Type Here to Get Search Results !

Epistemologi Budaya Bolaang Mongondow: Kajian Singkat Etno-Antropologi Linguistik

 


oleh ReO Fiksiwan

“Tulu’ bo bayuk bo moyodiug, dumokot-doman.” — Pepatah. 

Epistemologi budaya Bolaang Mongondow bukanlah sekadar telaah atas pengetahuan lokal, melainkan sebuah usaha hermeneutik untuk memahami bagaimana makna, identitas, dan struktur sosial dibentuk melalui bahasa dan tradisi. 

Dalam kerangka pemikiran William Dilthey, pengalaman hidup masyarakat Bolaang Mongondow harus dibaca sebagai teks yang mengandung makna historis dan spiritual, bukan sebagai data empiris yang terlepas dari konteks. 

William Dilthey(1833-1911), filsuf, sejarawan, dan pelopor hermeneutika modern, dalam Einleitung in die Geisteswissenschaften(1883), mengembangkan gagasan bahwa ilmu-ilmu kemanusiaan(Geisteswissenschaften) harus dipahami melalui pendekatan Verstehen (pemahaman), bukan sekadar Erklären (penjelasan) seperti dalam ilmu alam. 

Ia menekankan bahwa makna dalam teks, tindakan, dan sejarah manusia hanya bisa ditangkap melalui interpretasi yang menyeluruh terhadap konteks hidup dan pengalaman batin. Tentu, harus melalui bahasa pengampunya.

Sebut saja, dari sejumlah besar adat dan tradisi di Bolaang Mongobdow, monibi, mobalu, mogama, metayok dan lainnya, sangat sarat dengan pergulatan atavisme linguistiknya.

Dilthey menekankan bahwa pemahaman sejati lahir dari proses Verstehen—penghayatan makna dari dalam—dan bukan sekadar penjelasan kausal. 

Maka, ketika kita menelusuri jejak bahasa dan adat Bolaang Mongondow, kita tidak sedang mengumpulkan fakta, tetapi sedang memasuki dunia hidup yang sarat dengan simbol, ritual dan nilai.

F. Dünnebier, dalam „Sprachkunst van Bolaang Mongondow“ atau 

“Het Bemedicineeren Van Een Dorp In Het Landschap Bolaang Mongondow (Noord Celebes), soal tradisi pengobatan di desa Bolaang Mongondow, juga menyajikan dokumentasi linguistik yang bukan hanya teknis, tetapi juga estetis. 

Ia menangkap kehalusan struktur fonetik dan sintaksis sebagai ekspresi dari cara berpikir dan cara hidup masyarakat Mongondow. Seperti contoh-contoh sederhana berikut:

„Iyo molunat." Artinya: "Dia cantik“; „Iyo monginum toig“; „Dia minum air“; „Iyo bobangkay“, Dia adalah kepala adat."

Bahasa, dalam pandangan Ferdinand de Saussure, adalah sistem tanda yang membentuk realitas sosial. 

Dengan kata lain, bahasa Bolaang Mongondow bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga medium epistemologis yang membentuk dan membatasi cara masyarakat memahami dunia(Weltanschauung; Weltverstehen). 

Relasi antara signifiant(tanda) dan signifié(penanda) dalam bahasa Bolaang Mongondow menunjukkan bahwa makna tidak bersifat tetap, selain arbitrer, melainkan lahir dari relasi sosial dan sejarah yang terus bergerak. 

Dalam konteks ini, Dünnebier tidak hanya mencatat kata, tetapi juga menangkap dunia yang hidup di balik kata, khusus misalnya dalam hal pengobatan.

Sementara itu, Prof. Mr. R.P. Notosoesanto(1903-1974),dalam Adatrecht van Bolaang Mongondow(Kolom Stud,1933), mengungkapkan bahwa hukum adat bukan sekadar norma sosial, tetapi juga sistem pengetahuan yang mengatur relasi antara manusia, alam, dan yang transenden. 

Notosoesanto, pernah mengajar di berbagai perguruan tinggi ternama: Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, Universitas Airlangga, hingga IAIN Sunan Kalijaga, telah menyusun karya ini sebagai bagian dari studi kolonial tentang sistem hukum lokal, namun pendekatannya tetap memberikan ruang bagi pemahaman kultural yang kaya. 

Ia mendokumentasikan bagaimana adat bukan sekadar norma, tetapi juga ekspresi nilai-nilai spiritual dan sosial yang membentuk identitas Bolaang Mongondow.

Adat menjadi ruang epistemik di mana nilai-nilai seperti keadilan, kehormatan, dan keseimbangan kosmik dijaga dan diwariskan. 

Dalam tradisi Bolaang Mongondow, hukum adat tidak bersifat represif, melainkan performatif—ia hidup dalam ritus, dalam narasi, dan dalam bahasa tubuh masyarakatnya. 

Jika Dilthey mengajarkan kita untuk memahami makna melalui pengalaman hidup, maka adat dan tradisi Bolaang Mongondow adalah pengalaman hidup itu sendiri yang telah ditata dalam bentuk simbolik dan normatif. Seperti bagaimana menafsirkan relasi kultural, Paloko-Kinalang?

Epistemologi budaya Bolaang Mongondow, jika dibaca melalui hermeneutik Dilthey dan linguistik Saussure, adalah upaya untuk memahami bagaimana masyarakat membentuk pengetahuan melalui bahasa dan tradisi. 

Ia bukan hanya soal apa yang diketahui, tetapi bagaimana mengetahui itu dimungkinkan. 

Dalam dunia yang semakin terfragmentasi oleh modernitas dan globalisasi digitalisme, epistemologi lokal seperti ini menjadi penting bukan sebagai nostalgia, tetapi sebagai sumber alternatif untuk memahami keberadaan manusia(tau) Bolaang Mongondow — meski Notosoesanto membaginya dalam beberapa tingkatan seperti sadaha tomponuun, tau, tahig, simpal dll. — secara utuh. 

Bolaang Mongondow mengajarkan bahwa pengetahuan tidak hanya lahir dari laboratorium atau universitas, tetapi juga dari hutan, dari rumah adat(komalig), dari nyanyian(itum-itum, salamat,dadalog) dari dialog(momondow) diam-diam antara manusia dan alam.

Dalam ruang ini, epistemologi bukan hanya soal teori, tetapi soal hidup itu sendiri: tudu in bakid, tumoto bokat-tumoto bakid, molintak kon totabuan.

#coverlagu: Tano Tanobon(Cipt. B. Ginupit) pernah dibawakan Tielman Sisters dan Haris Sugeha Rotinsulu).

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.