![]() |
Oleh : Ririe Aiko
“Terkadang, beban terberat bukanlah yang kita pikul di pundak, melainkan yang kita simpan diam-diam di dalam hati. Banyak orang memilih memendam, sebab ia tahu sekitarnya tak selalu bisa diajak bicara.”
Kabar duka kembali menyentak nurani kita. Seorang ibu berinisial EN (34 tahun) ditemukan tewas di rumah kontrakannya. Dua anaknya, AA (9 tahun) dan AAP (11 bulan), juga meninggal dengan tanda jeratan di leher. Polisi menemukan sepucuk surat wasiat yang diduga ditulis oleh sang ibu, berisi keluhan mengenai tekanan ekonomi dan konflik rumah tangga. Sebuah peristiwa yang bukan hanya menggetarkan hati, tetapi juga menyisakan pertanyaan besar: di manakah ruang aman untuk jiwa yang sedang rapuh?
Fenomena ini memperlihatkan sisi paling sunyi dari kehidupan manusia. Jauh di lubuk hati, mungkin EN tidak benar-benar ingin mengakhiri hidupnya. Barangkali ia ingin bertahan, tetapi tak lagi menemukan pegangan. Tidak ada telinga yang siap mendengar, tidak ada pelukan yang mampu menenangkan. Pada akhirnya, keputusasaan mengalahkan harapan.
Setiap manusia, pada satu titik, pasti pernah berada di tepi jurang kelelahan. Namun, perbedaan yang paling menentukan adalah ada atau tidaknya dukungan emosional. Sayangnya, banyak di antara kita memilih memendam luka dalam diam. Kita tersenyum di luar, sementara di dalam hati segalanya runtuh dan berantakan. Yang lebih menyakitkan, ruang yang semestinya menjadi tempat paling aman, keluarga dan orang terdekat, justru kerap menghadirkan tekanan yang lebih berat. Kata-kata yang tajam, sikap yang abai, atau ekspektasi yang terlalu tinggi bisa berubah menjadi belenggu yang menambah tekanan jiwa.
Tragedi EN memberi kita peringatan keras: berhati-hatilah dengan ucapan dan sikap. Kita tidak pernah tahu beban apa yang sedang ditanggung seseorang. Barangkali, orang yang kita temui hari ini bukan sedang membutuhkan ceramah panjang atau solusi instan. Bisa jadi mereka hanya butuh didengar, divalidasi perasaannya, dan diyakinkan bahwa mereka tidak sendirian.
Data menunjukkan betapa rentannya kondisi kesehatan mental ketika dukungan sosial minim. WHO (2023) mencatat bahwa lebih dari 700 ribu orang meninggal akibat bunuh diri setiap tahun, dan satu dari 100 kematian di dunia terjadi karena alasan ini. Di Indonesia, Riskesdas Kementerian Kesehatan (2018) menemukan bahwa prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk usia 15 tahun ke atas mencapai 9,8%, sementara sekitar 12 juta penduduk mengalami depresi. Studi psikologi juga menegaskan, kurangnya dukungan sosial memperbesar risiko depresi dan perilaku bunuh diri (Kleiman & Liu, Journal of Affective Disorders, 2013).
Mental health tidak hanya menjadi isu individu, tetapi juga menyangkut urusan sosial. Semua memiliki tanggung jawab untuk menyediakan ruang aman bagi setiap individu, karena satu telinga yang mau mendengar lebih berharga daripada seribu mulut yang pandai berbicara.
Sebab di balik setiap jiwa yang rapuh, sering tersembunyi jeritan sunyi yang tak terucap. Ketika dunia terasa terlalu bising dengan nasihat dan penghakiman, yang dibutuhkan hanyalah keheningan yang hangat, ruang aman untuk bercerita, dan keyakinan bahwa ia tidak sendirian.

