Type Here to Get Search Results !

MENANAM SEBELUM DI TANAM (2): Kajian Ecoteologi dan Kerusakan Lingkungan

Oleh: Duski Samad

Guru Besar UIN Imam Bonjol

Menanam sebelum ditanam Selasa, 23 September 2025 sudah kami lakukan di Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah Batang Kabung Padang, di Pondok Pesantren Darul Mustafa Padang Sago dan di Masjid Raya Nagari Sikabu Lubuk Alung Padang Pariaman sebanyak 300 bibit pohon berbuah (Durian, Mangga Alpukat dan sejenisnya). Alhamdulillah, masyarakat dan santri bersemangat berpartisipasi karena memang merawat lingkungan hidup adalah tugas semua pihak yang sekaligus bernilai ibadah. 

Ungkapan “menanam sebelum ditanam” adalah metafora ekoteologis yang menegaskan bahwa manusia memiliki kewajiban menjaga bumi lebih dulu sebelum bumi memberikan hasilnya. Dalam perspektif Islam, bumi bukan hanya lahan eksploitasi, tetapi amanah ilahiah (amanat Allah) untuk dimakmurkan. Maka kerusakan lingkungan yang semakin nyata hari ini adalah refleksi kegagalan manusia menjalankan mandat sebagai khalīfah fī al-arḍ.

Nash dan Dalil Syari‘, Khalifah dan Amanah, Allah berfirman: “Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi...” (QS. Fāṭir [35]: 39). Ayat ini menegaskan peran manusia sebagai pengelola, bukan perusak. Menanam berarti memberi kehidupan, sedangkan merusak adalah pengkhianatan terhadap amanah. Larangan Merusak, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya...” (QS. al-A‘rāf [7]: 56). Kerusakan lingkungan akibat deforestasi, pencemaran sungai, atau eksploitasi tambang termasuk kategori fasād fī al-arḍ yang dilarang.

Hadis Nabi, “Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menabur benih, lalu burung, manusia, atau binatang memakan darinya, melainkan itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari-Muslim). Hadis ini meneguhkan ekoteologi sedekah—bahwa menanam adalah ibadah jariyah. Hadis tentang ihya’ al-mawat (menghidupkan tanah mati) menunjukkan nilai positif mengelola lahan secara lestari.

Ecoteologi: Kerangka Teologis.

Ecoteologi memandang hubungan manusia dengan alam bukan sekadar ekologis, tetapi spiritual. Ada tiga prinsip utama: Tauhid: Bumi dan segala isinya adalah ciptaan Allah, bukan milik mutlak manusia. Khilafah: Manusia adalah wakil Allah untuk memakmurkan bumi dengan adil. Amanah: Sumber daya alam adalah titipan, yang akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Dengan ecoteologi, kerusakan lingkungan dipandang sebagai bentuk maksiat ekologis dan kelalaian moral.

Ecoteologi adalah cabang teologi yang mengkaji hubungan antara manusia, agama, dan lingkungan hidup. Istilah ini lahir dari kesadaran bahwa krisis ekologis tidak bisa hanya dijawab dengan ilmu lingkungan semata, tetapi juga perlu fondasi moral dan spiritual.

Dalam Islam, ecoteologi berakar dari: Tauhid pengakuan bahwa alam semesta adalah ciptaan Allah. Khilafah manusia diberi mandat sebagai pengelola bumi. Amanah sumber daya alam adalah titipan yang harus dijaga. Jadi, ecoteologi dalam Islam adalah kesadaran teologis bahwa menjaga alam adalah ibadah dan perusakan lingkungan adalah bentuk kemaksiatan. Esensi ecoteologi dapat diringkas dalam tiga dimensi: Spiritualitas. Alam dilihat sebagai tanda-tanda (ayat) Allah. Merusak alam berarti merusak ayat-Nya. Zikir ekologis: mengingat Allah melalui kontemplasi ciptaan-Nya. 

Etika. Mengatur perilaku manusia agar tidak berlebih-lebihan (isrāf) dan tidak boros (tabdzīr). Memakmurkan bumi dengan prinsip keadilan antargenerasi. Sosial-Kultural. Mengaitkan kearifan lokal (adat, budaya) dengan syariat Islam dalam menjaga keseimbangan alam. Contoh: falsafah Minangkabau “Alam takambang jadi guru” adalah basis ecoteologi lokal.

Ecoteologi memiliki tujuan multidimensi: Teologis-Spiritual. Mengembalikan kesadaran manusia bahwa bumi bukan milik mutlaknya, melainkan amanah Allah. Menjadikan menjaga lingkungan sebagai ibadah (‘ibādah maḥdhah dan ‘ibādah ijtimā‘iyyah). Ekologis. Mencegah kerusakan (fasād) dan melestarikan ekosistem. Menanam pohon, menjaga air, melindungi hutan sebagai sedekah jariyah. Sosial-Ekonomi. Membangun keadilan ekologi: hasil alam harus dirasakan generasi kini dan mendatang. Mendukung ekonomi hijau berbasis keberlanjutan. 

Etika Global. Memberi kontribusi pemikiran Islam dalam dialog global menghadapi krisis iklim. Menegaskan Islam sebagai agama rahmatan lil ‘ālamīn—rahmat tidak hanya untuk manusia, tetapi juga untuk seluruh makhluk dan alam. Singkatnya: ecoteologi adalah kesadaran iman bahwa menanam, menjaga, dan melestarikan bumi adalah jalan ibadah dan bentuk syukur, sedangkan merusaknya adalah dosa ekologis.

Kerusakan lingkungan di Indonesia nyata: Deforestasi: Laju kehilangan hutan tropis mencapai ratusan ribu hektar per tahun. Krisis Iklim: Suhu global meningkat, menyebabkan banjir bandang dan kekeringan. Polusi: Sungai tercemar limbah industri dan rumah tangga, merusak ekosistem. Ilmu lingkungan menekankan pentingnya keberlanjutan (sustainability). Prinsip sustainable development sejalan dengan Islam yang menolak israf (berlebih-lebihan) dan tabdzir (pemborosan).

Fatwa MUI No. 4 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Sampah untuk Mencegah Kerusakan Lingkungan. Mengharamkan perbuatan membuang sampah sembarangan yang menimbulkan kerusakan dan mudarat. Menekankan kewajiban kolektif (fardhu kifayah) untuk menjaga kebersihan dan kelestarian. Fatwa MUI No. 30 Tahun 2016 tentang Hutan Lestari. Mengharamkan perusakan hutan yang mengakibatkan kerusakan ekosistem dan bencana. Menyatakan pelestarian hutan sebagai kewajiban agama.

Imam al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn menekankan pentingnya ‘imārat al-arḍ (memakmurkan bumi) sebagai wujud syukur. Refleksi dan Implementasi. Menanam sebelum ditanam berarti menanam pohon, menjaga sungai, melestarikan tanah dan udara, sebelum berharap hasil ekonomi. Pendidikan Islam perlu memasukkan ekoteologi sebagai kurikulum praktis. Pemerintah, ulama, dan masyarakat wajib bergandeng tangan dalam gerakan Green Islam—dari masjid ramah lingkungan, wakaf pohon, hingga sedekah oksigen. 

Kerusakan lingkungan adalah tanda kelalaian spiritual. Islam mengajarkan bahwa menanam bukan sekadar pekerjaan ekologis, tetapi ibadah sosial dan spiritual. Menanam sebelum ditanam adalah strategi ekologis yang sejalan dengan nash, ilmiah, dan fatwa ulama. Dengan begitu, bumi tetap menjadi rahmat bagi generasi kini dan mendatang. Ecoteologi adalah cabang teologi yang mengkaji hubungan antara manusia, agama, dan lingkungan hidup. Istilah ini lahir dari kesadaran bahwa krisis ekologis tidak bisa hanya dijawab dengan ilmu lingkungan semata, tetapi juga perlu fondasi moral dan spiritual.

Dalam Islam, ecoteologi berakar dari tauhid, pengakuan bahwa alam semesta adalah ciptaan Allah. Khilafah manusia diberi mandat sebagai pengelola bumi. Amanah sumber daya alam adalah titipan yang harus dijaga. Jadi, ecoteologi dalam Islam adalah kesadaran teologis bahwa menjaga alam adalah ibadah dan perusakan lingkungan adalah bentuk kemaksiatan.

Esensi ecoteologi dapat diringkas dalam tiga dimensi: Spiritualitas. Alam dilihat sebagai tanda-tanda (ayat) Allah. Merusak alam berarti merusak ayat-Nya. Zikir ekologis: mengingat Allah melalui kontemplasi ciptaan-Nya. Etika. Mengatur perilaku manusia agar tidak berlebih-lebihan (isrāf) dan tidak boros (tabdzīr). Memakmurkan bumi dengan prinsip keadilan antargenerasi. Mengaitkan kearifan lokal (adat, budaya) dengan syariat Islam dalam menjaga keseimbangan alam. Contoh: falsafah Minangkabau “Alam takambang jadi guru” adalah basis ecoteologi lokal.

Ecoteologi memiliki tujuan multidimensi: Teologis-Spiritual. Mengembalikan kesadaran manusia bahwa bumi bukan milik mutlaknya, melainkan amanah Allah. Menjadikan menjaga lingkungan sebagai ibadah (‘ibādah maḥdhah dan ‘ibādah ijtimā‘iyyah). Ekologis. Mencegah kerusakan (fasād) dan melestarikan ekosistem. Menanam pohon, menjaga air, melindungi hutan sebagai sedekah jariyah. Sosial-Ekonomi. Membangun keadilan ekologi: hasil alam harus dirasakan generasi kini dan mendatang. Mendukung ekonomi hijau berbasis keberlanjutan.

Penguatan

Basis Teologis. Ayat-ayat Al-Qur’an (QS. Fāṭir [35]: 39; QS. al-A‘rāf [7]: 56) dan hadis Nabi ﷺ menjadi legitimasi kuat bahwa menjaga lingkungan adalah ibadah, sedangkan merusaknya adalah dosa. Menanam, merawat, dan melestarikan alam adalah bentuk ibadah jariyah yang pahalanya terus mengalir.

Fondasi Ecoteologi. Prinsip tauhid, khilafah, dan amanah menjadi kerangka utuh. Tauhid mengikat kesadaran bahwa bumi milik Allah, khilafah meneguhkan mandat manusia sebagai pengelola, dan amanah menuntut pertanggungjawaban moral-spiritual. Dimensi spiritual (alam sebagai ayat Allah), etika (anti isrāf dan tabdzīr), dan sosial-kultural (kearifan lokal seperti “alam takambang jadi guru”) memperkaya konsep ecoteologi dalam Islam.

Fatwa dan Ulama. Fatwa MUI tentang sampah (2014) dan hutan lestari (2016) mempertegas bahwa kerusakan lingkungan bukan sekadar isu ekologis, melainkan persoalan hukum syar‘i. Ulama klasik seperti Imam al-Ghazali dengan konsep ‘imārat al-arḍ memberi legitimasi historis bahwa menjaga bumi adalah wujud syukur.

Konteks Ilmiah. Fakta deforestasi, krisis iklim, dan polusi menegaskan pentingnya sustainable development yang sejalan dengan syariat Islam. Islam dengan konsep rahmatan lil ‘ālamīn melengkapi pendekatan ilmiah modern dengan spiritualitas dan moralitas ekologis.

Kesimpulan

“Menanam sebelum ditanam” adalah simbol ekoteologi Islam: manusia wajib menjaga bumi terlebih dahulu sebelum berharap hasil darinya. Ecoteologi menegaskan bahwa:

Definisi: Ecoteologi adalah kesadaran iman bahwa menjaga alam adalah ibadah, merusaknya adalah maksiat ekologis. Esensi: Menyatukan spiritualitas (alam sebagai ayat Allah), etika (menghindari israf dan tabdzīr), serta sosial-kultural (memanfaatkan kearifan lokal). Tujuan: Mengembalikan kesadaran bahwa bumi adalah amanah Allah, melestarikan ekosistem, menciptakan keadilan ekologi antargenerasi, dan memberi kontribusi Islam dalam etika global menghadapi krisis iklim. Dengan kerangka ini, Islam hadir sebagai solusi ekologis: menanam adalah sedekah jariyah, melestarikan alam adalah jihad zaman kini, dan menjaga bumi adalah bagian dari syukur serta jalan menuju rahmat Allah bagi seluruh makhluk. DS. 24092025

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.