Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Tuanku di Pusaran Media Sosial Oleh : Prof Duski Samad Tuanku Mudo

Prof Duski Samad Tuanku Mudo 

Refleksi Pasca Ramadhan dan Idul Fitri 1445H

Tuanku di pusaran media sosial maksudnya adalah keterlibatan Tuanku dalam media sosial, khususnya group whatshaap, facebook, youtube dan platform digital lainnya. Keterlibatan Tuanku dalam medsos ada sebagai pengguna saja (konsumen), ada sudah masuk sebagai pengisi conten positif dan konstruktif, dan tak sedikit Tuanku hanya mengunakan medsos sekedar tempat bercanda, curhat, informasi remeh temeh dan yang menyedihkan ada yang masuk pada ruang personal, postingan hoax dan merendahkan dirinya sendiri. 

Mencermati group whatshap Silaturahmi Tuanku yang anggotanya posisi tulisan ini dibuat bergabung sejumlah 724 orang, sebelumnya anggota group hampir 800 orang, ada masuk, keluar dan tidak sedikit yang pasif sebatas penonton dan penikmat.

Apapun realitasnya informasi dan percakapan yang sudah diposting itu dapat dijadikan indikasi dinamika Tuanku dalam media sosial dan khusus group Silaturahmi Tuanku ini ada 3 (tiga) wacana, percakapan, kritik, saran dan perdebatan yang paling menonjol dan mendapat pembahasan luas. 

PERTAMA: PRAKTEK BA SAPA DAN ZIARAH KUBUR

Wacana tentang ba sapa dan ziarah kubur kembali menghangat tidak bisa dipisahkan dari pergerakkan pemikiran keagamaan, di Sumatera Barat. Paham ahlussunal wal jamaah yang cendrung akomodatif terhadap budaya lokal (kontekstual) berbenturan dengan paham keagamaan salafi yang kritis terhadap budaya (tekstual). 

Kritik praktik berziarah ke makam Syekh Burhanuddin Ulakan ketika ba sapa dan hari-hari biasa datang dari dua arah. Kelompok Salafi yang diwakili oleh H. Zulkifli Zakaria dalam youtube dan ceramahnya yang menempatkan praktik ziarah ke makam Syekh Burhanuddin Ulakan dan ziarah lainnya dipenuhi kesyirikan dan khurafat yang mesti diluruskan. Pencermatannya di dasarkan pada perilaku masyarakat di tempat ziarah.

Kedua kritik pedas datang dari Buya Ristawardi Datuk Marajo yang lagi viral melalui ceramah berbasis pepatah adat Minangkabau mengkritik bahwa praktik ba sapa ke Ulakan dan ziarah yang dilakukan Tuanku ke tempat ulama lainnya adalah mengandung kesyirikan, bid'ah dan menyebut itu sebagai tak ada gunanya, karena tidak bisa meminta kepada orang yang sudah wafat. 

Medsos youtube kedua tokoh ini menjadi lebih luas lagi, karena memang Tuanku yang mengkritik itu juga memberikan sumbangan bagi populernya sang pengkritik. Itu adalah hukum informasi medsos, bed information is good infomation, berita buruk, justru baik untuk conten. 

Kecaman, kritik balasan tajam, klarifikasi sang Buya yang berdua itu akan terus menjadi kosumsi publik, siapa yang diuntungkan, lazimnya yang memantik diskusi, sedangkan yang dirugikan adalah umat yang tak tahu duduk masalahnya. Wacana medsos berbalas medsos inilah yang disebut Dahlan Iskan dengan kebenaran baru, yaitu kebenaran viral dan framing. Hati-hati dan ingat teori bumerang, senjata memakan tuan. 

Adab, dan adat ulama dan kaum terpelajar harusnya duduk bersama, berhalakah, dan bermuzakarah, dalam menyelesaikan masalah yang ikhtilaf. Hemat penulis masalahnya adalah soal pendekatan dakwah berbasis budaya dan kebiasaan orang awam, yang oleh pengkritik ditempatkan sebagai fatwa ulama. Begitu sebaliknya Tuanku lemah pula adab dalam menjelaskan masalah furu'iyah yang memang dipersilakan berbeda. Mengurai masalah khilafiyah hanya dapat dilakukan dalam muzakarah ulama tidak di ruang medsos atau ruang ceramah umum.

KEDUA : TAWASUL DAN PHOTO UNGKU SALIH 

Bahasan lain yang cukup menyita perhatian Tuanku dalam postingan di group whatshap Silaturahmi Tuanku adalah tentang tawasul. Pola beribadah yang oleh Buya viral (Ristawardi) disampaikan dalam youtubenya bahwa bertawasul dengan ulama adalah haram dan membawa kesyirikan.

Masalah menjadi meluas ketika Buya viral Ristawardi ini menyebut praktik beberapa pengusaha Rumah Makan dan kedai menempatkan photo Ungku Salih di dekat kasir dan itu diduga menjadi sumber tawasul pengikutnya yang harus dihentikan. Realitas ini memang begitu ada di berbagai wilayah dan yang pasti itu tidak ada pula fatwa atau kaji Tuanku yang menyuruh umat bertawasul kepada almarhum. 

Lebih mengusik lagi pernyataan Buya viral ini..'siapa benar Ungku Salih itu " ia tidak bisa mengantarkan doa dan mengabulkan doa. Pernyataan ini secara konotatif bisa mengundang ketidaknyamanan bagi orang yang mengikut atau keluarga besar almarhum. Kritik boleh, namun pola pikir tabligh jangan sampai lepas kontrol, apalagi sampai meremehkan ulama. 

Kajian tawasul ini sudah menjadi perdebatan sejak abad 19 lalu. Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi menulis buku kritik tawasul dalam tarekat Naqsabandiyah dan kritiknya dijawab oleh Syekh Mungka dan Syekh Khatib Ali Padang tentang makna tawasul dalam tarekat. (Silakan baca lebih jauh). 

Kedua masalah di atas adalah "lagu" lama dengan aransemen baru yang sebenarnya tidak perlu diperdebatkan oleh ulama atau Tuanku sekarang, tetapi harusnya untuk diluruskan dengan tabligh praktik ziarah, ba sapa dan tawasul yang benar. 

Harus diakui umat yang awam masih banyak yang salah paham tentang ziarah ke makam ulama, kunjungan ba sapa persis sama dengan ziarah, pemahaman dan pemaknaan tawasul belum tentu seperti yang dikritik mereka yang hanya tahu di luar saja. Natijahnya bahwa saling memahami dan diskusi dengan hati jernih adalah cara baik untuk kebaikan bersama. 

KETIGA : TAQWIM DAN SIDANG ISTBAT  

Pangkal masalah penentuan awal Ramadhan dan Syawal dilingkungan Tuanku adalah pengunaan metode menentukan kapan rukyatul hilal. Taqwim arbaiyah dan khamsiyah sepertinya jalan atau pola penentuan yang tak boleh berubah (qathi') adanya, artinya mesti menjadi nomor satu dapat boleh berubah dengan adanya bulan baru yang ditunggu.

Walau dalam muzakarah dan konon informasi Tuanku senior almarhum Tuanku Kuning Zubir sudah menyetujui apabila hilal kelihatan, maka taqwim gugur. Dalam realitasnya awal Ramadhan 1445 lalu, sudah mutawatir hilal kelihatan di Padang, Pariaman dan kawasan yang mengikuti paham Syathariyah, bahwa hari Selasa sudah wajib puasa, namun masih ada kelompok yang tak mengindahkan penglihatan hilal lokal dan yang sudah mutawatir itu. 

Sidang istbat yang dilakukan Kementerian Agama RI di Jakarta, yang memang punya otoritas dalam penetapan masalah keagamaan umat, juga dilakukan oleh kelompok Tuanku sesuai silsilah keguruannya. Pekerjaan rumah di masa datang sudahkah tersedia sumber daya insani yang memang mumpuni dalam astronomis matematis (hisab wujudul hilal), atau ahli dalam ilmu falakiyah (mumkinun rukyat).

Perdebatan Tuanku di medsos adalah dinamika yang menunjukkan adanya pandangan, pemikiran dan pendapat yang hendaknya dapat dirujuk ke pangkal, dengan membuat batasan masalah, mana yang sifat ranah qathi' yang sami'na wath'na dan mana pula ruang ijtihadiyah yang dibolehkan berbeda. 

Dalam FGD Urgensi Sidang Istbat dan Penyatuan Kalender Islam global, Selasa, 09 April 2024/29 Ramadhan 1445 H di Hotel Rangkayo Basa Padang muncul pandangan dari Prof.Asasriwarni selaku ketua Badan Hisab dan Rukyat Sumatera Barat yang panel dengan Dr.Suhaidi Kepala BMKG Padang Panjang bahwa penentua awal bulan setiap bulannya adalah ranah ijtihad. 

Zaman Nabi, sahabat dan Daulah Abbasiyahpun memang rukyatul aini (penglihatan dengan mata kepala) yang jadi patokan. Setelah ilmu pengetahuan berkembang dan ada teropong bintang rukyatul aini diperkuat dengan rukyatul ilmi, (hitungan ilmu astronomi matematis), itulah pentingnya Badan Hisab dan Rukyat yang mengumpulkan keduanya. Dapat ditegaskan bahwa hisab itu sumber informasi dan rukyat untuk konfirmasi. Sejatinya sudah clear.  

Akhirnya ingin ditegaskan bahwa keterlibatan Tuanku dalam ruang publik, khususnya medsos adalah peluang (oppurtunity) dan sekaligus tantangan (challangge) dalam mengaktualisasi perannya sebagai SULUAH BENDANG DALAM NAGARI, tentu dengan harapan Tuanku paham betul marwah dan tugas fungsinya sebagai pewaris Nabi, pelanjut risalah Islam yang rahmatan lil alamin. 

Patut juga dipertimbangkan soal Tuanku di ruang politik praktis, dukung mendukung calon, patut diperhatikan penelitian Sadri Chaniago yang sudah dimuzakarah ia berkesimpulan jejak pengalaman Tuanku di ranah politik hanya sebatas "ganja batu" dan hanya menguntung orang perorang belaka. wallahu'alam bishawab, inuridu illalishlah. SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN KAPADO SAGALO TUANKU INDAK DISABUIK NAMO DIIMBAU GALA, KITO PULANGAN KA ASO, KITO GANTUNGAN KA NAN TINGGI. AMIN (***)

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Hollywood Movies