengan masa depan? Islam tidak mengajarkan harapan kosong. Harapan mesti ditopang amal. Sebuah kisah Nabi tentang tiga orang yang terkurung di dalam gua memberi pelajaran besar: keselamatan datang melalui kerja baik yang ikhlas—berbakti kepada orang tua, menahan diri dari maksiat, dan jujur dalam usaha. Batu besar yang menutup jalan keluar bergeser sedikit demi sedikit, seiring disebutnya amal-amal itu. Pesannya sederhana namun tegas: kerja baik tidak pernah hilang; ia menunggu waktunya untuk menolong kita.
Adat Minangkabau merangkum hikmah ini dengan indah: _budi nan baik, balasan nan elok_. Apa yang kita tanam hari ini, itulah yang akan kita tuai esok. Bahkan dalam kondisi terburuk sekalipun, amal baik bisa menjadi sebab keselamatan—di dunia dan di akhirat.
Audit diri juga relevan ketika kita berbicara tentang musibah dan krisis. Islam mengingatkan bahwa bencana kerap menjadi teguran agar manusia kembali menata perilaku. Adat pun mengajarkan keseimbangan dengan alam. Ketika alam rusak, sering kali itu cermin dari rusaknya amanah manusia. Maka audit diri bukan hanya urusan pribadi, tetapi tanggung jawab kolektif—agar kesalahan yang sama tidak berulang dengan korban yang lebih besar.
Pada akhirnya, audit diri 2025 mengajak kita berhenti sejenak di tengah arus waktu yang deras. Menundukkan kepala, menimbang langkah, dan memilih jalan yang lebih lurus. Orang Minang berpesan: _kapalo buliah ba goyang, panggul jangan pindah_. Pandangan boleh beragam, situasi boleh berubah, tetapi prinsip moral tidak boleh runtuh.
Waktu akan terus berjalan. Kita pasti berhenti. Pertanyaannya bukan kapan, tetapi dalam keadaan apa. Semoga saat waktu itu tiba, kita berhenti dalam keadaan Allah ridha, manusia merasakan manfaat, dan amal menjadi saksi—bahwa hidup ini pernah dijalani dengan iman, adab, dan tanggung jawab.31122025.

