![]() |
Oleh: Duski Samad
Kunjungan bersama anak dan cucu ke Sirukam Dairy Farm pada 5 Juli 2026 memberikan pelajaran yang sangat berharga bahwa masa depan ekonomi daerah tidak selalu bertumpu pada industri besar ataupun eksploitasi sumber daya alam. Justru, kekuatan terbesar sering lahir dari kemampuan membaca potensi lokal, menata alam secara bijaksana, kemudian mengelolanya menjadi sumber kesejahteraan masyarakat.
Di Sirukam Dairy Farm, yang "dijual" bukan sekadar susu sapi. Yang sesungguhnya dipasarkan adalah kesejukan udara pegunungan, panorama alam yang indah, pengalaman belajar, suasana keluarga yang nyaman, serta kebahagiaan yang dirasakan pengunjung ketika berinteraksi dengan alam. Produk utamanya bukan hanya susu, melainkan pengalaman.
Melalui peta kawasan (Visitor Map), tampak jelas bahwa Sirukam Dairy Farm tidak dibangun semata-mata sebagai peternakan sapi perah, melainkan dirancang sebagai kawasan agrowisata terpadu yang mengintegrasikan peternakan, pertanian, edukasi, rekreasi, konservasi, dan pelayanan wisata keluarga.
Perjalanan pengunjung dimulai dari gerbang utama menuju berbagai zona yang saling terhubung melalui jalur pejalan kaki yang tertata rapi. Konsep ini membuat setiap orang tidak hanya datang melihat peternakan, tetapi menikmati perjalanan edukatif sejak memasuki kawasan.
Di bagian awal terdapat kebun buah, taman bunga, taman rosemary, kebun stroberi, area hortikultura, serta lokasi berkemah. Alam dijadikan ruang belajar terbuka yang menyenangkan bagi anak-anak maupun orang dewasa.
Memasuki kawasan tengah, pengunjung menemukan taman pinus, ruang pertunjukan, area edukasi, dan berbagai wahana interaktif yang mempertemukan rekreasi dengan pembelajaran tentang kehidupan pedesaan dan pertanian.
Jantung kawasan adalah kandang sapi perah dan pabrik pengolahan susu. Di sinilah identitas utama Sirukam Dairy Farm dibangun. Pengunjung dapat menyaksikan secara langsung proses pemeliharaan sapi, pemerahan susu, hingga pengolahan menjadi berbagai produk siap konsumsi. Nilai edukatif inilah yang membedakan Sirukam Dairy Farm dari objek wisata biasa.
Kawasan ini juga dilengkapi dengan ladang pertanian, rumah bibit, area kambing dan domba, arena berkuda, kolam penampungan air, rumah penyulingan minyak atsiri, restoran, masjid, pusat oleh-oleh, hingga ruang terbuka yang nyaman. Seluruh fasilitas tersebut membentuk pengalaman wisata yang utuh bagi seluruh anggota keluarga.
Dari tata ruang tersebut terlihat bahwa Sirukam Dairy Farm berhasil memadukan lima unsur utama pembangunan wisata, yaitu:
- Peternakan sebagai pusat produksi.
- Pertanian sebagai pendukung ketahanan pangan.
- Edukasi sebagai media pembelajaran.
- Rekreasi sebagai pengalaman keluarga.
- Konservasi alam sebagai komitmen menjaga lingkungan.
Model pembangunan seperti inilah yang menjadi inspirasi bagi pengembangan Wisata Hutan OBES di Nagari Sikabu, Kecamatan Lubuk Alung.
Nagari Sikabu sesungguhnya memiliki modal yang tidak kalah besar. OBES merupakan sebuah bukit kecil di sebelah timur Lubuk Alung yang sejak masa pra-kemerdekaan dikenal sebagai salah satu basis perjuangan masyarakat. Kawasan ini menyimpan dua kekayaan sekaligus, yaitu kekayaan alam dan kekayaan sejarah.
Apabila ditata secara profesional, Hutan OBES dapat berkembang menjadi kawasan ekowisata, wisata sejarah, wisata edukasi, dan wisata spiritual. Jalur trekking yang teduh, gardu pandang, taman hutan, camping ground, pusat informasi sejarah perjuangan, ruang refleksi, kebun tanaman produktif, hingga sentra UMKM dapat disusun menjadi satu pengalaman wisata yang utuh.
Pengunjung bukan hanya menikmati panorama alam, tetapi juga mempelajari sejarah perjuangan masyarakat, memahami pentingnya menjaga lingkungan, serta merasakan ketenangan jiwa melalui interaksi dengan alam.
Lebih menarik lagi, Hutan OBES tidak berdiri sendiri. Nagari Sikabu memiliki dua potensi lain yang sangat strategis, yaitu Tapian Puti sebagai wisata alam dan budaya serta Main Stadion Sikabu sebagai pusat olahraga, seni, dan kegiatan masyarakat.
Ketiga kawasan tersebut dapat dirancang menjadi satu koridor wisata terpadu. Wisatawan dapat menikmati keindahan hutan, menyusuri jejak sejarah perjuangan, berwisata ke Tapian Puti, berolahraga di stadion, menikmati kuliner khas nagari, membeli produk UMKM, sekaligus mengenal budaya Minangkabau dalam satu perjalanan.
Konsep inilah yang kini berkembang di berbagai daerah maju, yaitu mengintegrasikan ekowisata, eduwisata, wisata sejarah, wisata budaya, dan sport tourism dalam satu kawasan. Dampaknya bukan hanya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga membuka lapangan kerja, menghidupkan UMKM, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memperkuat identitas daerah.
Bagi Sumatera Barat, pendekatan seperti ini sangat relevan. Provinsi ini dianugerahi gunung, danau, lembah, sawah, hutan, pantai, serta budaya Minangkabau yang telah dikenal dunia. Yang perlu diperkuat adalah promosi yang lebih masif, akses transportasi yang lebih baik, infrastruktur pendukung yang memadai, serta pengembangan wisata berbasis edukasi sehingga setiap destinasi menjadi tempat belajar, bukan sekadar tempat berfoto.
Dalam perspektif Islam, mengelola alam merupakan amanah Allah SWT. Allah berfirman:
"Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya." (QS. Hūd: 61).
Ayat ini menegaskan bahwa manusia bukan pemilik mutlak bumi, melainkan khalifah yang diberi amanah untuk memakmurkan, menjaga, dan melestarikannya. Karena itu, pembangunan wisata tidak boleh mengorbankan hutan, tetapi justru menjadikan hutan semakin lestari, produktif, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Sesungguhnya menjual alam bukan berarti menjual hutannya. Yang dijual adalah kesejukan udaranya, keindahan panoramanya, sejarahnya, pengetahuannya, budaya masyarakatnya, serta pengalaman yang dibawa pulang oleh setiap pengunjung. Alam tetap terjaga, masyarakat memperoleh manfaat ekonomi, dan generasi muda belajar mencintai lingkungan sekaligus menghargai sejarah bangsanya.
Hutan yang terawat akan menghidupkan ekonomi. Alam yang lestari akan melahirkan masyarakat yang sejahtera. Sejarah yang dijaga akan menumbuhkan kebanggaan generasi. Itulah sebabnya merawat bumi sesungguhnya adalah mengasah jiwa—jiwa yang bersyukur kepada Allah, peduli terhadap sesama, serta bertanggung jawab terhadap masa depan.
Semoga inspirasi dari Sirukam Dairy Farm menjadi titik awal lahirnya Wisata Hutan OBES sebagai ikon baru Nagari Sikabu. Bersama Tapian Puti dan Main Stadion Sikabu, kawasan ini dapat berkembang menjadi destinasi wisata terpadu yang menggerakkan ekonomi rakyat, memperkuat ketahanan keluarga, melestarikan sejarah perjuangan, menjaga kelestarian alam, serta membangun peradaban nagari yang membanggakan.
Dari Sirukam kita belajar bahwa keberhasilan sebuah destinasi wisata tidak ditentukan oleh besarnya investasi semata, melainkan oleh kemampuan mengubah potensi-potensi lokal menjadi pengalaman yang utuh, bermakna, dan bernilai. Alam yang dikelola dengan ilmu, kreativitas, dan semangat gotong royong akan melahirkan kesejahteraan. Dari Hutan OBES kita berharap lahir masa depan baru bagi Nagari Sikabu: alamnya lestari, masyarakatnya mandiri, ekonominya tumbuh, sejarahnya tetap hidup, dan peradabannya terus berkembang sepanjang zaman.ds.05072026

