Type Here to Get Search Results !

Puisi Esai Dalam Cahaya Fenomenologi

oleh ReO Fiksiwan

„Persepsi bukanlah sebuah tindakan, bukan pula pengambilan secara sengaja terhadap apa yang diberikan, tetapi merupakan latar belakang yang menonjolkan semua tindakan dan diandaikan oleh tindakan-tindakan tersebut.“ — Maurice Marleau Ponty(1908-1961), Phenomenology of Perception(1962).

Untuk merambah dunia kritik sastra puisi esai dalam cahaya fenomenologi, kita perlu menyinggung secara khusus filsafat Edmund Husserl sebagaimana ia rumuskan dalam karya monumentalnya: Logische Untersuchungen(1900–1901) dan Ideen zu einer reinen Phänomenologie und phänomenologischen Philosophie(1913). 

Dari kedua karya ini, Husserl meletakkan fondasi fenomenologi sebagai metode filsafat yang bertujuan kembali kepada “hal-hal itu sendiri” (Zurück zu den Sachen selbst) dan merupakan semboyan yang jadi  jantung dari pendekatan fenomenologis.

Husserl menolak psikologisme, yakni pandangan bahwa logika dan makna berasal dari proses mental individual. 


Sebaliknya, ia menegaskan bahwa makna bersifat ideal dan dapat diakses melalui kesadaran yang intensional. 

Dalam Ideen I(1913), ia memperkenalkan konsep epoché dan reduksi transendental, yaitu penangguhan asumsi tentang dunia luar untuk mengungkap struktur kesadaran murni. 

Kesadaran, bagi Husserl, selalu “tentang sesuatu”(der Sache) dan bersifat intensional, serta dunia hadir dalam horizon pengalaman yang terbuka.

Dalam cahaya fenomenologi, puisi esai bukan sekadar bentuk ekspresi sastra, melainkan medan intensionalitas kesadaran yang mengungkap dunia sebagaimana ia dialami. 

Merujuk pada Aku dalam Budaya(1984), Toety Heraty Noerhadi, mengangkat gagasan “Aku Fenomenologi” sebagai pusat orientasi dalam memahami budaya dan subjektivitas manusia. Salah satu kutipan pendeknya mencerminkan pemikiran fenomenologis  tersebut:

“Aku ontologis mendasari dimensi aku yang mengambil jarak dari obyek, meneliti, dan kemudian cenderung untuk menguasai, bersikap instrumental-teknologis.”

Lain halnya Edmund Husserl, fenomenolog yang juga dikutip Noerhadi, dengan gagasan epoché dan reduksi fenomenologisnya, mengajak kita menanggalkan prasangka dunia luar demi mengakses esensi pengalaman murni. 

Sementara, fenomenolog asal Perancis,  Maurice Merleau-Ponty menekankan tubuh sebagai pusat persepsi, sebagai medium yang mengikat subjek dan dunia dalam satu gerak eksistensial. 

Dengan demikian puisi esai dalam perspektif  ini, bukan hanya narasi atau metafora, melainkan jejak-jejak kesadaran yang mengendap dalam tubuh dan bahasa.

Puisi esai Denny JA, Atas Nama Cinta (2012), pionir dimulainya genre puisi esai, misalnya, menyajikan kisah cinta yang terjalin dalam konflik sosial dan agama. 

Namun jika dibaca dengan pisau bedah fenomenologi, kita tidak hanya melihat kisah fiksi yang dibalur fakta sebagai catatan kaki, melainkan intensionalitas cinta sebagai pengalaman yang melampaui kategori moral dan sosial. Dan itu melampaui dua intensionalitas sekaligus: fiksi dan fakta.

Tokoh-tokohnya dengan latar fiksi maupun fakta,  bukan sekadar karakter, melainkan horizon makna yang terbuka melalui pengalaman tubuh dan waktu agar dilampaui pada segala dimensi fenomenologis. 

Dalam puisi esai ini, cinta bukan objek, melainkan modus keberadaan(res extensa) —sebuah cara berada di dunia yang menolak reduksi(res cogitans) menjadi sekadar norma.

Fenomenologi mengajarkan bahwa realitas bukan sesuatu yang ada di luar sana secara objektif, melainkan sesuatu yang diungkap melalui kesadaran. Subjek-objek saling melampaui dan bertukar intensionalitas masing-masing.

Maka puisi esai, sebagai genre yang menggabungkan narasi, refleksi, dan puisi, menjadi ruang di mana dunia faktual dan fiksi berkelindan. 

Dalam puisi esai „Ingin Jadi Presiden“ karya Denny JA, misalnya, ambisi politik bukan hanya tema, melainkan intensi yang mengungkap struktur pengalaman kekuasaan. 

Tokoh yang ingin menjadi presiden bukan sekadar individu, melainkan tubuh yang mengalami dunia politik sebagai medan eksistensial. 

Di sinilah puisi esai menjadi kritik terhadap realitas faktual: ia menyingkap bahwa fakta pun adalah konstruksi kesadaran.

Dalam konteks sastra mutakhir, puisi esai menawarkan resistensi terhadap dominasi bentuk-bentuk lama yang terlalu terikat pada estetika atau ideologi. 

Ia membuka ruang bagi pengalaman yang belum terkatakan, yang belum sempat menjadi wacana. 

Dengan pendekatan fenomenologis, kita tidak lagi bertanya “apa makna puisi ini?”, melainkan “bagaimana puisi ini mengungkap dunia sebagaimana dialami?”. 

Kritik sastra pun bergeser: dari analisis struktur dan simbol, menuju pengungkapan intensionalitas dan horizon makna.

Merleau-Ponty menulis bahwa persepsi adalah daging dunia. 

Dengan demikian,  puisi esai adalah daging sastra—ia tidak hanya berbicara tentang dunia, tetapi menjadi dunia itu sendiri dalam bentuk yang terperangkap dalam bahasa. 

Ketika tokoh, „aku fiksi + aku fakta“ di catatan kaki, dalam puisi esai mengalami diskriminasi, cinta, ambisi, atau kematian, kita tidak membaca cerita, kita mengalami dunia melalui tubuh intensif mereka. 

Di sinilah puisi esai menjadi fenomenologis: ia tidak menjelaskan, ia mengungkap.

Puisi esai bukan hanya genre, ia adalah modus pengungkapan sekaligus penyingkapan tabir dunia. 

Dalam cahaya fenomenologi, ia menjadi kritik terhadap realitas yang terlalu cepat kita anggap sebagai fakta yang dituntut belaka. 

Ia mengingatkan bahwa dunia adalah sesuatu yang selalu terbuka, selalu dalam proses pengungkapan-penyingkapan, dan bahwa sastra adalah salah satu cara paling radikal untuk mengalami dunia sebagaimana ia hadir bagi kesadaran.

#cover: Musikalisasi  puisi "Derai-Derai Cemara"(Chairil Anwar, 1949) oleh grup musik Banda Neira dirilis pada 29 Januari 2016 sebagai bagian dari album mereka „Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti.“

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.