Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Jelimet Mencatat Rapi Menyimpan, Armaidi Tanjung tak Bisa Dipisahkan dari Buku

Armaidi Tanjung sedang memberikan materi jurnalistik kepada perangkat nagari di Padang Pariaman. (ist)

Padang Pariaman, Sigi24.com--Jelimet mencatat, rapi menyimpan, inspirasi selalu jadi buku. Mungkin ini yang bisa kita gambarkan dari seorang Armaidi Tanjung.

Wartawan utama kelahiran Sungai Pasak Pariaman 1969 ini jelimet sekali dalam mencatat peristiwa yang dia alami dan lakukan.

Katakan dengan Buku, Putri yang baru saja diterbitkannya sebagai kado ulang tahun buat anaknya, membuat saya terkesima. Ada sejumlah tentang saya dan tulisan saya yang ikut di dalam buku setebal 320 halaman tersebut.

Biografi singkat saya yang pernah masuk dalam buku yang kami tulis bertiga, berjudul "Perjuangan Rakyat Padang Pariaman dalam Mempertahankan Kemerdekaan 1945-1950" tahun 2008 masih utuh disimpan dalam file Armaidi Tanjung.

Sulit memisahkan Armaidi dengan buku. Ketika orang menyebut namanya, akan teringat buku. Puluhan buku dari berbagai judul yang sudah ditulisnya sendiri.

Sama sulitnya memisahkan Gus Dur dari PKB. Saya sendiri yang menulis biodata singkat itu, tak punya lagi filenya. Armaidi telah menularkan intelektual dan ilmu yang bermanfaat.

Kata Nabi Muhammad Saw dalam sebuah hadist, ketika manusia meninggal terputus segala amalnya. Terkecuali tiga hal yang tidak putus, yakni sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang selalu mendoakan orangtuanya.

Armaidi telah membuat sesuatu yang tahan lama. Banyak sudah buku yang ditulisnya, menjadi referensi oleh banyak orang.

Kenapa? Armaidi jelimet menulis. Semua buku yang ditulisnya, tak pernah lupa ia memasukkan data diri sedetail mungkin, sampai ke nomor kontak, agar orang gampang mencarinya.

Dari buku, Armaidi tengah memberikan pelajaran penting bagi kita semua. Memberikan ilmu yang bermanfaat. Ya, penting mencatat ketika kita berbuat, melihat dan mengamati sesuatu.

Bayangkan, buku pertama kali dia tulis tahun 1990 an, masih tersimpan rapi dan utuh. Termasuk proses dan dinamika yang terjadi pada dirinya saat hadirnya buku itu, tercatat dengan sangat rapi sekali.

Dalam buku yang baru saja diterbitkannya itu, semuanya disajikan dengan sangat apik. Detail tentang sejarah dan perjalanan dia dalam menerbitkan buku.

Lengkap yang di punyai Armaidi. Ya sebagai pembaca, pencatat dan penulis buku. Wartawan memang pencatat, tapi tidak semua wartawan sebagai penulis dan pembaca.

Armaidi, sedikit dari wartawan yang suka mencatat, hobi menulis, gemar membaca. Dia resah dan gelisah, ketika tidak ada buku yang dibacanya.

Makanya, ketika momen keluar daerah atau ke Jakarta, mencari buku termasuk bagian terpenting dalam perjalanannya itu.

Sebagai wartawan yang penulis, jelas Armaidi kaya dengan ide dan gagasan. Dengan gampang dia dipakai oleh hampir seluruh kekuatan sosial kemasyarakatan.

Baginya, beraktivitas di banyak organisasi tak menghalangi semangat untuk menulis. Mungkin pagi sehabis mengajar di kampus, dia memberikan materi pelatihan jurnalistik, siangnya dia harus pula rapat di DPD SatuPena Sumbar, dan malamnya mengurus Nahdlatul Ulama.

Ayah dua putra dan putri ini terus mencatat dan terus mendapatkan peluang untuk menghadirkan sebuah buku.

Dengan menulis untuk dijadikan buku, sesuatu yang kecil bisa jadi besar dan sesuatu yang tak berguna, setelah jadi buku akan sangat bermanfaat.

Wartawan banyak. Sangat banyak. Tapi yang wartawan penulis, apalagi menulis buku seperti Armaidi masih sedikit.

Yang sedikit itu, tersebutlah Yurnaldi, Khairul Jasmi, Basril Basyar, Eko Yance Edrie, dan wartawan lainnya. (ad/red)

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Hollywood Movies