Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Ramadan untuk Negeri Makmur Oleh : Prof Duski Samad Tuanku Mudo

Prof Duski Samad Tuanku Mudo.

Kajian Tarawih Masjid Munawarah Siteba, 15032024

Ramadhan untuk negeri makmur maksudnya ketaatan dan kesalehan yang dihasilkan Ramadhan diyakini memberikan sumbangan besar bagi pencapaian kemakmuran negeri.

Cita-cita pendiri bangsa untuk mewujudkan negeri yang adil makmur masih jauh dari harapan disebabkan negeri ini pemimpin dan penduduknya belum mencapai kualitas umat terbaik, khaira umat. 

Profil negeri makmur dalam ampunan Tuhannya disebut al quran pada surat Al Saba (34) 15-28].

Muhammad Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah menulis, bahwa negeri Saba’ berlokasi tidak jauh dari kota Sana’a, Ibukota Yaman saat ini. Negara Saba’ atau Negara Ma’rib dikelilingi dua kumpulan kebun di sisi kanan dan kiri. Kerajaan ini berdiri sejak abad 8 SM. 

Mereka memiliki Ma’rib yakni bendungan raksasa yang menjadi sumber pengairan sebagai salah satu kunci kemakmuran negeri yang berbasis ekonomi pertanian itu.

Pengaruh kekuasaan Saba’ mencapai ke Ethiopia, Afrika. Saking makmurnya negeri Saba’, menurut sebagian riwayat, seandainya seorang pejalan kaki menaruh keranjang di kepalanya, niscaya sambil berjalan keranjang itu akan penuh dengan bermacam buah yang jatuh ke dalamnya.

Banyak di antara ahli sejarah dan peneliti di barat meragukan tentang adanya Bendungan Ma’rib ini. Sampai akhirnya seorang peneliti dari Perancis datang sendiri ke selatan Yaman untuk menyelidiki sisa-sisa bendungan itu pada tahun 1843.

Dia dapat membuktikan adanya bendungan itu dengan menemukan bekas-bekasnya, lalu memotret dan mengirimkan gambar-gambarnya ke suatu majalah di Perancis. 

Para peneliti lainnya menemukan pula beberapa batu tulis di antara reruntuhan bendungan itu.

Dengan demikian, mereka bertambah yakin bahwa dahulu kala di sebelah selatan Yaman telah berdiri sebuah kerajaan yang maju, makmur, dan tinggi kebudayaannya.

Pendapat ini diperkuat oleh sejarawan yang hidup pada abad IV H, al-Hasan al-Hamdani, seperti dikutip Ibn ‘Asyur, di mana ia pernah melihat reruntuhan bendungan raksasa Ma’rib itu.

Di dalam al-Qur’an maupun kitab sejarah, Negeri Saba' atau Ma’rib menjadi negara yang aman, makmur dan sentosa (baldah thayyibah) berkat ekonomi pertanian atau agro industri yang bersumber dari sistem pengairan bendungan raksasa yang disebut Ma’rib.

Ilmuwan moderen menyatakan 

Negara yang makmur memiliki berbagai indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kemakmuran negeri.

Beberapa indikator yang umum digunakan untuk mengukur kemakmuran suatu negara antara lain:

1. Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita: Menunjukkan nilai total produksi barang dan jasa dalam suatu negara dibagi dengan jumlah penduduknya. Semakin tinggi PDB per kapita, semakin makmur suatu negara.

2. Tingkat Harapan Hidup: Menunjukkan rata-rata usia yang diharapkan seseorang dapat hidup dalam suatu negara. Tingkat harapan hidup yang tinggi menandakan adanya akses yang baik terhadap layanan kesehatan dan kondisi hidup yang baik.

3. Indeks Pembangunan Manusia (IPM): IPM menggabung kan indikator PDB per kapita, harapan hidup, dan tingkat pendidikan untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang tingkat kesejahteraan suatu negara.

4. Tingkat Pengangguran: Tingkat pengangguran yang rendah menandakan adanya lapangan kerja yang cukup bagi penduduk suatu negara, yang berkontribusi pada kemakmuran ekonomi.

5. Indeks Kebahagiaan: Indeks kebahagiaan mengukur tingkat kepuasan dan kebahagiaan penduduk suatu negara terhadap berbagai aspek kehidupan, seperti kesehatan, pendidikan, dan hubungan sosial.

Tentu saja, kemakmuran suatu negara tidak hanya dapat diukur dari indikator di atas saja, namun indikator-indikator tersebut dapat memberikan gambaran umum tentang tingkat kemakmuran suatu negara.

TAAT DAN SALEH UNTUK BANGSA 

Negeri Makmur tidak datang sendiri.

Kelima indikator dapat tercapai bila pemimpin dan umatnya taat pada kebenaran. Pemimpin dan orang yang sombong, zalim dan fasiq adalah sumber petaka bagi bangsa.

وَاِ ذَاۤ اَرَدْنَاۤ اَنْ نُّهْلِكَ قَرْيَةً اَمَرْنَا مُتْرَفِيْهَا فَفَسَقُوْا فِيْهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنٰهَا تَدْمِيْرًا

"Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman Kami), kemudian Kami binasakan sama sekali (negeri itu)."(QS. Al-Isra' 17:16).

Kesalehan dan ketaatan berjamaah adalah modal untuk hadirnya negeri yang makmur. Ramadhan sarana untuk menjadi warga yang taat dan salih. Indikator ketaatan kesalehan itu tidak sama. 

Indikator ketaatan beragama dapat bervariasi tergantung pada agama yang dipraktikkan. Namun, secara umum, beberapa indikator ketaatan beragama yang sering digunakan meliputi:

1. Kehadiran ke tempat ibadah secara rutin, seperti ke gereja, masjid, kuil, atau tempat ibadah lainnya.

2. Melaksanakan ibadah ritual sesuai dengan ajaran agama yang dianut, seperti shalat, puasa, persembahan, atau ritual lainnya.

3. Mematuhi ajaran moral dan etika agama dalam kehidupan sehari-hari, seperti berbuat kebaikan, menghindari perbuatan dosa, dan menjaga hubungan baik dengan sesama.

4. Menjalankan ajaran agama dalam keputusan dan tindakan sehari-hari, baik dalam hal pekerjaan, hubungan sosial, maupun keputusan penting lainnya.

5. Mempelajari dan memahami ajaran agama secara mendalam untuk meningkatkan pemahaman dan keimanan.

Namun, penting untuk diingat bahwa tingkat ketaatan beragama seseorang tidak selalu dapat diukur secara langsung dan dapat bervariasi antara individu satu dengan yang lainnya.

Sedangkan kesalehan lebih bersifat luas.

Indikator kesalehan dapat bervariasi tergantung pada sudut pandang dan nilai-nilai yang dijunjung oleh masing-masing individu atau kelompok. Namun, secara umum, beberapa indikator kesalehan yang sering diidentifikasi dalam konteks agama atau moralitas adalah:

1. Ketaatan pada ajaran agama atau nilai-nilai moral yang diyakini.

2. Kehidupan yang penuh dengan ibadah dan amal kebajikan.

3. Kesediaan untuk membantu sesama dan berbuat kebaikan.

4. Kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi cobaan dan ujian.

5. Kehidupan yang jujur, adil, dan bertanggung jawab.

6. Kedermawanan dan kepedulian terhadap orang lain.

7. Kesalehan dalam berinteraksi sosial dan berkomunikasi dengan baik.

8. Kesalehan dalam menjaga lingkungan dan alam sekitar.

Namun, penting untuk diingat bahwa kesalehan adalah konsep yang kompleks dan dapat diinterpretasikan secara berbeda oleh setiap individu.ds. 15032024. (***)

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Hollywood Movies