Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Kesan Jadi Panelis dalam Peluncuran Buku Armaidi Tanjung

Buku Dr. Hasnan Nafis, Visioner dari Tandikek yang ditulis Armaidi Tanjung. (ad)

Padang Pariaman, Sigi24.com--Tahun 2023 segera berakhir. Ada momen dan kegiatan yang saya ikuti, dan tentu banyak pula suka duka kehidupan yang dilewati.

Namun, dari sekian banyak momen indah dan mendidik yang saya alami sepanjang 2023, ada dua peristiwa yang sangat berkesan bagi saya.

Berkesan, karena kegiatan itu perdana dalam hidup saya. Memang ceramah di mimbar dan di hadapan banyak tak pula sering saya lakukan, tapi ceramah bedah buku, inilah baru saya lakukan.

Yakni ketika diminta jadi narasumber dan panelis dalam kegiatan bedah dan peluncuran buku.

Keduanya di akhir tahun ini, Desember 2023. Adalah Armaidi Tanjung, Sekretaris DPD SatuPena Sumbar yang meminta saya jadi satu dari dua orang narasumber dalam peluncuran bukunya yang berjudul, "Katakan dengan Buku, Putri".

Kegiatan ini diadakan di IAI Sumbar di Pariaman. Bedah buku ini digelar 6 Desember. Saya tak tahu pula, apa alasan Armaidi Tanjung minta saya jadi narasumber.

Yang saya tahu, dia menelpon dan minta saya jadi salah seorang pembedah. Ketika di pembicaraan telpon itu, saya menolak, lantaran belum pernah jadi narasumber dalam bedah buku.

"Ah, tak masalah itu," kata Armaidi. Nanti dikasih bukunya, untuk dibaca dan dipelajari sebelum acara, sambung dia pula.

Buku itu memang ada memuat tentang saya, tapi sedikit. Sebab, bukunya berkisah soal suka duka dan cerita Armaidi dalam menulis, menerbitkan, sampai bedah dan mendistribusikan buku.

Cerita demikian dijadikannya kado terindah buat sang Putri, anak sulungnya. Saya dan Mukhlis Rahman, mantan Walikota Pariaman dua periode pembedahnya.

Lalu, yang kedua yang juga berhubungan dengan buku, adalah peluncuran buku, "Dr. Hasnan Nafis, Visioner dari Tandikek".

Buku ini biografi Hasnan Nafis, pendiri dan pemilik STIKIP Nasional Pauh Kambar. Bukunya juga ditulis Armaidi Tanjung. Otomatis Armaidi Tanjung pula yang minta saya jadi panelis.

Sendiri saja panelisnya. Diluncurkan Sabtu 30 Desember 2023, dan merupakan kegiatan terakhir Armaidi yang berhubungan dengan buku sepanjang tahun ini.

Saya tak kenal dan tidak pula mengenal sang tokoh dalam buku itu. Tokohnya, Hasnan Nafis, seorang doktor, pecinta pendidikan, rendah hati, senang bekerja, tak suka pamer apalagi publikasi.

Dia seorang Tuanku dan Labai Nagari di Tandikek. Duh, berpikir panjang saya untuk jadi panelis peluncuran bukunya.

Lalu, saya bacalah bukunya sedikit demi sedikit. Saya tulis mana yang menurut saya salah dan patut diperbaiki.

Lalu, saya bongkar rak buku saya. Saya cari buku biografi orang hebat yang saya punyai. Bersua buku sejumlah tokoh, seperti buku "Andy Noya, Kisah Hidupku", ketemu buku "80 Jagob Oetama, Syukur Tiada Henti", lalu saya lihat dan baca ulang sedikit.

Saya memang penggemar buku. Senang dan suka baca dan beli buku. Tak heran, banyak tumpukan buku di rak buku saya yang kecil.

Armaidi tahu itu, karena awal berkenalan dengan Armaidi, saya tersentuh oleh bukunya yang banyak. Sempat berkali-kali saya pinjam bukunya, tapi saya kembalikan.

Pun Armaidi Tanjung sering minta saya untuk meresensi buku yang dia tulis.

Mungkin dari ini kesan Armaidi terhadap saya, sehingga dua kali dia minta saya jadi panelis dalam bedah bukunya.

Saya membedah secara objektif saja. Yang rancaknya saya sebut, kalau bukunya bagus, dan amat sangat luar biasa.

Tapi saya selalu punya koreksi tersendiri. Terutama soal cover bukunya yang agak kurang menarik.

Lalu, kesendirian Armaidi Tanjung yang Caleg DPRD Sumbar dari PBB Dapil II, Padang Pariaman dan Kota Pariaman ini juga saya kritik.

Kritik untuk membangun. Sebab, tanpa editor dan editing, buku akan banyak memuat kesalahan. Baik penulisan huruf, penulisan nama kampung, yang mesti memakai tenaga orang lain untuk sebuah kesempurnaan.

Saya banyak membeli buku terbitan Buku Kompas dan Gramedia. Bukunya semua bagus, sulit mencari kesalahan isi bukunya.

Saya ingin, Armaidi dalam menerbitkan buku, pakai tenaga editor, sehingga bukunya bisa menarik.

Nah, dari kegiatan yang dua itu, saya sering kembali memegang buku. Memegang buku seperti dulu. Ada saja buku di tangan saya ketika di rumah.

Lebih lama saya baca buku, ketimbang melihat HP. Hobi lama saya kembali menyumbul, sepertinya.

Keasyikan membaca buku, semakin menarik saya di akhir tahun ini. Malah timbul semangat untuk mengumpulkan tulisan saya, dan berencana dijadikan buku.

Sepertinya, kehadiran buku di tengah hantaman digitalisasi amat sangat membantu kesehatan mata.

Membaca dan menulis buku sepertinya obat awet. Saya lihat Armaidi Tanjung yang sudah lebih 50 tahun, tapi mampu mengikuti tiga kegiatan dalam sehari, misalnya.

Contoh, Pagi dia jadi dosen di kampus, siang berkegiatan di SatuPena, sorenya memimpin rapat PWNU Sumbar, lalu malamnya menerima mahasiswa bimbingannya.

Saya lihat, rajinnya Armaidi membaca dan menulis buku, membuat dia awet dan punya daya tahan yang mantap. (ad/red)

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Hollywood Movies