![]() |
oleh ReO Fiksiwan
„Penderitaan merasuki kehidupan dan membentuk eksistensi manusia. Penderitaan tidak dapat dihindari atau dihilangkan, karena ia berdiam dalam diri kita dan menentukan.“ — Arthur Schopenhauer(1788-1860), Die Welt als Wille und Vorstellung(1816).
Mencumbui kemalangan — „das Leid umarmen“ berarti merangkul segala bentuk derita yang menimpa manusia, dari yang sepele seperti terpeleset di kamar mandi, diterjang flu hingga tragedi besar seperti menjadi korban bom rakitan.
Arthur Schopenhauer, filsuf Jerman kelahiran 1788 dari keluarga elit, sepanjang hidupnya menolak menikah dan memilih menekuni hakikat penderitaan sebagai inti vitalitas.
Baginya, penderitaan bukanlah fenomena marjinal, melainkan struktur fundamental keberadaan, karena "keinginan untuk hidup" tak henti-hentinya melahirkan kebutuhan dan kekurangan baru.
Kutipan yang mencolok dari bukunya:
"Jalan hidup manusia terdiri dari tertipu oleh harapan dan menari dalam pelukan kematian."
Dengan ini, Schopenhauer menegaskan bahwa hidup manusia, dari awal hingga akhir, ditentukan oleh harapan, kekecewaan, dan akhirnya kematian.
Baginya, harapan adalah khayalan yang menggerakkan manusia tetapi pada akhirnya berujung pada penderitaan.
Berbeda dengan Boethius yang pada abad pertengahan menawarkan filsafat pelipur, Schopenhauer justru menegaskan bahwa hidup adalah jalan panjang penderitaan yang harus ditanggung, bukan dihibur.
Filsafat derita ini — Das Leid als Lebensphilosophie — yang kelak menginspirasi Nietzsche(1883-1900) dalam Jenseits von Gut und Böse(1886;Inggris 1998; Ikon 2002), konon berakar dari tradisi pengorbanan Kristus di kayu salib: penderitaan sebagai jalan menuju pemahaman eksistensial.
Nietzsche menolak kebaikan (Gut) sebagai kategori tetap, dan dalam konteks filsafat derita Schopenhauer, ia menegaskan bahwa penderitaan(Leid) harus ditafsirkan ulang sebagai kekuatan(Wille) yang membentuk manusia(Vorstelung), bukan sekadar beban.
Dalam konteks sosial politik mutakhir, kemalangan hadir dalam bentuk krisis yang dipicu oleh peralihan kekuasaan dari rezim buzzer termulisasi ke mileniaris-sosialisme ala Michael Adas(82) yang menjelma dari beberapa kebijakan Presiden Prabowo.
Meski rezim termulisasi pelan-pelan runtuh dan tersingkir, sel-sel dan ternak “cebong-termulisasi” masih terpaksa merangsek, baik di ruang daring maupun luring.
Derita sosial akibat hukum sejarah ini bukan sekadar benturan ide, melainkan residu kekuasaan yang terus mengganggu tatanan publik alias „gangguan metobolik“ iklim politik.
Di sinilah relevansi Schopenhauer terasa: penderitaan bukan sesuatu yang bisa dihapus, melainkan harus dihadapi sebagai kenyataan vital.
Demikian hal, pertanyaan mengapa orang baik terpecah karena politik dan agama menemukan jawabannya dalam karya Jonathan Haidt, Profesor Etika Kepemimpinan di New York University Stern School of Business, The Righteous Mind(2012; edisi revisi 2020).
Haidt, seorang psikolog moral kelahiran 1963 yang kini berusia 61 tahun, menunjukkan bahwa perpecahan lahir dari fondasi moral yang berbeda, bukan sekadar dari keburukan individu.
Orang baik bisa saling berseberangan karena mereka berangkat dari intuisi moral yang tak sama.
Pandangan ini memperkaya refleksi atas krisis sosial politik, di mana derita bukan hanya fisik, tetapi juga retakan dalam hubungan antar manusia.
Merujuk pada sejarah transformasi digital yang ditulis Ali Rif’an dan Entis Somantris dalam Algoritma Opini Publik(2025) menambahkan lapisan baru: penderitaan kini dimediasi algoritma.
Kemalangan sosial politik tidak lagi sekadar hasil propaganda manual, melainkan produk sistem digital yang mengatur arus opini.
Derita manusia modern adalah derita yang dikalkulasi, diprogram, dan diproyeksikan melalui mesin algoritmik.
John Green, penulis kelahiran 1977 yang kini berusia 47 tahun, dalam The Anthropocene Reviewed(2021) menulis ulasan tentang kehidupan manusia di era antropocene dengan nada reflektif.
Ia menunjukkan bahwa penderitaan manusia bukan hanya akibat politik atau agama, tetapi juga hasil dari kondisi planet yang rusak oleh ulah manusia sendiri.
Krisis ekologis, pandemi, dan ketidakpastian global adalah bentuk lain dari kemalangan yang harus dicumbu, bukan ditolak.
Mencumbui kemalangan, dengan demikian, adalah sikap eksistensial: menerima bahwa derita adalah bagian dari vitalitas hidup.
Dari terpeleset di kamar mandi hingga perpecahan politik, dari algoritma opini publik hingga krisis ekologis, manusia tidak bisa menghindar dari derita.
Schopenhauer mengajarkan bahwa penderitaan adalah hakikat hidup, Haidt menjelaskan mengapa perpecahan moral terjadi, Rif’an dan Somantris menunjukkan bagaimana algoritma memperparahnya, dan Green menambahkan dimensi ekologis.
Semua ini menegaskan bahwa mencumbu kemalangan adalah cara manusia bertahan, memahami, dan mungkin menemukan makna di tengah krisis.
#coversongs: Wenn nach der Erde Leid” adalah lagu rohani Jerman yang dirilis dalam proyek musik Kristen Das Liederschatz-Projekt oleh Michael Janz.
Lagu ini merupakan terjemahan dari himne Amerika “O That Will Be Glory” karya Charles H. Gabriel dan menggambarkan harapan surgawi setelah penderitaan dunia.
Lagu ini menyampaikan penghiburan eskatologis: bahwa setelah penderitaan di dunia (Leid), kerja keras (Arbeit), dan kesakitan (Pein), orang percaya akan mengalami kemuliaan surgawi.
#credit foto: Sekedar pemanis derita❤️🩹: Selfportrait.

