Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Tuanku dan Urang Siak Penjaga Tradisi Keulamaan

Para tuanku diskusi ringan di Balai Baru, sambil menikmati katupek tunjang dan teh talue. (ist)

Padang Pariaman, Sigi24.com--Temanya "Silaturrahmi Tuanku Nasional". Ya, para tuanku dan "Urang Siak" yang sudah tergabung dalam grup WA yang digagas Prof Duski Samad Tuanku Mudo.

Pertemuan di dunia maya sudah saling bersileweran. Maklum, para tuanku ini dari berbagai latar belakang profesi dan status sosial.

Tetapi yang jelas, meskipun banyak ragam, kami menyepakati pembicaraan di grup banyak membahas soal keilmuan, ke-tuanku-an, kajian fiqih dan tasawuf.

Rabu 18 Oktober 2023, panggilan tak terjawab menyumbul di HP saya. Tertulis Prof Duski Samad. Saya telpon balik. 

Alumni MTI Batang Kabung Padang yang sudah jadi Guru Besar UIN Imam Bonjol ini minta saya hadir di Balai Baru. Tepatnya di kedai "Katupek Tunjang Naimah". Dia ingin menikmati kuliner terkenal itu bersama Firdaus Djafri, Wakil Rektor UNU Sumbar yang digelarinya dengan Tuanku Majolelo.

"Jumat besok kita mulai ngaji online. Langsung bersama Prof Hasan Zaini, sebagai orang tua," ujar Duski Samad.

Kajinya urgensi tafsir menjawab Masail kontemporer. Dua profesor yang tuanku langsung mengetengahkan pengajian itu.

Peserta dalam grup sudah hampir 100 tuanku dan urang siak. Tentu jumlah yang masih sedikit dari ribuan tuanku di Minangkabau ini.

Tentu diharapkan, semakin banyak jumlah kita. Sebab, tujuan dari silaturrahmi ini ingin membangun sebuah perkumpulan secara formal.

Tapi nanti. Setelah helat Pemilu Februari tahun depan, gerakan Persahabatan Tuanku Nasional ini lebih dikencangkan.

Kini diharapkan para tuanku dan urang siak untuk saling merekomendasikan kawan-kawan yang belum tergabung, untuk bisa menjalin kebersamaan lewat perkumpulan ini.

Ketupat tunjang Balai Baru ini memang sudah lama terkenalnya. Tapi bagi Prof Duski Samad kesannya dikerjain Firdaus.

"Kok kecil tunjangnya. Yang Gus posting dulu nampak gadang, dan kesan lebih enak lagi," tanya Duski Samad ke Firdaus.

Di pertengahan waktu, datang Maswar Tuanku Sutan. Alumni Pesantren Darul Ulum Kampung Paneh Pakandangan, yang pensiunan Kemenag Sumbar ini tak sendirian.

Dia tiba berdua dengan Ketua MUI Kota Pariaman Buya Syofyan Jamal. Cerita semakin berisi dan jelas. Ya, seputar eksistensi tuanku yang dinilai sebagai penjaga tradisi ke-ulama-an.

Kehadiran tuanku dinilai juga mampu membendung arus radikalisme agama. Bahkan moderasi beragama di kalangan tuanku ini sudah ada, jauh sebelum NU, Ormas Islam terbesar itu hadir ke dunia.

Soal politik praktis, itu diserahkan pada masing-masing. Yang jelas, secara kebersamaan kita mendukung peserta atau anggota yang ikut mencaleg.

Namun, kajian dan bahasan diskusi dalam grup WA, harus menitikberatkan pada hal-hal ke-tuanku-an dan keilmuan. 

Contoh, sekarang momen "Hari Santri Nasional". Nah, bagaimana para tuanku dan urang siak yang ada dalam grup WA ini menyikapinya.

Sebab, tuanku, urang siak adalah bagian bahkan bahasa sekarangnya masuk ke dalam santri.

Banyak kajian dan tafsiran sebenarnya yang patut kita tulis, dan kembangkan terkait momen hari santri ini.

Urang siak, sebutan lain untuk seseorang yang berkecimpung di sosial keagamaan. Apa hubungannya dengan Siak, sebuah daerah di Provinsi Riau? 

Penting untuk dikaji. Diharapkan ada kajian ini. Begitu juga eksistensi Syekh Burhanuddin sebagai ulama yang pertama membuat dan membentuk tuanku atau urang siak ini. (ad/red)

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Hollywood Movies