![]() |
Oleh: Duski Samad
Guru Besar UIN Imam Bonjol Padang dan Wakil Ketua Umum PP PERTI
Peringatan Maulid esensinya adalah momentum refleksi iman dan akhlak.
Maulid Nabi Muhammad SAW 1454 H bukan sekadar perayaan ritual. Ia adalah momentum muhasabah untuk menilai, apakah iman kita hanya berhenti di ucapan, atau benar-benar mewujud dalam akhlak dan moral.
Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 8–20) memberi gambaran keras tentang orang-orang munafik: mereka mengaku beriman, tetapi perilakunya merusak, menipu, dan penuh kepura-puraan. Inilah wajah paradoks iman dan moral yang nyata dalam kehidupan kita hari ini.
Paradoks Iman dan Moral: Tafsir QS. Al-Baqarah 8–20.
Lisan beriman, hati ingkar (ayat 8–9): Iman hanya slogan, tidak masuk ke dalam jiwa.
Hati sakit (ayat 10): Penyakit spiritual berupa riya, dengki, dan cinta dunia menggerogoti iman.
Merusak sambil mengklaim memperbaiki (ayat 11–12): Korupsi, fitnah, kekerasan dibungkus jargon pembangunan.
Bermuka dua (ayat 13–14): Mengaku beriman di depan umat, tetapi berkhianat di balik layar.
Hidup dalam kegelapan (ayat 17–20): Bimbang, ragu, tanpa pegangan moral yang kokoh.
Paradoks ini, menurut tafsir klasik dan kontemporer, adalah wajah kemunafikan sosial yang menghancurkan sendi kehidupan.
Dimensi Psikologis: The Death of Shame
Secara psikologis, paradoks iman dan moral menumbuh kan fenomena kematian rasa malu (death of shame). Nabi SAW pernah bersabda: “Jika engkau tidak malu, lakukanlah sesukamu.” (HR. Bukhari).
Hari ini, banyak orang masih rajin shalat, umrah, bahkan berzikir, tetapi tetap melakukan kecurangan dan korupsi tanpa rasa bersalah. Secara psikologi moral, ini disebut dissonansi kognitif: keyakinan dan perilaku bertentangan, namun tetap dipertahankan dengan pembenaran diri. Akibatnya, hati menjadi keras (qaswah al-qalb), sehingga dosa tidak lagi terasa sebagai dosa.
Dimensi Sosiologis: Krisis Kepercayaan Publik. Fenomena ini juga melahirkan krisis trust publik.
Institusi agama kehilangan wibawa ketika tokoh agama terseret konflik, kepentingan politik, atau perilaku tidak etis.
Institusi politik dan hukum rapuh ketika banyak pejabat yang berseragam simbol agama tetapi terjerat kasus korupsi.
Budaya masyarakat bergeser dari ABS-SBK (Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah) menuju individualisme dan materialisme.
Dalam teori sosiologi, ini disebut erosi modal sosial: solidaritas melemah, rasa saling percaya menurun, dan umat hidup dalam kecurigaan.
Maulid dan Teladan Nabi: Jalan Menghentikan Paradoks.Rasulullah SAW adalah teladan paripurna yang menyatukan iman dan akhlak.Al-Qur’an menyebut beliau uswah hasanah (QS. Al-Ahzab: 21). Keimanan Nabi tidak berhenti di hati dan lisan, tetapi nyata dalam perilaku jujur, amanah, rendah hati, dan penuh kasih sayang.
Untuk menghentikan paradoks iman dan moral, umat Islam perlu:
Pertama: Mereformasi pendidikan karakter Islami: iman harus melahirkan akhlak sejak dini.
Kedua: Menghadirkan pemimpin teladan: publik butuh figur yang menyatukan ibadah dan moral publik.
Ketiga: Menghidupkan budaya malu: malu berbuat dosa adalah benteng psikologis iman.
Keempat: Mengembalikan ABS-SBK: agar nilai agama dan adat kembali menjadi fondasi sosial.
6. Penutup
Maulid Nabi 1454 H harus menjadi alarm moral. Jangan sampai umat hanya membesarkan iman di lisan, tetapi membiarkan moral runtuh di tindakan. QS. Al-Baqarah 8–20 sudah memperingat kan: orang yang mengaku beriman tanpa akhlak akan hidup dalam kegelapan.
Peringatan Maulid seharusnya menjadi titik balik: iman harus menumbuh kan moral, ibadah harus memuliakan akhlak, dan keislaman harus menebar rahmat.
Hanya dengan cara itu kita bisa menghentikan paradoks iman dan moral, serta mengembalikan marwah umat dan martabat bangsa. DS29082025.

