Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Merawat Marwah Tuanku Oleh : Prof Duski Samad Tuanku Mudo

Prof Duski Samad Tuanku Mudo 

Merawat marwah artinya memelihara dan menjaga dengan telaten martabat, nilai dan kebanggaan yang sudah melekat dalam memory kolektif komunitas.

Tuanku adalah gelar kehormatan yang disandang oleh pribadi dalam kapasitas sebagai ulama penggerak umat, ulama pejuang, tokoh adat yang kuat irisannya dengan kharismatik ulama dan juga dipakai untuk sebutan bagi Raja atau sultan yang berkuasa, Daulat Tuanku.

Marwah Tuanku yang dituju dalam tulisan ini adalah menyatakan bahwa akhir-akhir ini marwah tuanku tengah mengalami degradasi, penurun kualitas dan nilainya, setidaknya bagi generasi Z dan milenial yang terbatas pemahamannya tentang esensi, urgensi dan eksistensi Tuanku.

PRAGMATIS

Masalah yang tak tampak kasat mata, namun nyata dalam realita adalah tarik menarik yang begitu kuat antara kepentingan mendahulukan dan menunjukan diri sebagai penyiar agama, pembela paham keagamaan (teologi) dengan tuntutan kehidupan riil, kebutuhan material, gaya hidup moderen, keinginan pada penampilan diri. 

Tidak berlebihan bila dikatakan ada pribadi Tuanku yang sosoknya dipersepsikan selama ini hidup sederhana, zuhud, dan peduli dengan masyarakat ada yang sudah beralih pada pandangannya menjadi pribadi yang hidupnya terseret pada cara hidup pragmatis, asal dapat untung atau dapat dihargai dengan uang. Bahkan ada personal Tuanku yang sudah terjangkiti virus merusak nilai dasar ketuankuan itu sendiri. 

Jebakan hidup materilistrik, dalam batas tertentu ada yang sudah terjebak bergaya hedonistik, adalah tantangan yang mesti disadari mereka yang diamanahi menyandang gelar Tuanku. 

DEVIASI KULTUR

Penyimpangan budaya, khususnya budaya Tuanku di era digital ini sulit menyebutnya tidak ada. Tuanku yang budaya aslinya memiliki kedudukan istimewa dalam masyarakat, tengah bergeser, kalau tidak mau dikatakan menyimpang dari yang semestinya. 

Pergeseran penghargaan dan pandangan masyarakat terhadap Tuanku ada yang bermula dari prilaku in konsistensi, tidak istiqamah dan mudahnya Tuanku dihargai, khususnya di masa pemilihan, lamak dek santan, kuning dek kunik. 

Perubahan penilaian terhadap Tuanku juga dirasakan ketika menepisnya kepatuhan, loyalitas dan diikutinya perintah Tuanku oleh masyarakat. Contoh kasat mata lihat saja berapa jumlah suara yang didapatkan calon yang didukung Tuanku, bahkan kasus tidak terpilihnya Tuanku dalam kontestasi politik ada hubungkaitnya dengan deviasi kultural terhadap Tuanku. 

TAFAQUHFIDDIN

Melemahnya kualitas keilmuan, wibawa, kharisma dan kemampuan tabligh Tuanku tidak sulit menunjukkannya. Masjid, surau dan halaqah pengajian yang menjadi pusat kekuatan (centre of exxelent) Tuanku pasca reformasi ini adalah fakta sosial adanya krisis keulamaan Tuanku. Fakta lainnya adalah daya tahan populeritas Tuanku yang sempat viral melalui medsos begitu cepat berlalu, di antara akar masalahnya lemahnya kualitas conten atau materi pengajian. 

Ceramah di ruang publik digitalisasi tidak saja mengandalkan metode, bahasa, dan joke, kualitas isi pengajian menjadi penting. Integrasi ilmu yang miskin, wawasan yang dangkal dan pola pikir sempit, materi instan, lemah dalil nash dan ilmiah menjadikan ceramah cepat usang dan tak menarik segmen pasar yang semangkin cerdas dan beragam. 

PERSAHABATAN

Realitas Tuanku dalam pusaran perubahan dan kemajuan digital mengharuskan Tuanku mengupdate diri, menata ulang konsep dakwah dan menyiapkan piranti pendukung bagi keberlangsungan Tuanku.

Peningkatan kualitas diri menghadapi tantangan sulit diperoleh sendiri- sendiri, maka diperlukan adanya wadah persahabatan Tuanku.

Persahabatan Tuanku bermakna meneguhkan jejaring Tuanku, qadhi, imam, khatib, bilal, labai, pegawai, dan urang siak di nagari sebagai pelaksana langsung kegiatan keagamaan di lini lapangan.

Persahabatan Tuanku dapat menjadi pusat silaturahim Tuanku berikut perangkat ulama nagari yang rumpun (silsilah) keguruan berbeda. Menyamakan paham, gerakan dan konsolidasi lahir batin sesama Tuanku adalah modal sosial bagi kekuatan umat dan bangsa.

Persahabatan Tuanku diharapkan untuk berbagi pengalaman, belajar bersama dan membagi ruang kehidupan yang lebih luas. 

Akhirnya ingin ditegaskan marwah Tuanku adalah keharusan sejarah yang wajib dirawat. Menyusun diri dalam ikatan persahabatan Tuanku adalah ikhtiar kolektif untuk maju bersama dan tetap kuat dalam misi Islam rahmatan lil alamin. 

PERSAHABATAN TUANKU NASIONAL

A. DASAR

di atas.

B. TUJUAN

Menjaga nilai, tradisi dan marwah Tuanku sebagai ulama, tokoh dan pengerak masyarakat.

C. VISI

Menguatkan peran Tuanku dalam memajukan kehidupan bangsa, dan umat Islam yang rahmatan lil alamin dalam bingkai NKRI.

D. MISI

1. Pusat penguatan kualitas dan kompetensi Tuanku dalam menghadapi perubahan global.

2. Wadah silaturahim dan jejaring Tuanku Nasional untuk kebaikan kolektif, agama, negara dan bangsa.

3. Organ pemersatu, kesejahteraan dan perlindungan terhadap Tuanku dalam menunaikan tugas suci dakwah dan pengembangan umat.

E. STRUKTUR

DEWAN PEMBINA

DEWAN PERTIMBANGAN

PENGURUS HARIAN

KOMISI-KOMISI

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Hollywood Movies