Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Syauqi dan Jalan Terjal Menuju Sumatera Barat

Syauqi.

Padang Pariaman, Sigi24.com--Membaca peluang Syauqi untuk jadi anggota dewan Provinsi Sumatera Barat, dari Dapil II, Padang Pariaman dan Kota Pariaman sangat menarik.

Kenapa menarik? Padahal pemilik Kampoeng Roti Bandung ini baru memasuki dunia politik pencalegan. Namun, kiprah dan eksistensinya di tengah masyarakat dinilai banyak orang bagaikan gerakan incumbent. Malah lebih dari itu.

Tentu dia sudah mengkaji dan menghitung semua peluang dan tantangan, terutama pada basis terdekat.

Syauqi, pria kelahiran Pakandangan 1969 ini berbasis di Dapil I Padang Pariaman. Lima kecamatan di situ; Kecamatan Enam Lingkung, Nan Sabaris, 2X11 Kayu Tanam, Ulakan Tapakis, dan 2X11 Enam Lingkung.

Dapil ini mengantarkan 11 orang anggota DPRD Padang Pariaman. Artinya, jumlah pemilih hampir sama banyak dengan Dapil II, 70 ribuan pemilih di ratusan TPS.

Dan di Dapil ini punya tiga orang anggota DPRD Sumbar, yakni JJ Datuak Gadang dan Jempol dari Gerindra, dan Sitti Izzati Aziz dari Golkar yang kini sedang berusaha pula untuk bisa duduk kembali pada pemilu tahun depan.

Bagi Syauqi sendiri, perjuangan memang harus ada tantangan. "Semakin buruk jalan, akan terasa goyangan motor lama ini dikendarai". Artinya, pendakian yang tinggi, perjuangan yang berat, itulah proses dan dinamika untuk meraih kesuksesan.

Dari ikue darek kapalo rantau di ujung Kayu Tanam, sampai ke ombak nan badabue di Ulakan, Syauqi sudah lama menyentuh kampung dan nagarinya.

Sebaran 10.000 bibit durian musangking, yang dibuat Syauqi sudah mulai tumbuh subur di sudut-sudut halaman rumah masyarakat.

Keras terasa, ya itulah politik caleg. Khusus untuk Kecamatan Enam Lingkung saja bejibun caleg provinsi yang telah dan akan terus berdinamika di situ.

Di samping Syauqi dari NasDem, ada nama Yohanes Wempi dari PKS, Dedi Edwar dari PAN, Usman Labai dari Demokrat, Idarussalam dari PKB. Kelima tokoh ini berbasis secara kecamatan di Enam Lingkung.

Menariknya, Syauqi siap dengan segala kensekwensi, bersaing secara sehat, seperti yang sudah lama menjadi kultur dinamis itu melekat di kalangan masyarakat Enam Lingkung.

Di Enam Lingkung, berbagai paham keagamaan masyarakatnya bisa berdampingan, dan saling mengisi. Enam Lingkung terkenal dengan "Serambi Mekkah-nya Padang Pariaman".

Di sini terkenal juga sebagai pusat Tarbiyah yang pernah lama eksisnya. Muhammadiyah juga kuat di situ, dan pondok pesantren banyak ditemukan di kecamatan ini.

Hebatnya, tak ada perdebatan yang meruncing. Tokohnya saling mengisi. Pimpinan pesantren bisa saja berceramah di Masjid Taqwa Muhammadiyah Pakandangan, dan warga Muhammadiyah bisa pula jadi Labai di tengah kaumnya.

Syauqi dinilai tokoh yang mampu membaca ini dengan baik. Baginya, yang perlu dibenahi adalah sektor perekonomian masyarakat, lewat potensi yang ada di lingkungannya.

Nah, potensi lahan cukup besar di Padang Pariaman dan Kota Pariaman ini. Lahan itu harus terisi dengan baik, sesuai peruntukannya.

Sebagai orang yang pernah lama di kampung, Syauqi menangkap pangsa pasar perekonomian masyarakat itu lewat durian. 

"Di Padang Pariaman itu hampir semua kampung dan nagari punya durian. Bermacam-macam nama duriannya. Hanya saja, durian kita ini belum mampu masuk pasar modern, sehingga tak ditemukan durian yang diunggulkan".

Lewat 10.000 bibit durian musangking yang sudah menyebar ke seantero Padang Pariaman dan Kota Pariaman, Syauqi ingin kampung ini jadi sentra durian itu, sekian tahun mendatang.

Efeknya, orang luar akan berduyun-duyun datang mencari durian terkenal ini ke Piaman. Ini adalah program masa depan yang panjang untuk kebangkitan perekonomian masyarakat. (ad/red)

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Hollywood Movies