Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Nilai Moral Pemimpin Politik Lokal Oleh: Prof Duski Samad Tuanku Mudo

Prof Duski Samad Tuanku Mudo 

Nilai moral adalah standar perilaku dan sikap tentang apa yang benar atau salah, baik atau buruk, yang diterima dan dianut oleh sekelompok orang dalam suatu masyarakat. Nilai-nilai ini seringkali tercermin dalam hukum, norma, aturan, dan peraturan di masyarakat tersebut.

Nilai moral memberi kita pedoman tentang cara berperilaku dan berinteraksi dengan orang lain. Mereka membantu kita memahami apa yang penting dalam hidup dan bagaimana kita seharusnya memperlakukan orang lain. Misalnya, nilai moral seperti kejujuran, kasih sayang, toleransi, dan penghargaan terhadap hak-hak orang lain merupakan sebagian dari nilai yang dianut oleh banyak masyarakat.

Judul nilai moral seperti di atas bersesuaian dengan komentar terhadap tulisan penulis Ali Mukhni Bupati, Guru Berlegacy yang dimuat hari ini, Senen, 30 Oktober 2023 hal. 1 harian Singgalang. 

Saya juga sangat terkesan Ali Mukhni, kegigihan dalam berusaha keramahan dalam berkomunikasi dan menjaga silaturahmi, menjadikan beliau banyak dikenang orang. (Guru Besar Unand). 

Makasih pak prof, izin share pak prof semoga guru bupati berlegacy ini bisa pula dibaca group sebelah. Makasih. (Guru MAN, Anak Nagari Padang Pariaman).

Prof luar biasa tulisannya, Ali Mukhni ya sepertinya Anas Malik jilid dua yang mesti menjadi inspirasi bagi masyarakat Kabupaten Padang Pariaman, khususnya bagi mereka yang menyiapkan maju menjadi pemimpin (Bupati), (Tokoh Padang Pariaman).

Mantap Prof. Pengabdian beliau sepertinya Anas Malik muda (birokrat senior). 

Empat komentar tokoh membaca tulisan In momerium Ali Mukhni, Guru, Bupati Berlegacy yang dishare di group Whaatshap kemaren, 29 Oktober 2023 adalah fakta sosial yang merasakan wafatnya Ali Mukhni bukan saja musibah keluarga, tetapi juga masyarakat Padang Pariaman dan Sumatera Barat. 

Berapa tokoh Padang Pariaman meminta penulis untuk menjadikan tulisan di atas buku dan mengembangkan lebih luas kepiawaian 2 (dua) tokoh pemimpin lokal, Bupati Padang Pariaman yang nama dan karyanya melekat kuat dan dapat disebutkan sudah melegenda dalam jiwa, pikiran dan memory kolektif masyarakat, Anas Malik dan Ali Mukhni. 

Niat menautkan dan mengungkap lebih luas nilai moral yang ditorehkan dua tokoh ini tidak berarti mengurangi rasa hormat pada pemimpin, Bupati, yang sudah menjadi pemimpin di daerah Padang Pariaman, tetapi ingin menggugah generasi yang sudah punya niat, rancangan dan kegiatan memberikan pengabdian terbaik, ikut kontestasi politik pada Pilkada akhir tahun 2024 mendatang. 

PEMIMPIN ADA ZAMANNYA 

Setiap pemimpin ada zamannya, saatnya ia berbuat, begitu juga setiap zaman ada pemimpinnya, artinya kesuksesan pemimpin tentu pada zamannya, ini cara berfikir adil dan obyektif menempatkan pemimpin secara mulia dan terhormat. 

Era orde baru yang dikenal dengan masa serba diatur, sentralistik dan cendrung pemimpin daerah, Bupati tidak selincah dan kuat pengaruhnya di era reformasi ini. Apapun keadaannya ternyata masa orde baru Kabupaten Padang Pariaman telah menghadirkan pemimpin kuat, (the strong leader) menjadi panutan dan tetap ada di hati masyarakat, Anas Malik.    

Kisah sukses kepemimpinan Anas Malik dimuat dalam banyak artikel, satu di antaranya skripsi mahasiswa fakultas Ilmu Budaya Unand, Ali Bizar, 2014 berjudul “ Kepemimpinan Bupati Anas Malik Di Kabupaten Padang Pariaman 1980-1990”. 

Studi biografi sejarah politik yang memusatkan perhatian kepada kepemimpinan politik seorang individu dalam menjalankan pemerintahan lokal pada masa era Orde Bar. Penelitian ini lebih menekankan pada aspek historis dari figur kepemimpinan seseorang serta hubungannya dengan perubahan-perubahan sistem dan nilai dalam masyarakat pada zaman tertentu. Kepemimpinan politik lokal era Orde Baru sangat identik dengan pembangunan yang digerakkan oleh militer. 

Anas Malik yang memiliki latar belakang militer dinilai berhasil meraih prestasi dalam menjalankan roda pemerintahan dan pembangunan di Kabupaten Padang Pariaman selama dua periode (1980-1985 dan 1985-1990), yang dibuktikan dengan diperolehnya penghargaan tertinggi dalam pembangunan dengan tanda anugrah Parasamya Purnakarya Nugraha pada Pelita III. 

Ketegasan Anas Malik dalam menegakkan K3, pantai Pariaman berubah menjadi bersih dan mendorong tumbuhnya usaha rakyat. Selanjutnya kegiatan ABRI Masuk Desa (AMD) yang dijalankannya secara efektif dan efisien, telah menciptakan banyak jaringan jalan di Kabupaten Padang Pariaman sehingga mendorong tumbuh dan meningkatnya sektor-sektor lain seperti: pendidikan, kesehatan, pertanian, perikanan, industri dan pariwisata. 

Selama Anas Malik menjadi bupati, banyak kemajuan yang telah dicapai Kabupaten Padang Pariaman terutama dalam aspek sosial dan ekonomi yang paling pokok dalam kehidupan masyarakat. Prestasi dan kemajuan pembangunan yang diraih tersebut mampu melampaui keberhasilan-keberhasilan yang telah diraih oleh Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Padang Pariaman sebelum kepemimpinannya. 

Niat dan bercita-cita pulang kampung untuk membangun kampung halaman ternyata berhasil diwujudkan Anas Malik bersama ABRI, aparat dan masyarakat. Setelah tugasnya selesai menjadi bupati, ia kembali ke rumah dinasnya di asrama TNI di Jatiwaringin Jakarta.

NILAI MORAL DUO BUPATI

Membaca komentar, testimoni dan perasaan penulis berinteraksi dengan almarhum Ali Mukhni, terasa dan tak mudah melupakannya, satu di antara kekuatan pengungkit kepemimpinan beliau berdua (allahuma yarham Anas Malik dan Ali Mukhni) adalah nilai moral yang mewarnai sisi hidup personal dan kepemimpinan dalam rentang waktu satu dasawarsa. 

Masyarakat Kabupaten Padang Pariaman, Kota Pariaman yang dikenal dengan Piaman Laweh, adalah entitas masyarakat pesisir, dan perantau yang terbuka, mudah menerima pembaharuan, dalam batas tertentu dikenal kritis, cimeeh Piaman. 

Tidak mudah memimpin komunitas dengan karakteristik egaliter, bersuara keras, budaya lapau yang kritis dialogis, ditambah lagi tradisi badoncek yang kompetitif, semua itu dapat di maksimalkan dua Bupati yang berbeda zaman. 

Kekuatan pengaruh alim ulama, ninik mamak, cadiak pandai dan tokoh masyarakat baik di ranah maupun rantau, adalah asset dan modal sosial yang dengan apik dikelola dengan nilai moral (moral value) oleh dua pemimpin lokal legendaris yang sedang kita tulis ini. 

Contoh nyata yang patut ditiru dari beliau berdua yang tak kalah hebatnya adalah komunikasi interaktif dan memobilisasi potensi tokoh lokal untuk percepatan kemajuan daerah. 

Nagari Sikabu dan daerah Lubuk Alung Timur di seberang Sungai Batang Anai "wajib" bagi mereka mendoakan kedua Bupati ini, dan menyampaikan terima kasih kepada keluarga besar beliau, karena di era kepemimpinan beliau berdua, Nagari terisolir ini terbuka, kini mudah ditemukan dalam map google. 

Almarhum Anas Malik Bupati yang membawa Gubernur Sumatera Barat, almarhum Azwar Anas dengan menyeberangkan bendi ke Korong Sikabu, hasilnya jembatan Pasar Usang dipindah ke Sikabu atas permintaan masyarakat pada Gubernur. 

Bupati Anas Malik menempatkan ABRI masuk Desa di Sikabu, buahnya jalan, air bersih dan fasilitas umum dibangun di Sikabu. Dalam pendidikan kelak juga dibuka SMP di Sikabu. 

Almarhum Bupati Ali Mukhni bagi masyarakat Lubuk Alung Timur adalah pemimpin yang luar biasa melanjutkan (saat itu ia wakil Bupati) kerja besar membuka jalan Duku - Sicincin (kini masih badan jalan), meyakinkan Pemerintah Provinsi berdiri Main Stadion Sumatera Barat, lebih luas lagi kerja kerasnya mendesak Gubernur agar Pembukaan MTQ Nasional 2019 di Stadion Utama Sumatera Barat.

Buahnya yang luar biasa adalah semua ruas jalan di Lubuk Alung Timur ini beraspal hotmix, sulit membayangkan bagi perantau.

Tulisan ini tidak berpretensi memuji berlebihan, tetapi lebih mengingat bahwa siapapun dapat sukses memimpin di tengah karakter masyarakat yang "pancimeeh" ketika nilai moral memandu sikap, prilaku dan gaya kepemimpinannya. 

"Ambiak tuah ka nan manang, ambiak contoh ka nan sudah" 

Ungkapan adat pemimpin itu "di dahulu an salangkah, di tinggi an saranting" bila di praktik dalam masyarakat egaliter diyakini membawa sukses luar biasa.

Tidak sibuk dengan soal remeh temeh, tak mengulang-ulang ke salah an anak buah dan masyarakat adalah dua karakter yang kuat pada dua pemimpin di atas. 

BAIYO DAN MAU MENDENGAR

Otoritas Bupati yang sepertinya tak berbatas, dapat dikelola oleh dua pemimpin Piaman laweh ini. Dalam usia relatif muda, tahun 1980 an penulis pernah ikut menemui almarhum Anas Malik di kediamannya bersama tokoh Sikabu, masih segar wajah, mimik, dan seriusnya beliau mendengar paparan tokoh masyarakat, dan begitu jelas dan tegasnya beliau merespon langsung. 

Dalam sambutan dihadapan Gubernur Anas Malik to the point dengan bahasa Minang,.. Angku ninik mamak dan semua masyarakat, apo nan paralu dek masyarakat, mintak lah ka Gubernur!, serentak masyarakat menjawab kami minta jembatan Pak. Gubernur langsung memanggil Kadis PU dan perintahkan jembatan Pasar Usang di pindahkan ke Sikabu. 

Gaya kepemimpinan yang kurang lebih sama dipraktekkan Bupati Ali Mukhni. Tradisi memimpin badoncek, melanjutkan gaya Bupati Muslim Kasim, adalah cara baik yang membawa simpati masyarakat. 

Karakter pribadi mau minta pendapat (ba iyo) pada ulama dan cendikiawan Bupati Ali Mukhni, bukan saja penulis rasakan, juga dirasakan oleh cendikiawan, Professor, asal Padang Pariaman dalam berbagai bidang ilmu. 

Mau mendengar itu tidak mudah bagi orang yang level kuasanya menentukan (full power) seperti Kepala Daerah, namun bagi almarhum yang berdua ini beda sekali, beliau selalu mau sabar mendengar dengan serius lawan bicaranya. 

WARIH BA JAWEK

Helat pemilihan umum legislatif, Presiden dan akhir tahun 2024 ada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) adalah mesin produksi pemimpin formal, tentu diharapkan masyarakat dapat mewarisi kepribadian, karakter dan gaya kepemimpin yang telah melalui uji sejarah. 

"warih ba jawek, pusako ba tolong" ungkapan adat ini dapat menjadi inspirasi bagi putra terbaik daerah yang menyiapkan diri menjadi pemimpin masyarakat yang rata-rata kecerdasannya setara Sarjana.

Cadiak kami indak ka batanyo, bagak kami indak ka malawan, Kayo urang indak ka ma mintak" adalah lecutan bagi pemimpin untuk selalu siap membaca tanda-tanda zaman, dan pandai ba tenggang di nan rumik. 

Akhirnya ingin dinyatakan bahwa nilai moral adalah kunci sukses pemimpin, tidaklah benar uang dan popularitas penentu keberhasilan. Ayo, calon pemimpin mari mengedepankan nilai moral, adat Istiadat luhur, dan Islam rahmatan lil alamin. 

*Ketua Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin 

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Hollywood Movies