Type Here to Get Search Results !

Demokrasi dibalik Tameng Besi


Oleh : Ririe Aiko 


“Kedaulatan di tangan rakyat,”

suara itu diguratkan undang-undang.

Namun ketika rakyat bersuara di jalan,

kata-kata itu dipatahkan

oleh tameng kekuasaan.


Konstitusi berjanji,

Pancasila bersumpah.

Tapi janji itu kerap terselip

di ruang sidang yang penuh basa-basi,

lalu hanyut di meja makan

bertabur tunjangan, fasilitas,

dan tawa yang terdengar

seperti ejekan dari balkon kuasa.


Rakyat datang dengan poster lusuh,

spidol yang hampir kering,

dengan membawa secercah harapan

agar suara kecil mereka tak karam.

Namun yang menyambut

bukan telinga wakil rakyat,

melainkan tameng baja dan derap sepatu

yang menindas denyut demokrasi.


Apa arti kedaulatan

jika ia sekadar slogan di spanduk kampanye?

Apa arti demokrasi

jika ia lebih mesra dengan kawat berduri

daripada kursi dialog untuk rakyat sendiri?


Rakyat hanya ingin bicara,

tapi lidah mereka dipaksa bernegosiasi

dengan pentungan dan sirine.

Aparat, yang dititahkan sebagai pelindung,

menjelma pagar besi,

mengurung langkah rakyat

di tanah air yang mereka rawat dengan keringat.


Diam kian ditekan,

melawan dianggap lawan.


Apakah rakyat kecil harus terus diseret

sebagai penjahat di rumahnya sendiri?

sementara pesta kuasa berlanjut,

dan lagi lagi....

gema aspirasi menyisakan banyak tragedi.

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.