![]() |
| Zulnaidi |
Akar Pemersatu dari MITM
Benih persatuan ulama Sumatera Barat pertama kali disemai pada masa pendudukan Jepang melalui kedekatan emosional dan intelektual antara Buya Mansur Daud (M.D.) Datuk Palimo Kayo (representasi Kaum Muda/Reformis) dan Syekh Sulaiman Ar-Rasuli atau Inyiak Canduang (ulama sepuh pendiri PERTI/Kaum Tua). Meskipun berbeda haluan keagamaan, keduanya menjadi dwitunggal yang membidani lahirnya Majelis Islam Tinggi Minangkabau (MITM). Lembaga ini didirikan untuk menyelamatkan aset-aset umat dan madrasah dari pembubaran oleh tentara Jepang. Pengalaman mengelola MITM inilah yang membentuk mentalitas dan melahirkan para alumni/tokoh MITM yang terbiasa bekerja sama lintas golongan demi kemaslahatan bersama.
Setelah Indonesia merdeka, dinamika politik nasional berubah drastis. Pada tahun 1960, Partai Masyumi yang menjadi wadah politik utama umat Islam di Sumatera Barat dibubarkan oleh rezim Orde Lama. Tekanan berlanjut dengan meluasnya pengaruh PKI hingga meletusnya peristiwa G30S/PKI pada tahun 1965. Memasuki awal era Orde Baru, umat Islam di Ranah Minang berada dalam kondisi traumatis pasca-pergolakan daerah (PRRI) dan kehilangan kepemimpinan yang terintegrasi untuk membentengi akidah masyarakat dari pengaruh komunisme serta sekularisasi baru.
Konsensus di Masjid Jamik Birugo
Melihat kondisi umat yang terfragmentasi, para alumni dan tokoh eks-MITM bergerak mengambil inisiatif. Pada 16 hingga 27 Mei 1968, mereka menggelar Musyawarah Ulama Sumatera Barat yang bertempat di Masjid Jamik Birugo, Bukittinggi. Forum ini dipimpin langsung oleh Buya M.D. Datuk Palimo Kayo sebagai inisiator utama.
Musyawarah ini berhasil mencetak sejarah besar lewat kolaborasi historis antara Muhammadiyah (mewakili kelompok modernis) dan PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) (mewakili kelompok tradisionalis berbasis surau). Kedua ormas besar yang kerap berbeda pandangan ini sepakat menurunkan ego sektarian mereka. Tepat pada tanggal 27 Mei 1968, disepakati berdirinya Majelis Ulama Sumatera Barat dengan mendaulat Buya M.D. Datuk Palimo Kayo sebagai Ketua Pertama. Beliau menegaskan visi anti-sektariannya melalui prinsip: "Kita inginkan hanya satu, yaitu ulama Islam, bukan ulama golongan."
Menginspirasi Berdirinya MUI Pusat
Berkat kepemimpinan Buya Mansur yang merangkul semua pihak, Majelis Ulama di Sumatera Barat berjalan dengan sangat solid dan mandiri. Keberhasilan struktur ini memikat hati Buya Hamka saat bertamu ke kediaman Buya Mansur di Jambu Air, Bukittinggi pada tahun 1970. Buya Hamka terinspirasi oleh konsep wadah tunggal ulama ini dan membawa gagasannya ke tingkat nasional. Alhasil, 7 tahun setelah MUI Sumbar lahir, barulah pemerintah bersama para ulama mendirikan MUI Pusat di Jakarta pada tanggal 26 Juli 1975, dengan Buya Hamka sebagai Ketua Umum pertamanya.
Zulnaidi SH Bagindo Sailan
Kabid Polhubaga PD PERTI Sumbar 2025-2030

