Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Nikson Nababan, Sosok Pemimpin Menginspirasi yang Dinanti Sumatera Utara

Kiai Achmad Khambali bersama Nikson Nababan memimpin kegiatan zikir bersama. (ist)

Setiap orang pasti pernah merasakan menjadi seorang pemimpin, entah itu di lingkungan sekolah, tempat kerja, pertemanan, keluarga, atau untuk dirinya sendiri. 

Momen tersebut akan membantu memunculkan kualitas dan gaya kepemimpinan dalam diri seseorang. Pemimpin bukan sekadar memerintah orang di bawahnya. 

Sosok pemimpin membantu diri mereka sendiri dan orang lain untuk melakukan hal yang benar. Mereka menetapkan arah, membangun visi yang menginspirasi, dan menciptakan sesuatu yang baru. Kepemimpinan adalah tentang memetakan ke mana harus pergi untuk berhasil sebagai tim atau organisasi. 

Ketika seorang pemimpin menetapkan tujuan, mereka juga harus menggunakan keterampilan manajemen mereka untuk membimbing orang-orang mereka ke tujuan yang tepat, dengan cara yang efektif dan efisien.

Secara umum, kepemimpinan menggambarkan hubungan yang erat antara seseorang pemimpin dengan sekelompok manusia yang dipimpin karena adanya kepentingan bersama. 

Kepemimpinan merupakan titik sentral dan dinamisator seluruh proses kegiatan organisasi. Kepemimpinan mutlak diperlukan bila terjadi interaksi kerja sama antara dua orang atau lebih dalam mencapai tujuan organisasi.

Paul Hersey dan Ken Blanchard dalam teori “kepemimpinan siklus hidup” yang kemudian berganti nama menjadi teori “kepemimpinan situasional” (1969), mengemukakan bahwa esensi kepemimpinan adalah tercapainya tujuan melalui kerja sama kelompok. 

Kepemimpinan seharusnya ditempatkan di depan baru kemudian diikuti dengan manajemen. Mengapa kepemimpinan harus diletakkan terlebih dahulu, yaitu karena kepemimpinan pada dasarnya merefleksikan proses pemimpin menciptakan visi, mempengaruhi sikap, perilaku, pendapat, nilai- nilai, norma, dan sebagainya dari pengikut untuk mewujudkan visi tersebut.

Peranan kepemimpinan adalah memberikan dorongan terhadap bawahan untuk mengerjakan apa yang dikehendaki pemimpin. Oleh karena itu, kepemimpinan secara umum didefinisikan sebagai suatu seni bagaimana membuat orang lain mengikuti serangkaian tindakan dalam mencapai tujuan. 

Tujuan ini merefleksikan nilai-nilai, motivasi, keinginan, kebutuhan, aspirasi yang diharapkan oleh pemimpin dan yang dipimpin. Kata pimpin mengandung pengertian mengarahkan, membina atau mengatur, menuntun, dan juga menunjukkan ataupun mempengaruhi. 

Dari sekian banyak definisi kepemimpinan yang pernah dikemukakan para pakar, satu diantaranya yang paling lugas dan sederhana adalah apa yang pernah dikemukakan John C. Maxwell dalam bukunya “The 21 Irreputable Laws Of Leadership” bahwa “Kepemimpinan itu adalah pengaruh, tidak lebih dan tidak kurang”. 

Menurut Maxwell, baik-buruknya suatu kepemimpinan akan membawa pengaruh dalam segala segi kehidupan organisasi yang dipimpinnya. 

Setidaknya terdapat 3 esensi kepemimpinan yang perlu dipelajari dan ditumbuhkan agar dapat menjadi sosok pemimpin yang ideal dan dapat membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Ketiga esensi penting dari kepemimpinan tersebut adalah:

1. PENGARUH

Esensi pertama dari kepemimpinan adalah pengaruh. Seorang pemimpin seharusnya dapat membawa pengaruh yang positif bagi mereka yang dipimpinnya. 

Sebuah organisasi akan berjalan dengan maksimal dan baik dalam rangka mewujudkan visi jika mendapat pengaruh positif yang kuat dari seorang pemimpin. Pengaruh positif yang kuat ini akan menciptakan atmosfir yang kondusif bagi pertumbuhan dan kemajuan organisasi. 

Pengaruh pemimpin yang positif ibarat air kehidupan bagi mereka yang dipimpinnya. Pengaruh positif yang kuat ini lahir dari integritas. Dari integritas lahir keteladanan dan wibawa sebagaimana pernah Sun Tzu nyatakan, “Pemimpin memimpin dengan teladan bukan dengan kekerasan”. 

Pemerintahan yang bersih dan berwibawa lahir dari pemimpin yang berintegritas serta memancarkan keteladanan sehingga pengaruh positifnya sangat kuat melingkupi seluruh organisasi yang ia pimpin.

2. PEMBERDAYAAN 

Esensi kedua dari kepemimpinan adalah pemberdayaan. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu menggali seluruh potensi yang ada dalam organisasi yang ia pimpin. 

Pemimpin akan memberdayakan segala potensi yang ada, terutama pemberdayaan SDM, demi kemajuan dan kesejahteraan bersama. Pemberdayaan SDM memiliki peranan yang strategis dalam kerangka pencapaian tujuan organisasi. 

Dalam arti luas, pemberdayaan SDM secara substansi dipahami sebagai proses peningkatan potensi, kompetensi, dan karir dari pegawai. Sebagai sumber daya, tak jarang para pegawai menghadapi kendala ataupun hambatan di dalam melaksanakan tugas sehari-hari sehingga tidak dapat memenuhi ekspektasi dan tuntutan organisasi. 

Dalam situasi seperti itu, diperlakukan intervensi yang dimaksudkan untuk memampukan dan memberdayakan para pegawai agar dapat memunculkan potensi yang mereka miliki hingga bisa memaksimalkan kinerja mereka dalam bekerja. Diperlukan ketajaman dan kejelian dalam melihat segala potensi yang dimiliki yang ada dalam wilayah kepemimpinannya. 

Maxwell mengungkapkan bahwa “The best leaders are humble enough to realize their victories depend upon their people”. Para pemimpin yang baik memiliki sifat rendah hati untuk menyadari bahwa kemenangan-kemenangan mereka bergantung pada pencapaian orang-orang yang dipimpinnya. 

Organisasi yang ia pimpin dapat maju dikarenakan memberdayakan semua sumber-sumber daya yang ada terutama sumber-sumber daya manusia, bukan justru memanfaatkan mereka yang ia pimpin demi keuntungan pribadi. Dalam hal ini coaching, mentoring dan counseling mestinya menjadi perilaku kepemimpinan yang ditunjukkan sehari-hari di dunia kerja.

3. PELAYANAN/PENGABDIAN 

Esensi ketiga dari kepemimpinan adalah pelayanan/pengabdian. Pemimpin yang baik adalah mereka yang justru melayani, bukan untuk dilayani. Pelayanan dan kepemimpinan sepertinya adalah dua hal yang sangat bertolak belakang. Bagaimana mungkin melayani tapi juga memimpin? 

Bukankah pemimpin itu justru adalah harus dihormati, dilayani, disanjung? Pemimpin yang besar adalah pemimpin yang memiliki jiwa besar untuk bersedia merendahkan diri melayani mereka yang ia pimpin dengan penuh pengabdian. 

Fokusnya hanyalah bagaimana mensejahterakan, mengantarkan segala kebaikan bagi mereka yang ia pimpin. Jiwa pelayanan atau pengabdian ini akan mengibarkan seorang pemimpin menjadi pemimpin yang besar dan bermartabat. 

Di lingkungan birokrasi sering terjadi kerancuan atau mencampuradukkan antara istilah pemimpin dengan pimpinan. Banyak orang menyebut pemimpin itu adalah orang yang memiliki jabatan atau kedudukan. Padahal dua hal ini adalah sesuatu yang berbeda. 

Kepemimpinan tidaklah sama dengan kedudukan atau jabatan. Pemimpin (leader) adalah orang yang menjalankan kepemimpinan (leadership), sedangkan istilah pimpinan merujuk kepada kedudukan seseorang pada hirarki tertentu pada suatu organisasi. Pimpinan organisasi ini tentu saja memiliki bawahan/pengikut yang karena kedudukannya seorang pimpinan mempunyai kekuasaan formal (wewenang/authority) dan tanggung jawab (akuntabilitas). Istilah lain di lingkungan birokrasi yang memiliki makna sama dengan pimpinan adalah atasan atau lazim juga disebut sebagai pejabat. 

Maxwell menyebutkan bahwa pemimpin yang baik selalu membuat sesuatu terjadi. Mereka memberikan hasil kerja. Sebaliknya, pemimpin yang tidak kompeten hanya peduli pada posisi jabatan sehingga cenderung memainkan politik daripada menghargai bawahan/pengikutnya dan menjalankan peran kepemimpinannya. Padahal bawahan yang baik sekali pun tidak dapat mentolerir pemimpin yang buruk. Seringkali hal ini akan berujung pada ketidakpuasan di tempat kerja. 

Sebagai pemimpin harus memandang setiap orang sebagai pribadi yang utuh, termasuk kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Jadilah pendengar yang baik, pertahankan suasana hati yang konsisten dan tetap optimis. Pemimpin yang baik tahu bahwa konflik atau dinamika hubungan akan naik dan turun ketika memimpin mereka namun tugas pemimpinan adalah tetap mempertahankan sikap positif kala berhubungan dengan anggotanya. 

Hingga pada akhirnya bawahan akan memberikan upaya terbaik ketika mereka menyadari bahwa pemimpin mereka selalu hadir untuk mendorong dan mendukung mereka. Seorang pemimpin harus memiliki gambaran yang jelas tentang kekuatan dan kelemahan setiap orang yang dipimpin dan memahami bagaimana mereka sesuai dengan kebutuhan tim. “A leader must have a clear picture of each person’s strengths and weaknesses and understand how they fit the needs of the team”, kata Maxwell. 

Tentukan nilai-nilai yang penting dan terapkan nilai-nilai itu bersama bawahan. Beri apresiasi kepada bawahan yang menunjukkan kontribusi.

Tips sederhana untuk memulai menjadi pemimpin yang baik, adalah:

Pertama, jadilah sumber energi untuk orang lain. Setiap orang yang berjumpa dengan anda senang karena selalu mendapatkan “sesuatu.” Bahkan bukan hanya senang, mereka menjadi lebih semangat untuk berkarya dan bertumbuh. Kehadiran anda dinanti dan menjadi sumber inspirasi.

Kedua, kurangi memberi instruksi. Pemimpin sering identik dengan pemberi perintah. Boleh jadi pernyataan ini benar. Namun pemimpin yang ingin melahirkan pemimpin justru harus belajar mengurangi memberi instruksi. Ia harus lebih banyak memberi tantangan kepada orang-orang yang dipimpin. 

Anggota tim akan diberi banyak kesempatan untuk berkreasi, mencari solusi sehingga mereka merasa keberadaanya sangatlah berarti. Sang pemimpin akan lebih sabar mendengarkan dan menyiapkan pertanyaan yang cerdas.

Ketiga, ubahlah dari pemberi solusi menjadi penggali solusi. Karena pengalaman dan jam terbang yang dimiliki, seorang pemimpin biasanya sudah tahu banyak jawaban atas berbagai hal. Namun pemimpin yang ingin melahirkan pemimpin perlu menahan diri untuk memberikan jawaban atau solusi.

Pemimpin harus menggali berbagai solusi atas berbagai persoalan yang terjadi. Memang perlu waktu dan kesabaran, tetapi begitulah bila kita ingin orang-orang yang kita pimpin lebih berdaya dan kelak siap menjadi pemimpin yang lebih hebat dari kita, karena salah satu ciri keberhasilan kita sebagai seorang pemimpin adalah manakala kita berhasil melahirkan atau menciptakan pemimpin-pemimpin baru yang bahkan lebih hebat dari kita.

Menurut Kyai Khambali, Ketua Umum Gema Santri Nusa, dari semua ulasan yang kami urai di atas, Nikson Nababan selama 10 tahun memimpin Kabupaten Tapanuli Utara, sangatlah konsisten menerapkan semua konsep yang kami jelaskan semua di atas. 

"Nikson selama 10 tahun memimpin Taput sangatlah berhasil membawa perubahan di Tanah Taput, hal ini sangat kasat mata, di tangan Nikson Nababan sebagai Bupati 2 periode pembangunannya sangat pesat dan masyarakatnya tersejahterakan," ujar Kyai Khambali yang juga Pengasuh Majlis Sholawat Ahlul Kirom.

Melihat kepiawaian dan keberpihakan Nikson Nababan ke semua lintas agama dan dengan tangan dingin, di serta usaha kerasnya sangatlah pantas, Nikson Nababan untuk memimpin Sumatera Utara. 

"Jauh lebih beradab dan berkarakter serta Sumut menjadi maju dan bermutu di tahun 2024," ucap Kyai Khambali yang juga Pengasuh Ponpes Wirausaha Ahlul Kirom.

Selama ini, Nikson Nababan sudah sering berkolaborasi dengan Gema Santri Nusa (Gerakan Mitra Santri Nusantara) dalam hal menciptakan dan mendorong serta motor penggerak star up di kalangan generasi milenial, kata Kyai Khambali.

"Kami di Gema Santri Nusa punya Motto : Dari Santri Untuk Ekonomi Negeri, Kyai Memanggil dan Motto ini sejalan dengan apa yang sudah dilakukan Nikson Nababan selama 2 periode sebagai Bupati Tapanuli Utara. Kita berharap Nikson bisa mengimplikasikan programnya di skala yang lebih luas nantinya sebagai Gubernur Sumatera Utara," tutup Kyai Khambali sebagai pengamat kebijakan publik. (rls/red)

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Hollywood Movies