Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Kisah Dalimi Abdullah 4

 

Dalimi Abdullah.

Sigi24.com---Menjadi ulama yang disegani di tengah masyarakat, adalah cita-cita dan keinginan sang ayah kepada anaknya, kelak sudah dewasa. Makanya, setelah tamat Sekolah Rakyat (SR), Dalimi Abdullah harus melanjutkan ke sekolah agama. 

"Kamu harus menjadi ulama yang disegani. Dari sekarang kamu harus rajin belajar agama, rajin dan serius mengaji," kata ayah Dalimi Abdullah, saat dia masih kecil dan tak pernah lupa sampai sekarang. 

Keinginan ayah Dalimi Abdullah terhadap anaknya agar menjadi ulama, amatlah tinggi. 

Ayahnya, Abdullah, seorang pangulu pucuak dan ulama di tengah masyarakat merasa kecewa manakala anak bujangnya tak pandai mengaji, tidak pula jadi ulama. Begitu tinggi semangat dan keinginannya, menjadikan Dalimi Abdullah seorang yang bermanfaat untuk banyak orang, kelak di kemudian hari. 

Tentu, cita-cita dan keinginan ayah dan uwainya Dalimi Abdullah itu tidak datang begitu saja. Ada banyak faktor yang mendorong ayahnya itu, agar Dalimi Abdullah kelak betul-betul jadi ulama. 

Kultur, jelas. Abdullah disampung seorang pangulu pucuak dalam kaumnya, dia juga seorang ulama yang pandai mengaji. Suara rancak, pintar mengaji irama. 

Berpidato adat jangan disebut. Mahir dan amat pintar dia. Acap dan sering lawan bicaranya kewalahan ketika dalam helat perundingan. Pokoknya, soal adat dan syarak atau agama, Abdullah orang yang sangat tersebut dalam kampung, bahkan dalam Tanjung Raya Maninjau, sudah tersohor ayah Dalimi Abdullah ini. 

Abdullah ini sering berhabis waktu di surau. Sehabis shalat Isya itu kadang bisa sampai Subuh berdiskusi soal agama. Dalimi sering ikut itu. 

Sa'a, salah seorang teman Abdullah ini yang sering berhabis malam di surau. Bicara dan berjawab kata tentang banyak hal soal agama. Sa'a orang Pasaman. Suatu ketika, Sa'a ini menyebut ke Abdullah, kalau Dalimi Abdullah ini kelak menjadi ulama. 

Dalimi Abdullah yang masih kecil dan usia sekolah tak sepenuhnya paham akan makna perkataan teman ayahnya itu. Tapi, dia mengangguk saja, ketika dua pandangan mata, ayah dan teman ayahnya, Sa'a tertuju ke dia usai bicara itu. 

Tentu bicara Sa'a ke Abdullah tak sembarangan. Ada pandangan bathin, di luar nalar manusia yang bisa menebak itu. Sepertinya, Sa'a dan Abdullah, ayahnya Dalimi Abdullah tokoh hebat, punya pandangan luar dalam, Zahir dan bathin tentunya. 

Kultur nagari yang kental dan kuat agama, menjadikan pribadi Dalimi Abdullah terbentuk sejak masih kecil. Terpaan sang ayah dan uwai, membuat agamanya kuat di kemudian hari. 

Orang yang pulang dari sekolah dan mengaji di Padang Panjang dan Canduang, selalu jadi panutan di tengah masyarakat seantero Maninjau. 

Contoh, bulan puasa surau dan masjid akan ramai oleh jemaah, laki-laki dan perempuan, mendengarkan ceramah dan pengajian dari anak kampung yang pulang dari Canduang dan Padang Panjang.

Bahkan, masyarakat yang punya anak perempuan di tengah kampung, para lulusan Padang Panjang dan Canduang ini selalu prioritas nomor satu untuk dijadikan menantu.

Jadi ulama, tentu mutlak jadi pemimpin masyarakat. Panutan di tengah umat. Dari ulama keluar fatwa dan pengajian, anjuran untuk berbuat baik, dan larangan untuk berbuat jahat. 

Ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh sebuah cita-cita dan keinginan yang sangat mulia dari ayahnya Dalimi Abdullah terhadap masa depannya. Masa depan yang baik, di tengah satu-satunya anak laki-laki di tengah keluarga. 

Lewat cita-cita orangtua itu pula Dalimi Abdullah kian terbuka hati dan pikirannya. Sungguh ayahnya orang yang amat luar biasa sekali. 

Luar biasa, karena ayah tidak seorang sarjana, tapi punya pandangan dan pikiran luas untuk masa depan anak dan keluarga sendiri. Punya tanggungjawab moral terhadap kemaslahatan kampung, sanak saudara, sesuai kedudukannya sebagai seorang pangulu pucuak dan ulama di tengah masyarakat. 

Ayah Dalimi Abdullah yang dilihatnya sibuk di kampung kecil, Balai Belo, mengayunkan cangkul di sawah saban waktu, tetapi nilai-nilai yang luhur terjabarkan dengan baik. 

Dan cita-cita ayah di zaman itu, terasa sekali sangat luar biasa, dan bertolak belakang dengan lingkungan umum di nagari itu. 

Di nagari itu, paling setelah anak tamat SR, lalu mengaji di surau. Habis. Anak disuruh ke sawah dan ke ladang, bergelud dengan lumpur sawah. Habis itu, kawin dan beranak. Nyaris tak lebih dari itu keinginan orang kampung terhadap anaknya.







Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Hollywood Movies