Type Here to Get Search Results !

Produktif di Senja Usia

oleh ReO Fiksiwan

„Orang-orang di Zona Biru tetap aktif hingga usia 80-an dan 90-an, melakukan pekerjaan yang berarti, berkebun, berjalan kaki, dan berkontribusi terhadap komunitas mereka.“ — Dan Buettner(65), The Blue Zones: Lessons for Living Longer From the People Who’ve Lived the Longest(2010).

Hari ini, 9 September 2025, di Tompaso, Minahasa kita memperingati Hari Ulang Tahun Pertama LANTIP(Lansia Aktif Peduli) Indonesia Provinsi Sulawesi Utara, sebuah momentum yang bukan sekadar seremoni, melainkan refleksi mendalam tentang makna produktivitas di usia senja. 

Di bawah kepemimpinan Dra. Roosje Kalangi, M.Si.(69), seorang birokrat pensiunan, terakhir sebagai Direktur IPDN Sulut, yang kini menjadi motor penggerak komunitas lansia, LANTIP menjelma sebagai ruang hidup yang membuktikan bahwa usia bukanlah batas bagi kontribusi.

Hampir lebih dari 60 anggota LANTIP Sulut, hari ini beranjangsana, selain mengukuhkan spirit kebersamaan antara pensiunan lansia, saling mempererat falsafah leluhur: Sitou Timou Tumo Tou(ST4).

Dalam perspektif psikologi hari tua, masa lansia sering kali dipersepsikan sebagai fase penurunan: fisik yang melemah, peran sosial yang menyusut, dan identitas yang kabur karena pensiun dari dunia kerja. 

Namun, pendekatan humanistik dan positif dalam psikologi justru menekankan bahwa hari tua adalah fase aktualisasi diri yang unik. Asal tahu bagaimana cara bisa mengelolanya?

Psikolog Erik Erikson(1902-1994) menyebutnya sebagai tahap integritas versus keputusasaan, di mana individu mengevaluasi hidupnya dan menemukan makna. 

Mengacu pada pembahasan psikologi hari tua dalam Childhood and Society(1950), Erik Erikson memperkenalkan delapan tahap perkembangan psikososial, dan tahap terakhir—integritas versus keputusasaan—secara khusus membahas dinamika psikologis di usia lanjut.

Pada tahap ini, individu lansia merefleksikan hidupnya secara keseluruhan. 

Jika mereka merasa hidupnya bermakna dan utuh, mereka mencapai integritas ego, yaitu penerimaan terhadap diri dan kehidupan yang telah dijalani. 

Sebaliknya, jika mereka dipenuhi penyesalan dan rasa gagal, mereka bisa mengalami keputusasaan, yakni ketakutan akan kematian dan rasa hampa.

Erikson menulis:

"Penerimaan atas satu-satunya kehidupan seseorang sebagai sesuatu yang harus

ada dan tidak memungkinkan penggantian… adalah pencapaian dari tahap ini."

Kutipan ini menegaskan bahwa produktivitas di hari tua bukan hanya soal aktivitas fisik, tetapi juga soal rekonsiliasi batin, penerimaan, dan pencapaian makna.

Ketika lansia diberi ruang untuk tetap aktif, berdaya, dan terlibat, mereka tidak hanya memperpanjang usia, tetapi juga memperluas kualitas hidup.

LANTIP hadir sebagai bukti nyata dari paradigma ini. Para anggotanya, meski telah melewati masa pensiun, tetap menjadi pelaku perubahan sosial. 

Mereka terlibat dalam kegiatan edukatif, lingkungan, dan solidaritas antar generasi. 

Mereka bukan sekadar “yang tua”, tetapi “yang tahu”—penjaga nilai, penutur sejarah, dan penggerak komunitas. 

Di tangan Roosje Kalangi, LANTIP bukan hanya organisasi, tetapi gerakan eksistensial yang menolak reduksi usia menjadi angka.

Refleksi ini menemukan resonansi dalam The Blue Zones dari Dan Buettner, yang mengungkap rahasia hidup panjang dan sehat dari komunitas-komunitas lansia di dunia seperti Okinawa, Sardinia, dan Nicoya. 

Di sana, para lansia tetap bekerja di kebun, memasak untuk keluarga, menjadi penasihat komunitas, dan menjalani hidup dengan tujuan. 

Mereka tidak dipisahkan dari masyarakat, melainkan menjadi pusatnya. 

Buettner menunjukkan bahwa produktivitas lansia bukan soal pekerjaan formal, tetapi soal keterlibatan, makna, dan koneksi sosial. 

Lansia yang aktif secara fisik dan sosial memiliki tingkat stres lebih rendah, kesehatan mental lebih baik, dan harapan hidup lebih panjang.

LANTIP Sulawesi Utara adalah cerminan dari zona biru itu—di mana lansia tidak dipinggirkan, tetapi dirayakan. 

Mereka menjadi teladan bahwa pensiun bukan akhir, melainkan awal dari babak baru kehidupan yang lebih reflektif, lebih bijak, dan tetap produktif. 

Dalam dunia yang sering kali memuja kecepatan dan muda, LANTIP mengingatkan kita bahwa kebijaksanaan, ketekunan, dan kasih sayang adalah nilai-nilai yang tumbuh subur di usia lanjut.

Selamat ulang tahun perdana LANTIP Indonesia Sulawesi Utara. 

Semoga semangat para lansia yang aktif dan peduli terus menjadi cahaya bagi generasi muda, dan menjadi bukti bahwa produktivitas tidak mengenal usia, melainkan dimensi makna penuh kasih dalam kebersamaan.

*Ditulis sebagai anggota yang tak bisa hadir pada HUT-1 LANTIP Indonesia Sulut hari ini, karena masih berada di luar kota.

#coverlagu: Lagu "Here, There and Everywhere" oleh The Beatles dirilis pada tahun 1966 sebagai bagian dari album legendaris mereka, Revolver. 

Lagu ini ditulis oleh Paul McCartney, meskipun seperti biasa, kredit diberikan kepada duo Lennon–McCartney. Makna lagu ini sangat intim dan reflektif—sebuah pengakuan cinta yang mendalam dan tulus. 

McCartney menulisnya sebagai bentuk penghormatan terhadap kehadiran seseorang yang ia cintai, dan bagaimana kehadiran itu mengubah hidupnya secara halus namun signifikan.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.