![]() |
Oleh: Duski Samad
Pengasuh Majelis Profetik Indonesia@edisi15. 30042026.
Mencermati naik meroketnya minyak di dunia dan dampak global yang ditimbulkannya, tentu mengundang kecemasan bahwa tingkat kesejahteraan semangkin menjauh. Kemiskinan dan kesenjangan ekonomi terus menganga, apa jadi mimpi Indonesia emas 2045?
Cita-cita proklamasi Indonesia seperti dimuat dalam pembukaan UUD 1945 dan dipatrikan dalam Pancasila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia wujud nyatanya adalah sejahtera.
Sejahtera sering dibayangkan sebagai keadaan yang tenang, damai, dan berkecukupan. Namun sejarah mengajarkan, tidak semua bangsa mencapai kesejahteraan melalui jalan yang sunyi. Ada bangsa yang justru diuji melalui badai panjang—perang, tekanan, dan sanksi—namun tetap mampu berdiri. Iran adalah salah satu contohnya.
Di tengah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel, Iran tidak runtuh. Negara itu tetap berdiri, sistemnya berjalan, dan kekuasaannya bertahan. Padahal tekanan yang dihadapi tidak ringan: serangan militer, isolasi ekonomi, dan tekanan geopolitik yang terus-menerus. Dalam logika biasa, negara seperti ini seharusnya goyah. Namun kenyataannya tidak demikian.
Di sinilah kita perlu jujur melihat: Iran bertahan bukan semata karena kekuatan militer, tetapi karena daya tahan sistem yang dibangunnya.
Pertama, agama menjadi sumber energi ketahanan. Sejak Revolusi Iran, Iran membangun identitasnya di atas nilai ideologis yang kuat. Agama tidak hanya hadir dalam ruang ibadah, tetapi menjadi narasi kolektif yang menyatukan rakyat. Dalam kondisi perang, narasi ini berubah menjadi energi moral—membangkitkan semangat bertahan, bahkan berkorban. Inilah kekuatan yang tidak terlihat, tetapi sangat menentukan.
Namun pelajaran pentingnya: agama yang menjadi energi ketahanan harus tetap dijaga sebagai rahmat. Jika tidak, ia bisa berubah menjadi sekadar alat legitimasi konflik.
Kedua, Iran membangun ekonomi yang tahan banting. Puluhan tahun hidup dalam sanksi memaksa mereka mengembangkan kemandirian. Mereka tidak sepenuhnya bergantung pada sistem global, tetapi menciptakan jalur alternatif, memperkuat produksi dalam negeri, dan menyesuaikan diri dengan tekanan. Ini bukan ekonomi ideal, tetapi ekonomi yang mampu bertahan.
Di sini kita melihat satu prinsip penting:
ketergantungan melemahkan, kemandirian menguatkan.
Ketiga, Iran tidak melawan dengan cara yang sama seperti lawannya. Mereka menggunakan strategi asimetris—tidak menghadapi kekuatan besar secara frontal, tetapi mengelola konflik dengan cara yang memperpanjang daya tahan. Dalam perang modern, kemenangan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling kuat, tetapi oleh siapa yang paling mampu bertahan.
Keempat, kohesi sosial dan politik tetap terjaga. Tekanan dari luar justru sering kali memperkuat solidaritas di dalam. Rakyat mungkin menderita secara ekonomi, tetapi sistem kekuasaan tidak mudah retak. Ada jaringan sosial, militer, dan ideologis yang saling menguatkan.
Namun di sinilah kita harus bersikap adil dalam menilai. Bertahan tidak selalu berarti sejahtera.
Di balik ketahanan Iran, ada realitas yang tidak bisa diabaikan: ekonomi yang tertekan, inflasi yang tinggi masyarakat sipil yang menanggung beban berat.
Artinya, Iran berhasil menjaga eksistensi negara, tetapi belum sepenuhnya menghadirkan kesejahteraan yang merata bagi rakyatnya.
Dari sini, konsep “SEJAHTERA” yang kita gagas menjadi semakin jelas arah dan batasnya. Kita tidak hanya membutuhkan kemampuan untuk bertahan, tetapi juga kemampuan untuk menghadirkan keadilan sosial.
Agama memang penting sebagai ruh. Ia memberi arah, makna, dan daya tahan. Namun agama harus melahirkan keadilan, bukan sekadar legitimasi kekuasaan.
Sistem juga penting. Ia menjaga stabilitas dan keberlangsungan.
Namun sistem harus berpihak kepada rakyat, bukan sekadar mempertahankan diri.
Ekonomi mandiri adalah kunci kekuatan.
Namun kemandirian harus berujung pada kesejahteraan, bukan sekadar bertahan hidup.
Dan yang paling penting, keberpihakan kepada dhuafa harus menjadi ukuran utama. Jika rakyat kecil tetap menderita, maka ketahanan yang dibangun belum mencapai tujuan peradaban.
Maka pelajaran terbesar dari Iran bukanlah tentang bagaimana memenangkan perang, tetapi bagaimana memahami batas antara bertahan dan sejahtera.
Sebuah bangsa bisa kuat menghadapi tekanan, tetapi belum tentu mampu menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyatnya. Sebaliknya, bangsa yang benar-benar sejahtera adalah bangsa yang tidak hanya mampu bertahan dari luar, tetapi juga mampu menguatkan ke dalam—menjamin kehidupan yang layak, adil, dan bermartabat bagi setiap warganya.
Di sinilah konsep SEJAHTERA menemukan maknanya yang utuh:
agama sebagai ruh yang menuntun,
musyawarah sebagai sistem yang menyeimbangkan,
dan keberpihakan kepada dhuafa sebagai tujuan akhir.
Karena pada akhirnya, peradaban besar bukan hanya yang mampu bertahan dalam badai, tetapi yang mampu menghadirkan ketenangan setelah badai itu berlalu.ds

